Kampung Gerabah Kebumen yang Enggan Punah

Meskipun digerus oleh peralatan modern, Kampung Gerabah di Kebumen, Jawa Tengah, tetap eksis. Selain peralatan dapur pada umumnya, para pengrajin pun menawarkan sejumlah benda-benda hias yang berkualitas.

Kampung Gerabah Kebumen yang Enggan Punah
Pengeringan gerabah. (uudnhudana.wordpress.com)

Inibaru.id – Di rumahmu ada berapa banyak gerabah, Millens? Kalau kamu penasaran mengenai cara membuat gerabah, kamu bisa datang ke Desa Gebangsari, Kecamatan Klirong, Kebumen, Jawa Tengah, lo. Di desa ini, ada banyak sekali pengrajin gerabah.

Yup, masyarakat Desa Gebangsari memang mendedikasikan dirinya sebagai pengrajin gerabah secara turun-temurun. Bahkan, demi melestarikan tradisi dan meningkatkan taraf hidup warga, Kampung Gerabah pun dibentuk.

“Kampung Gerabah dibuat untuk membuat Desa Gebangsari menjadi desa wisata atau eduwisata bagi pelajar maupun masyarakat yang ingin belajar bagaimana cara membuat gerabah,” ujar Trio Suprapto, Kepala Desa Gebangsari.

Mengutip blog uudnhudana.wordpress.com, poduksi gerabah dimulai dengan membuat adonan tanah liat yang dicampur pasir laut. Campuran tersebut dibersihkan dari material pengganggu, contohnya kerikil. Lalu, campuran tersebut diletakkan di atas perabot, sebuah alat putar yang permukaannya sudah ditaburi pasir laut agar tidak lengket. Kemudian, adnan diputar dan dibentuk sedemikian rupa. Setelah selesai, gerabah dijemur.

Jika sudah agak kering, gerabah dirapikan kembali dengan mencembungkannya. Gerabah dipukul-pukul sembari ditahan bagian dalamnya. Setelah dicembungkan, permukaan gerabah dihaluskan denan bambu. Nah, kini pewarnaan sudah bisa dilakukan. Setelah itu, pengeringan pun dilakukan kembali sebelum melakukan proses pembakaran.

Para pengrajin ini menemui kendala saat musim hujan tiba. Ini dikarenakan proses pengeringan gerabah yang mengandalkan panas matahari tidak bisa dilakukan. Mereka pun mengandalkan tiupan angin di ruang terbuka.

“Kalau dikeringkan menggunakan angin bisa memakan waktu 3 minggu. Kalau dijemur di bawah matahari paling lama 1 minggu sebelum dibakar,” kata Kasmirah, seperti ditulis laman kebumen.sorot.co.

Kesulitan lain yang dihadapi para pengrajin adalah banyaknya warga yang beralih menggunakan peralatan modern anti pecah dari plastik atau logam. Akibatnya, permintaan pasar pun menurun drastis. Karena itu, inovasi pun dilakukan. Gerabah tanah liat yang dibuat nggak hanya berupa perkakas tradisional seperti gentong, cobek, kuali, atau kendi. Para pengrajin di sana juga memproduksi vas bunga, tempat pensil, hiasan dinding, dan barang-barang lain sesuai permintaan pembeli.

Harganya pun sangat bersahabat, lo. Mengutip kebumenkab.go.id (6/10/2017), peralatan dapur dijual dengan harga Rp 5.000 sampai Rp 35.000. Sementara, benda-benda hias yang juga merupakan karya seni dibanderol dengan harga Rp 100.000 hingga Rp 500.000.

Hingga kini, Kampung Gerabah banyak dikunjungi orang yang ingin mengobservasi atau mempraktikkan cara membuat gerabah. Kalau ingin melakukannya sekaligus berbelanja, kamu pun bisa datang ke sini, Millens. (AYU/SA)