Keripik Lebay ala Rini Lebay

Jadi camilan unik dan digemari, Keripik Lebay ala Rini menginspirasi siapa pun untuk memanfaatkan apa yang ada di sekitar.

Keripik Lebay ala Rini Lebay
Keripik Lebay. (Detik.com)

Inibaru.id - Siapa yang nggak suka ngemil? Apalagi jika camilannya berupa yang kriuk-kriuk seperti keripik. Acara bersantai sambil ngemil pun semakin asyik. Betul, nggak?

Nah, dari banyak merek keripik di pasaran, salah satunya adalah Keripik Lebay. Keripik yang terbuat dari talas itu berasal dari Desa Manyak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Memiliki varian rasa berbeda-beda yaitu orisinal, balado dan keju, perjuangan yang dilalui Keripik Lebay hingga mencapai puncak kesuksesan nggak mudah.

Dengan asumsi pendapatan kotor berkisar antara Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per minggu, Keripik Lebay memulai bisnisnya dengan penuh tantangan. Ya, semua usaha yang sukses pasti awalnya nggak mudah. Begitu pula dengan usaha yang digeluti Rini Suamiarsih, sosok di balik kesuksesan produk ini.

Perjuangan Rini memulai bisnis keripik dimulai saat penghasilan suami yang penjual bakso goreng keliling hanya berkisar 15 ribu-20 ribu per hari. Penghasilan tersebut jelas kurang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dia pun lalu memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis.

Mengutip Detik.com (22/4/2014), Rini awalnya sempat kebingungan untuk memulai usaha. Dia pernah berjualan keripik pisang, tapi pasarnya sudah didahului orang lain.

Baca juga:
Nurul Bikin Bisnis demi Banyak Orang
Menengok Kampung Keramik Balong di Blora

Mantan pengajar PAUD itu kemudian menemukan ide bisnisnya ketika melihat banyak sekali talas yang hanya diolah dengan direbus. Ide pun muncul untuk membuat keripik talas.

Rini lalu bereksperimen membuat keripik talas yang pas rasanya, meskipun saat itu dia hanya mencoba satu rasa yaitu asin. Setelah berhasil menemukan komposisi yang pas, dia lalu melakukan tes rasa kepada tetangganya untuk mendapat masukan mengenai rasanya. Nggak disangka, keripik olahannya mendapatkan respons bagus banget dan diminati tetangga.

Bersama sang suami yang bernama Dede, dia kemudian memberanikan diri untuk menjual produk olahannya. Mereka pun berkeliling dan menawarkan keripiknya hingga terjual 30-35 bungkus per hari. Sampai akhirnya mereka menitipkan ke beberapa warung yang berada di Cibeber. Jika dulu mereka menitipkan dagangannya di warung yang hanya berjumlah enam gerai, kini mereka memiliki pangsa pasar hingga 135 toko. Jumlah yang banyak sekali, bukan?

Ibu tiga orang anak itu lalu mencari merek dan label yang unik agar dapat menjangkau pasar yang lebih besar. Di tengah usahanya, tepatnya Februari 2014, Rini mendapatkan bantuan dari mahasiswa Prasetiya Mulya Business School. Sebanyak delapan mahasiswa membantu Rini mengembangkan usahanya. Mereka membantu dalam pemasaran, pembukuan, pembentukan kapasitas usaha, dan bimbingan bisnis lainnya.

Baca juga:
Teh Yogurt Itu Menguntungkan Banget
Dari Gulma Dia Memulai Usaha

Adapun alasan pemilihan label "Lebay" adalah karena warga memang menganggap sosok Rini yang lebay terutama di kalangan ibu-ibu PKK, entah apa alasannya.

Seiring dengan berkembangnya usahanya ini, Rini pun berharap agar Keripik Lebay miliknya bisa menjadi oleh-oleh khas Cianjur.

Nah, perjuangan Rini itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Selain itu, kita juga belajar bahwa ide bisnis bisa datang dari mana saja, termasuk dengan memaksimalkan potensi makanan tradisional. (ALE/SA)