Bloodtanol, Bioetanol Kreasi Mahasiswa Undip yang Melaju ke Pimnas 2018

Tanaman pisang yang telah terkena penyakit darah biasanya nggak bisa lagi dikonsumsi. Namun, di tangan sejumlah mahasiswa Undip Semarang, tanaman pisang yang berpenyakit ini dapat diolah menjadi bioetanol. Hm, seperti apa ya?

Bloodtanol, Bioetanol Kreasi Mahasiswa Undip yang Melaju ke Pimnas 2018
Bloodtanol, hasil penelitian tanaman pisang yang diolah menjadi produk bioetanol. (Nanik Nurhana)

Inibaru.id – Kian menipisnya bahan bakar fosil membuat pengembangan energi alternatif terus digencarkan. Selain sebagai energi pengganti, energi alternatif yang dikembangkan juga umumnya lebih ramah lingkungan dan lebih murah. Salah satunya dengan mengembangkan bioetanol.

Bioetanol merupakan cairan biokimia dari proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat menggunakan bantuan mikroorganisme. Dalam bahasa sederhananya, etanol atau bioetanol bersifat laiknya alkohol ya, Millens. Bioetanol umumnya dikembangkan dari tanaman jagung, singkong, dan ubi.

Namun, sejumlah mahasiswa program studi Agroekoteknologi Universitas Diponegoro Semarang mengembangkan bioetanol dari "bahan" lain, yakni dari pisang. Penelitian yang diikutkan dalam ajang Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) ini membuktikan, kandungan karbohidrat dalam pisang cukup tinggi untuk membuat bioetanol.

Para mahasiswa Undip yang melakukan penelitian tanaman pisang yang dapat diolah menjadi bioetanol. (Nanik Nurhana)

Penelitian bermula ketika tim yang beranggotakan Nanik Nurhana, Dimas Panji Oktaviant, dan Aulia Fitriana Ardhyatul Jannah itu pengin memanfaatkan limbah pisang yang terjangkit penyakit sehingga buahnya nggak bisa lagi dikonsumsi. 

Nanik Nurhana mengatakan, limbah pisang yang terserang penyakit darah sejatinya tetap bisa dimanfaatkan menjadi bioetanol yang memiliki nilai jual. Oya, penyakit darah pada pisang disebabkan oleh blood disease bacterium (BDB). Bagi petani pisang, penyakit tersebut adalah "momok" yang kerap mengakibatkan gagal panen.

"Masalah penyakit darah pada pisang itu banyak ditemui di lingkungan rumah saya. Nah, kandungan karbohidrat yang cukup tinggi pada pisang lah yang membuat kami berpikir, limbah itu bisa dijadikan etanol,” jelas Nanik saat diwawancarai Inibaru.id belum lama ini.

Buah pisang yang terkena bakteri BDB memiliki bercak hitam di dalam daging buahnya sehingga nggak bisa dikonsumsi. (Nanik Nurhana)

Nanik dan kedua rekannya memanfaatkan bonggol dan buah pisang yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi. Bonggol dan buah itu kemudian diproses dengan cara ekstraksi, fermentasi, dan destilasi sehingga menghasilkan etanol. Etanol tersebut mereka beri nama "Bloodtanol".

“Bloodtanol ini berpotensi jadi bahan bakar. Namun, untuk mencapai tahap itu butuh sejumlah syarat, salah satunya uji nilai oktan. Kami belum melakukan uji nilai oktan itu,” ujar Nanik.

Kendati demikian, Bloodtanol, lanjutnya, sudah bisa langsung digunakan sebagai pelarut organik, disinfektan, dan sejumlah hal lain. Lebih penting lagi, buah pisang yang nggak bisa dikonsumsi karena berpenyakit itu bisa dimanfaatkan dan diolah lagi agar nggak hanya menjadi limbah.

Hasil penelitian Nanik dkk saat ini telah didanai Kemenristekdikti dan bisa melanjutkan programnya ke kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2018 di Yogyakarta.

“Harapan kami, nanti penelitian ini bisa bermanfaat untuk mengolah limbah buah pisang yang berpenyakit dan bisa diproduksi secara massal,” pungkas Nanik.

Wah, salute! Terus bersemangat ya, Mbak Nanik dan tim! Semoga semakin banyak penelitian bermanfaat lainnya yang dilakukan oleh para generasi muda. Apakah kamu selanjutnya, Millens? Ha-ha. (Putri Rachmawati/E03)