Pamor Kampoeng Lampion hingga ke Negara Pizza

Jika dulu bentuk lampion hanya bulat dengan kerangka bambu, kini lampion memiliki bentuk yang makin beragam. Identik dengan perayaan Imlek, lampion hasil karya warga Kampoeng Lampion bahkan sudah merambah mancanegara.

Pamor Kampoeng Lampion hingga ke Negara Pizza
Pengrajin di Kampoeng Lampion. (kompas.com)

Inibaru.id – Menjadi salah satu hiasan yang membuat suasana menjadi lebih semarak, keberadaan lampion identik dengan perayan Imlek dan Capgome. Diperkirakan sudah ada di daratan Tiongkok sejak era Dinasti Xi Han, sekitar abad ke-3 masehi, lampion mulai diidentikkan sebagai simbol perayaan Tahun Baru dalam penanggalan Tionghoa pada masa Dinasti Ming.

Kalau dulu bentuk lampion konvensional adalah bulat dengan rangka bambu. Kini, seiring perkembangan zaman, bentuk lampion kian beragam. Ada yang berangka logam dan dapat difungsikan sebagai lampu meja, hingga lampion yang beraneka bentuk seperti bungai teratai yang kuncup hingga berbentuk aneka binatang.

Nah, meski berasal dari Tiongkok, tahukah Sobat Millens bahwa di Indonesia juga memiliki banyak pengrajin lampion? Salah satunya adalah pengrajin lampion dari Malang. Tepatnya di Jalan  Juanda Gang V, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Berada di belakang pasar barang bekas di Jalan Juanda, dari kampung yang mendapat julukan Kampoeng Lampion inilah tercipta berbagai lampion dengan berbagai ukuran, bentuk, dan warna.

Baca juga:
Melongok Sentra Pembuatan Gamelan di Sukoharjo
Kayu yang Diukir Alam Itu Jadi Kreasi Unik Kakak-Beradik dari Desa Wisata Kandri

Mengutip malangtimes.com (8/2/2018), setiap tahunnya terutama menjelang Imlek, para pengrajin lampion di sana selalu kebanjiran order. Itu seperti yang dialami Acmad Syamsudin, salah satu pengrajin. Jika pada hari-hari biasa dia hanya membuat sebanyak 40-50 lampion, menjelang Imlek pesanan yang diterima akan meningkat. Paling nggak dia memproduksi 60-75 lampion per hari atau naik sekitar 40 persen. Mulai meningkat sejak akhir Januari lalu, sudah ribuan lampion yang dibuat untuk memenuhi pesanan pembeli. Wah, banyak sekali ya.

Perlu kamu tahu, pesanan yang didapat para pengrajin di Kampoeng Lampion ini nggak hanya dari Malang saja, lo. Namun juga dari berbagai kota lain seperti Surabaya, Jakarta, Denpasar, Medan, Palembang hingga Kalimantan. Bahkan ada juga pesanan yang datang dari luar negeri seperti Hongkong, Belanda, Australia. Perancis, Inggris, dan Italia.

Ya, banyak diminati pembeli, tentu itu bukannya tanpa alasan. Pasalnya, hasil karya pengrajin dari Kampoeng Lampion memiliki kualitas yang bagus dengan harga miring. Nggak kalah dibandingkan lampion pabrikan impor asal Tiongkok. Kualitas dan kreativitas bentuk lampion menjadi keunggulan tersendiri bagi lampion yang dikerjakan tangan-tangan terampil dan professional itu. Selain itu, waktu pengerjaannya juga nggak pernah meleset.

Tapi adakah yang tahu sejak kapan Kampoeng Lampion berdiri?

Melansir viva.co.id (6/12/2014), Kampoeng Lampion terbentuk dari keahlian warga setempat membuat lampion. Keterampilan warga tersebut diperoleh turun-temurun dari pengrajin yang lebih awal singgah di Bali. Semuanya berawal pada 1997, ketika mereka memenuhi pesanan dari Bali. Setelah tragedi Bom Bali pada 2002, banyak perajin yang pulang ke Juanda karena permintaan yang melesu di Bali. Nah, seiring pulihnya pengunjung di Bali, banyak pemesan yang langsung datang ke Kampoeng Lampion. Mereka mulai kebanjiran pesanan dari luar kota hingga luar negeri.

Penasaran bagaimana proses membuat lampion?

Sebenarnya proses pembuatan lampion cukup sederhana. Pengrajin menyusun rangka lampion dari rotan dengan diameter sekitar tiga milimeter. Rotan yang lebih besar digunakan sebagai rangka utama pada lampion. Jika dibutuhkan, pengrajin juga menggunakan kawat baja pengganti rotan untuk lampion dengan bentuk yang berbeda.

Setelah terbentuk kerangka, badan lampion diisi kain khusus yang ditempel menggunakan lem kayu berwarna putih. Pengerjaan lampion berlangsung di kerangka khusus yang memudahkan lampion bisa diputar dan bentuknya tetap terjaga simetris.

Dibuat dengan kerangka dari rotan dan bahan dari kain khusus, sehingga lampion bisa tahan lama dan bisa dilipat. Lampion tersebut juga bisa disimpan saat momen Imlek selesai dan bisa digunakan tahun depannya lagi.

Baca juga:
Sarung Goyor Khas Tegal Menyarungi Warga Dunia
Hoki Pengrajin Barongsai jelang Imlek

Eh, tapi mereka nggak hanya menerima pesanan utuk Imlek saja kok. Kamu juga bisa memesan lampion untuk pesta pernikahan, dekorasi panggung hiburan, tempat wisata, hiasan Mall, kegiatan religius, menghias ruangan atau bahkan sekedar ingin menjadikan kamar pribadi kamu lebih menarik, meriah penuh dengan kilauan lampion yang beraneka warna dan bentuk.

Bagaimana harga lampion? Bervariasi. Satu lampion dihargai mulai Rp 30 ribu hingga yang termahal ada yang mencapai Rp 5 juta. Bergantung atas ukuran, bahan yang digunakan dan tingkat kesulitan membuatnya. Bagaimana, kamu berminat? (ALE/SA)