Granita Elsara dan Toko Kelontong Beromzet Ratusan Juta

Granita Elsara dan Toko Kelontong Beromzet Ratusan Juta
Granita Elsara di depan toko kelontongnya yang beromzet ratusan juta. (MI/Dok Humas UGM)

Usianya baru 27 tahun, tapi Granita Elsara telah memiliki usaha toko kelontong beromzet ratusan juta.

Inibaru.id – Berjualan sebatang sabun atau rokok mungkin nggak terlihat seperti bisnis yang menggiurkan bagi anak muda. Namun, hal ini agaknya nggak berlaku untuk Granita Elsara. Alumnus FH UGM Yogyakarta itu justru meraih kesuksesan dari berjualan barang-barang tersebut.

Merintis usaha dengan mendirikan toko kelontong sejak masih berstatus mahasiswa pada September 2017, omzetnya kini telah mencapai ratusan juta rupiah dalam sebulan, sebagaimana dikutip dari Media Indonesia, Kamis (1/9/2022).

Elsa, sapaan akrabnya, adalah alumnus Fakultas Hukum (FH) UGM Yogyakarta yang baru saja diwisuda pada 25 Agustus lalu. Dia mengatakan, keputusannya mendirikan usaha toko kelontong didasari oleh rasa prihatin melihat harga-harga barang yang mahal di sebagian besar toko kelontong di sekitar tempat tinggalnya.

"Saya tinggal di Kaliurang , kawasan wisata. Barang kebutuhan pokok dan snack (di daerah kami) dibanderol relatif mahal karena selain lokasi wisata, tempatnya jauh dari kota, sehingga biaya distribusinya tinggi," ungkap dia.

Bungsu dari pasangan Woro Indarti dan Nugroho Kunwardi Antoro pun terbesit untuk mendirikan toko kelontong. Berbekal modal pinjaman dari orang tuanya sebesar Rp 32 juta, Elsa mendirikan Warung Bu Woro, toko kelontong yang dia buka di garasi rumahnya.

Awal mendirikan toko yang berlokasi di bilangan Pakem, Kabupaten Sleman itu, Elsa mengaku sempat mengalami kesulitan. Hari pertama dan kedua, banyak tetangga yang membeli dagangannya sebagai bentuk dukungan. Namun, ini nggak bertahan lama.

“Minggu-minggu awal, berat. Sempat nangis karena omzet stagnan Rp 300-400 ribu per hari. Bingung gimana balikin modal ke ortu,” kenangnya.

Namun, perempuan 27 tahun itu nggak patah arang. Dia mencoba melakukan diversifikasi barang sekaligus menambah kuantitas sehingga konsumen punya lebih banyak opsi. Nggak hanya barang kebutuhan pokok yang dijualnya, tapi juga produk tersier.

Angin sejuk berembus pada Desember 2017. Libur akhir tahun; kunjungan wisatawan di kawasan Kaliurang yang meningkat rupanya juga berimbas pada peningkatan signifikan omzet Warung Bu Woro. Di situlah Elsa melihat peluang pasar yang potensial.

Penggandeng Industri Pariwisata Sekitar

Elsa memiliki ide baru, yakni berusaha menjajaki kerja sama dengan pelaku industri parwisata di sekitar Kaliurang. Caranya, dengan memasukkan proposal ke hotel, rumah makan, dan toko penjual makanan khas setempat. Gayung bersambut, proposal pun direspons dengan baik.

“Mulailah menggandeng industri pariwisata. Saya pun tambah modal,” terang Elsa. “Pinjam ortu lagi, meski yang sebelumnya belum kebayar, sehingga total pinjaman jadi Rp 54  juta."

Saat itu, omzet penjualan Elsa terus naik, bahkan pernah mencapai titik tertinggi Rp 36 juta per hari. Januari 2018 dia mengaku sudah mampu melunasi semua pinjaman ke orang tua. Namun, tokonya kembali menghadapi tantangan saat Gunung Merapi mengalami erupsi pada Mei 2018.

Wisata di Kaliurang lesu, dia pun mencoba mencari pasar lain, salah satunya dengan mencoba menyuplai barang kebutuhan masyarakat di Pasar Pakem, Sleman. Usaha ini membuahkan hasil, membuat Elsa mulai merekrut karyawan untuk membantu operasional usaha.

Dengan empat karyawan, sehari-hari dia mampu meraih omzet sekitar Rp 380 juta per bulan dengan keuntungan bersih Rp 10-12 juta. Keren banget ya, Millens!

Untuk memulai usaha, kita memang harus jeli melihat pasar untuk tahu bisnis apa yang sebaiknya kita buka. Terus, jangan gampang menyerah. Benar begitu kan, Elsa? (Siti Khatijah/E03)