Geliat Industri Jamu di Era Modern

Geliat Industri Jamu di Era Modern
Makuta Jamu Cafe. (Inibaru.id/ Clara Ariski)

Karena makin rendahnya minat masyarakat untuk minum jamu, Seno Budiono, pemilik Makuta Jamu Cafe memutuskan untuk menyulap jamu jadi hidangan modern yang cocok untuk lidah anak muda seperti es krim dan kopi. Selain itu, berkat interior kafe yang indah dan nyaman, pelanggan jadi betah menikmati jamu bersama teman dan keluarga sambil mengobrol.

Inibaru.id – Sebagai generasi ke-2 pemilik perusahaan Nyonya Meneer, Seno Budiono ingin jamu tetap eksis di kalangan anak muda. Dia memutuskan untuk membangun tempat minum jamu yang lebih modern. Idenya tertuang dalam kafe jamu, Makuta. Di sini kamu bisa menikmati jamu yang diolah menjadi es krim, lo.

Interior cafe yang moderen dan klasik. (Inibaru.id/ Clara Ariski)

Karena mengusung konsep modern, cara mengolah jamu juga modern. Jika dahulu jamu dijemur di bawah sinar matahari, kini bahan cukup dioven. Selain lebih higenis, warna, rasa dan nutrisi jamu lebih terjaga. Menurutnya, rasa es krim bakal lebih enak lantaran nutrisi bebas dari paparan sinar UV. Jadi nggak heran jika 2-3 gram jamu sudah lebih poten dan manjur dari takaran jamu yang dulu. Wuih.

“Jamu nggak punya efek samping, asalkan diolah dengan benar dan dosisnya pas. Bisa tiap hari, anytime, tapi dibuat ringan saja seperti teh,” paparnya.

Selain mengelola kafe, Pak Seno juga fokus dalam produksi teh kemasan dan minyak rambut. Produk-produk ini didistribusikan ke toko-toko di Semarang dan sekitarnya.

Minyak rambut dari jamu untuk menjaga kesehatan dan kilau rambut. (Inibaru.id/ Clara Ariski)

Subur Namun Minim Tanaman Lokal

Mencari bahan baku jadi tantangan tersendiri bagi usaha ini. Meskipun Indonesia memiliki tanah yang subur, beberapa bahan baku sudah mulai sulit ditemukan.

“Paling mudah dicari kunyit dan jahe. Yang paling sulit adalah Meniran, karena tumbuh liar. Sayangnya, di Indonesia nggak ada budidaya. Rencananya ke depan adalah melakukan budidaya secara organik, terutama bahan-bahan yang langka. Kalau nggak dilakukan bisa hilang dan volumenya tidak cukup jika diolah dalam skala industri,” ujar Seno kepada Inibaru.id.

Untungnya sudah ada tanaman jamu yang dulunya liar, tapi mulai dibudidayakan seperti daun kelor. Tampaknya masyarakat sudah mulai sadar akan manfaat daun ini. Untuk mendapatkan bahan baku, Seno bekerjasama dengan para petani.

Gimana? Tertarik melestarikan budaya minum jamu dengan cara asyik? Datang saja ke Makuta Jamu Cafe. Eits, ajak teman-teman dan keluarga juga ya. (Clara Ariski/E05)

Makuta Jamu Cafe Semarang

Alamat        : Gang Pinggir No.38, Kranggan, Semarang Tengah, Kota Semarang

Jam Buka    : 10.00–22.00 WIB

Harga menu: Rp 7.000 s.d. Rp 42.000