Hari Radio Nasional: Biarlah Musim Berganti, Radio Tetap di Hati

Hari Radio Nasional: Biarlah Musim Berganti, Radio Tetap di Hati
Kamu masih mendengar radio? (Inibaru.id/ Audrin F)

Selamat Hari Radio Nasional! Pengguna radio tentu nggak seperti dulu lagi. Semakin ramainya perangkat penunjang konsumsi informasi barangkali bikin kita seakan melupakannya. Lalu, bagaimana kabar radio sekarang ya?

Inibaru.id - Lahir pada era 1990-an, saya bukanlah pendengar radio yang fanatik, bahkan mungkin lebih memilih televisi ketimbang mendengarkan siaran audio. Namun, ada satu hal yang bikin saya punya romantisme dengan radio, yaitu ketika PSIS Semarang bertanding. Ha-ha.

Siaran langsung yang dilakukan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) sangat membantu ketika PSIS nggak disiarkan di televisi. Upaya mencari frekuensi yang pas biar nggak kemresek serta penuturan komentator yang atraktif dan memacu adrenalin, sungguh jadi kenangan yang manis.

Orang-orang di kampung bahkan sering berkumpul di depan radio, memasang telinga lebar-lebar, hanya untuk mendengarkan pertandingan PSIS yang disiarkan langsung. Momen terbaik, tentu saja ketika kami semua melonjak kegirangan saat komentator berteriak: Goooolll!

Benar-benar kenangan yang sungguh manis, yang sayangnya momen-momen seperti itu sudah nggak pernah lagi terulang.

RRI banyak membuat kenangan manis bagi masyarakat Indonesia. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
RRI banyak membuat kenangan manis bagi masyarakat Indonesia. (Inibaru.id/ Audrian F)

Banyaknya platform penyedia informasi membuat saya semakin jauh dari radio. Ada rasa rindu. Kerinduan itulah yang kemudian membawa saya menyambangi radio-radio di Kota Semarang untuk sekadar menyapa. Pada Hari Radio Nasional ini, bagaimana kabar mereka?

Pertama, saya menyambangi RRI Semarang dan bertemu Karno, salah seorang pegawai senior yang sudah bekerja sejak 1983. Obrolan hangat langsung tercipta saat romantisme dengan radio dan PSIS saya sampaikan kepadanya. Rupanya, Karno turut andil dalam siaran tersebut.

“Sebetulnya, sekarang juga masih menyiarkan,” ujar lelaki yang menjabat Kasi Komunikasi Publik itu di Kantor RRI Semarang, Rabu (9/9/2020).

Saya pikir siaran itu sudah absen, ternyata masih ada. Ehm, sepertinya saya harus memohon maaf karena saya sudah menyelingkuhi radio dengan layanan streaming. Ha-ha.

Nggak seperti perangkat digital, radio menggunakan frekuensi publik atau udara. (Inibaru.id/ Triyawanda Tirta Aditya)<br>
Nggak seperti perangkat digital, radio menggunakan frekuensi publik atau udara. (Inibaru.id/ Triyawanda Tirta Aditya)

Namun, Karno mafhum. Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan dan kalah bersaing juga harus diterima. Dia pun mengenang, membandingkan dekade 1980 hingga akhir 1990-an yang penuh hiruk pikuk di kantornya, yang bahkan sampai menolak sejumlah acara. Ini jauh berbeda dengan sekarang.

Selain perkembangan teknologi, kemunculan radio lain juga jadi masalah. Berbeda dengan media sosial yang menggunakan jaringan internet, radio siaran melalui frekuensi publik di udara. Semakin banyak radio, frekuensi juga kian sedikit.

“Dulu, frekuensi kami ada banyak. Sekarang hanya tiga,” terang Karno.

Kendati demikian, apa pun kendalanya, RRI nggak mau berpangku tangan menyikapi perubahan zaman. Sejumlah inovasi dan program tentu sudah dilakukan, seperti mengaktifkan berbagai platform medsos hingga membuat aplikasi yang bisa diunduh di Playstore. Acara-acara off-air juga terus digalakan.

Menurut Karno, mungkin kalau di kota, eksistensi radio perlahan meredup. Namun, kalau di kabupaten atau pedesaan, radio masih sangat berguna, khususnya bagi pimpinan daerah yang hendak menyampaikan sesuatu.

Kemajuan Zaman adalah Keniscayaan

Radio Idola juga membuat banyak inovasi untuk meraih pendengar. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Radio Idola juga membuat banyak inovasi untuk meraih pendengar. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sebelum ke RRI, saya sempat ke Radio Idola Semarang yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, bertemu Heri CS, sang Editor in Chief. Sejalan dengan Karno, Heri mengaku kemajuan zaman adalah keniscayaan.

Namun begiut, Heri menganggap kalau semua itu adalah tantangan. Sebab, kata dia, content is king! Ya, konten adalah raja. Saya sepakat.

“Kalau di podcast, konten yang mereka sajikan kan belum tentu relevan dan malah nggak berkonsep. Asal ngomong saja,” ungkapnya di Grha Spirit, Markas Radio Idola, Selasa (8/9).

Menurut Heri, konten yang disajikan radio selalu direbus dengan proses yang disiplin dan mendalam. Semua harus berkaitan erat dengan "what to say” dan “how to say”. Kalau di medsos atau siniar (podcast), sebagian besar belum paham benar tentang kode etik.

"Ini adalah bisnis kepercayaan," simpulnya, setelah melihat masih banyaknya klien yang membutuhkan siaran radionya.

Heri CS berpendapat kalau radio adalah bisnis kepercayaan. Oleh karenanya, untuk masalah kepercayaan radio perusahaannya berani diadu. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Heri CS berpendapat kalau radio adalah bisnis kepercayaan. Oleh karenanya, untuk masalah kepercayaan radio perusahaannya berani diadu. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dia pun kemudian berkisah, ada seorang penyandang disabilitas yang mengaku mendapat banyak pelajaran dari mendengarkan Radio Idola saban hari.

Sayangnya, memang, cara mengecek pendengar radio berbeda dengan platform digital. Butuh satu lembaga khusus yang analisisnya butuh biaya. Jadi, presentase pendengar hanya dapat diketahui sekali dalam setahun.

Maka dari itu, dengan terus meningkatkan program dan platform, serta berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menyajikan siaran yang berkualitas, Heri yakin radio masih akan jadi ruang publik untuk jangka waktu yang panjang.

“Sesuai tagline kami: 'Memandu dan Membantu',” serunya, lalu terkekeh.

Radio selalu punya segmen pendengar sendiri. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Radio selalu punya segmen pendengar sendiri. (Inibaru.id/ Audrian F)

Belum puas, saya pun bertemu Thriyani Rahmania, penyiar radio kampus Pro Alma FM. Setahun menggeluti dunia penyiaran, semula dia berpikir bisa cukup santai bekerja lantaran pendengar radio sudah jarang. Namun, rupanya dia keliru.

Thriyani justru menyeriusi profesi tersebut karena merasa masih banyak yang berinteraksi, mulai dari titip salam hingga rekues lagu. Para "penggemar" radionya bahkan datang dari luar Semarang.

“Radio punya segmen sendiri dan saya nggak setuju kalau radio bakal habis,” tegasnya.

Ah, iya, radio nggak bakal habis! Mendengar berbagai kabar dari para pekerja radio tersebut, sepertinya nggak berlebihan kalau saya masih mengucapkan Selamat Hari Radio Nasional untuk mereka yang enggan menyerah.

Yeah, sebagaimana dinyanyikan Duta Sheila On 7: Lewat radio, aku sampaikan, kerinduan yang lama terpendam. Terus mencari, biar musim berganti! Biarlah musim berganti, radio tetap di hati! Ha-ha. (Audrian F/E03)