Jalan-Jalan ke Pusat Produksi Kerupuk Usek Kaliwungu yang Omzetnya Ratusan Juta, yuk!

Jalan-Jalan ke Pusat Produksi Kerupuk Usek Kaliwungu yang Omzetnya Ratusan Juta, yuk!
Salah satu kios di sekitar alun-alun Kaliwungu menjajakan kerupuk usek. (Inibaru.id/ Issahani)

Mungkin nggak banyak yang tahu kalau kerupuk usek berbagai merek yang dijajakan di toko oleh-oleh Kaliwungu itu, sebetulnya berasal dari satu dapur. Berikut jalan-jalan Inibaru.id ke UD. Krupuk Mashur yang jadi pemasok utama kerupuk-kerupuk itu.

Inibaru.id- Dua hal yang bakal kamu temui ketika berjalan-jalan ke Kaliwungu, Kendal adalah para santri dan kerupuk. Eits, jangan sepelekan oleh-oleh khas Kendal ini ya. Pasalnya berapa banyak pun kamu memakan kerupuk ini, kolesterolmu nggak bakal naik. Namanya kerupuk usek.

Yap, kerupuk di sini nggak digoreng dengan minyak melainkan dengan pasir, Millens. Meski nggak pakai minyak, rasa kerupuk ini gurih banget. Sensasi pasir-pasirnya itu juga nggak duanya. Ha ha

Alasan kenapa disebut kerupuk usek karena ketika digoreng dengan pasir akan memunculkan bunyi “usek-usek” di penggorengan. Selain disebut usek, ada juga lo yang menyebutnya dengan kerupuk goreng pasir atau kerupuk tayamum (karena pakai pasir layaknya orang bertayamum dengan debu). Hampir setiap toko oleh-oleh di Kaliwungu menjual kerupuk unik ini dalam berbagai jenama.

Tapi Millens tahu nggak kalau kerupuk usek yang dijajakan berasal dari pabrik yang sama?

Mashuri sedang memeriksa kerupuk-kerupuk yang sedang dijemur. Waktu penjemuran dilakukan antara pukul delapan pagi hingga pukul dua siang. (Inibaru.id/ Issahani)

Adalah UD. Kerupuk Mashur, pusatnya pembuatan kerupuk usek se-Kaliwungu. Pemiliknya, Mashuri, menyebut usaha tersebut telah berjalan selama 45 tahun. Dulu karyawannya berjumlah 40 orang, tapi demi efisiensi dia hanya menyisakan tujuh belas orang.

Dalam satu hari, pabrik menghabiskan 200-300 kg tepung tapioka. Proses pembuatannya juga nggak terlalu sulit. Tepung itu dimasak di atas perapian besar lalu adonan dipres menjadi silinder memanjang seperti usus. Adonan itu lantas dibentuk kemudian dijemur. Setelah setengah kering barulah kerupuk dibumbui dengan bumbu rahasia. Karena proses penjemuran sampai dua kali, usaha ini sangat bergantung pada cuaca.

“Kalau musim hujan, kita banyak libur. Lha wong kalau pagi mendung saya nggak berani nyuruh orang-orang kerja. Nanti kualitas kerupuknya nggak bagus dan malah mengecewakan,” kata Mashuri, Sabtu (21/9).

Karyawan sedang membentuk kerupuk di atas papan anyaman bambu. (Inibaru.id/ Issahani)

Rata-rata per hari pabrik bisa menghasilkan tiga kuintal kerupuk mentah. Di sore hari, para pedagang kerupuk se-Kaliwungu akan antre di pabrik sekaligus rumah Mashur ini untuk membeli kerupuk mentah. Nantinya kerupuk akan digoreng sendiri oleh para bakul dan diberi merek masing-masing.

“Bakul itu tinggal di tempat saya. Karena kalau mau bikin kerupuk itu harus punya lahan buat jemur. Halaman belakang saya yang buat jemur kerupuk itu sampai enam ratus meter,” tambahnya.

Karena konsistensi dan keseriusan menjalankan bisnis hingga puluhan tahun, nggak mengherankan kalau omzet Mashuri bisa ratusan juta per bulan.

Hmm.. menggiurkan sekali ya? Gimana tertarik jadi pengusaha juga, Millens? (Issahani/E05)