Kerajinan Tenun Oglek Khas Yogyakarta dari Dusun Gamplong

Kerajinan Tenun Oglek Khas Yogyakarta dari Dusun Gamplong
Semakin sedikit anak muda Dusun Gamplong yang tertarik menjadi penenun. (Kompas.com)

Tenun Oglek merupakan salah satu kerajinan yang mesti kamu beli jika berkunjung ke Desa Wisata Gemplong, DI Yogyakarta. Kain tenun ini merupakan salah satu jenis termahal lantaran dibuat dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Selain itu, apa lagi keunikan tenun ini?

Inibaru.id – Kain tenun yang indah bakal membuat penampilan seseorang jadi makin menarik. Nah, kalau kamu sedang mencari kain semacam itu, Desa Wisata Gemplong punya beragam kain yang bisa jadi pilihanmu.

Berlokasi di Jalan Raya Wates, Dusun Gemplong, Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, desa wisata ini menjual kain tenun dengan harga yang nggak bikin kantong bolong, lo.

Menenun. (omahtenunku.blogspot)

O ya, untuk jenis tenunnya, Dusun Gamplong memproduksi kain tenun oglek. Lidi dan benang digunakan para pengrajin saat menenun kain dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Dalam sehari, seorang pengrajin bisa menghasilkan sepuluh meter kain. Kain sepanjang ini nggak bisa dicapai jika menggunakan akar wangi sebagai bahan. Stok akar wangi nggak banyak sehingga dalam sehari seorang pengrajin hanya bisa menghasilkan satu meter. Maka, jangan heran jika harga kain dengan bahan ini dijual mahal.

https://gudeg.net/cni-content/uploads/modules/gallery_direktori/20170221034434.jpeg

Tas produksi Dusun gomplang nggak kalah keren kan? (Gudeg)

Selain kain tenun, kamu bisa pula membeli kerajinan anyaman. Kerajinan ini terbuat dari eceng gondok, lidi kelapa, mendong, serta akar wangi.

Harga kerajinan tenun dan anyaman tersebut cukup bervariasi, Millens. Di sana, kamu bisa mendapatkannya dengan harga mulai Rp 50.000-700.000.

Kalau pengin mengetahui seindah apa kain tenun dan kerajinan warga Dusun Gamplong, datang saja ke galerinya. Kalau ada yang bikin kamu tertarik, jangan ragu untuk membelinya ya!

Kerajinan tenun di Dusun Gamplong. (Brilio)

Melihat keindahannya, rasanya sayang jika nggak ada yang meneruskan upaya melestarikan kerajinan-kerajinan ini. Sayang, para penenun oglek rata-rata sudah berusia lanjut, sementara anak mudanya nggak berminat bekerja sebagai penenun.

Dengan menjadi desa wisata, semoga keberadaan tenun oglek di Dusun Gamplong nggak punah dan makin banyak yang berminat melestarikannya ya! (IB15/E03)