Keelokan Payung Kantong Semen dari Kalibagor

Setelah mengalami pasang surut antara kejayaan dan kesuraman, sejak sekitar tiga tahun lalu produk kerajinan payung kertas semen Kalibagor kembali moncer. Keseriusan Pemkab Banyumas, Jawa Tengah dan Pemerintah Desa Kalibagor dalam mengembangkannya pantas diacungi jempol.

Keelokan Payung Kantong Semen dari Kalibagor
Payung kertas Kalibagor dalam beragam hiasan. (Banyumasnews.com)

Inibaru.id – Selain buah kelengkeng, Desa Kalibagor sejak lama menyandang julukan desa sentra kerajinan payung kertas dari limbah kantong semen. Popularitas payung buatan orang di desa yang berada di Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu sudah bergaung sejak Indonesia belum merdeka.

Tapi kisah kerajinan payung tersebut tak selalu indah, Sobat Millens. Ada saat-saat produksinya mengalami kesuraman.

Menurut Sumanto, salah seorang pengrajin seperti dikutip dari blog goodybagbsd.blogspot.com, payung kertas buatan orang Kalibagor sudah dikenal sejak 1940. Keterampilan itu diwariskan secara turun-temurun hingga mencapai puncak popularitas pada kurun 1970-an.

Laman resmi Kabupaten Banyumas banyumaskab.go.id (28/8/2015) menyebutkan, saat jaya produk kerajinan payung kertas ini dapat ditemui di seluruh Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga di Bali. Tapi sayang, serbuan payung impor berbahan parasut dan berangka besi yang mulai masuk pasaran menyurutkan produksi payung kertas secara drastis.

Para pengrajin tradisional yang dulu menggantungkan hidup dari payung kertas, telah banyak yang meninggalkan pekerjaannya. Kini hanya tersisa beberapa keluarga yang konsisten melestarikan produk kerajinan warisan itu.

Langkah Positif

Langkah positif lalu ditempuh Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan mengesahkan kerajinan payung kertas sebagai salah satu kerajinan asli Desa Kalibagor pada 2015. Pada tahun itu, Banyumas Ekstravaganza 2015  sebagai perayaan hari jadi kabupaten mengusung tema “Payung Kertas Kalibagor dalam Lambaian Batik Banyumasan” dengan mewajibkan peserta membawa payung kertas Kalibagor.

Upaya itu berbuah positif, Millens. Mulai muncul beberapa pengrajin lagi dan produksi membaik. Kejayaan payung kertas Kalibagor yang sempat redup beberapa puluh tahun dibangkitkan kembali, terutama oleh Pemerintah Desa Kalibagor.

Apa yang mereka lakukan? Pada tahun itu juga, payung Kalibagor diikutkan dalam  Festival Payung Indonesia di Solo. Ajang itu jadi momentum penting karena peserta festival dan para turis mancanegara kesengsem terhadap kreasi orang Kaligabor. Payung Kalibagor dipuji sebagai buah kreativitas pemanfaatan limbah. Keren, kan?

Yang lebih keren adalah orang Kalibagor ogah mengubah bahan dan pola pembuatan payung seperti yang telah mereka warisi puluhan tahun lamanya. Meskipun tetap menyediakan beragam pilihan bagi pemesan, pengrajin Kalibagor tetap mempertahankan keaslian yaitu menggunakan limbah kertas semen dan bambu sebagai gagang payung untuk pegangan. Variasi payungnya berupa payung tari, payung untuk hiasan hotel, dan payung untuk kematian.

Kini, meskipun masih didominiasi oleh payung berbahan kantong semen, mulai dikembangkan payung dari kain batik atau rajut. Ukurannya pun beragam, dari yang berdiameter 28 sentimeter, 60 sentimeter, hingga yang terbesar 85 sentimeter.

Menurut Sumanto, seperti dikutip dari bralink.id (11/12/2017), pasar luar Jawa telah bisa ditembus, misalnya Bengkulu dan Medan. Pesanan terbanyak datang dari Bandung, Semarang, Malang, serta wilayah Banyumas.

Oya, satu info tambahan yang penting, payung kertas Kalibagor pernah digunakan sebagai medium kampanye antihoaks oleh Kementerian Komknfo RI.

Pokoknya keren deh! Intinya, bila kamu mengembangkan keterampilan, apa pun itu, kamu perlu memikirkan kekhasannya sebagai nilai diferensialnya. Untuk soal ini, kamu bisa belajar dari cara orang Kalibagor dalam membuat payung-payung kertas nan elok. (IB02/E03)