Gemblunk Eat: Restoran Cozy yang Pas untuk Berkesenian, Berkebudayaan, dan Bersosialisasi
Pelukis Andy Sueb menggambar telinga di panggung utama Gemblunk Eat Resto di Pentas Silangsaling. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Gemblunk Eat: Restoran Cozy yang Pas untuk Berkesenian, Berkebudayaan, dan Bersosialisasi

Gemblunk Eat nggak hanya menyajikan makanan dan minuman yang kaya rempah, Gemblunk lebih dari itu. Restoran yang beralamatkan di Jalan Banjaran no 95 Semarang ini membawa visi penting: berkesenian, berkebudayaan, bersosialisasi. Setiap bulan diadakan berbagai acara untuk mewujudkan visi itu dalam bentuk pentas, diskusi, laku seni, dan sebagainya.

Inibaru.id – Silangsaling menjadi tagline yang dipilih Gemblunk Eat dalam pentas rutinnya September lalu. Pentas ini dilandasi oleh filosofi Jawa mlaku karo lembehan (berjalan dengan ayunan tangan), suatu jargon guyub rukun sesama manusia tentang kebersamaan. Pentas tersebut mengundang para musikus: Raka Ardian, Saturn Return, Soegi, dan Tridathu.

“Silangsaling, silang untuk berkolaborasi, saling untuk memahami. Sebelum kita berkolaborasi, kita memahami dulu. Tabayun dulu satu sama lain, saling ngerti. Baru sampai ketemu hal yang klik terus akhirnya bikin karya,” kata Indra  Prasetiya, Marketing Communication.

Gemblunk Eat menjadi titik temu seniman dan budayawan. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Indra menjelaskan Gemblunk Eat dibuat nggak hanya sebagai tempat nongkrong atau tempat kumpul keluarga. Namun sebagai tempat persilangan bagi para seniman, musikus, dan budayawan bisa terhubung. 

“Konten visinya yang akhirnya terus kita push. Untuk menjadi tempat berkeseinan, berbudaya, dan bersosialisai. Jadi modal untuk teman-teman berkarya dengan baik. Mereka kerja atau mereka membuat sebuah gigs atau events di sini iringannya dengan kuliner yang kami sediakan,” kata Indra.

Gemblunk Eat mengkurasi pengisi acara dengan melihat karya yang telah seseorang itu ciptakan. Karya bisa dilihat dari portofolio, meski nggak menutup kemungkinan para pemula juga bisa ikut berpartisipasi. Biasanya terdiri dari individu atau komunitas seni, budaya, dan musik yang ada di Semarang.

Restoran yang pernah mendatangkan budayawan Sujiwo Tejo untuk bermain saksofon tersebut ke depan akan menggandeng lingkar budayawan dan musikus yang sudah berumur untuk aktif lagi dalam skena industri kreatif di Semarang. Mereka akan berkolaborasi dengan pemuda zaman sekarang. Asyik ya.

Tempat yang cozy untuk berbincang dan berkumpul, ramai pada malam hari. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Visi tersebut didukung oleh dekorasi tempat Gemblunk Eat yang berupa Joglo. Simbol budaya Jawa yang memiliki nilai-nilai luhur. Pengunjung yang datang angkanya berkisar 50-100 orang dengan jam yang beda-beda. Pengunjung meningkat ketika Gemblunk Eat mengadakan event berkonten seperti yang telah Indra jelaskan.

Prime time di lunch sama dinner yang jelas. Ada beberapa teman-teman komunitas kampus itu datangnya pas sore mau belajar kelompok di sini. Kebetulan kita ada paket-paketnya. Ada paket belajar kelompok, dan lain-lain,” kata Bang Jack, Marketing Manager.

Jadi, kamu sudah dapat memperkirakan kapan waktu yang tepat untuk berkunjung ke tempat ini ya, Millens. Kuy, ajak keluarga, sahabat, atau doi ke sini untuk menikmati atmosfer seni dan budaya ala Gemblunk. Mampir ya, Blunk! (Isma Swastiningrum/E05)