Euforia Pacuan Merpati, dari Komunitas hingga Bisnis Tingkat Tinggi

Euforia Pacuan Merpati, dari Komunitas hingga Bisnis Tingkat Tinggi
Pacuan merpati kolong di Kota Semarang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Semarang merupakan salah satu kota dengan pehobi pacuan merpati yang cukup besar. Di pelbagai sudut, di mana ada tanah lapang, di situlah ada kolongan atau pacuan si burung dara. Dari euforia, mereka berkomunitas, hingga menghasilkan bisnis tingkat tinggi. 

Inibaru.id - Sekilas, hobi memelihara dan bermain burung merpati tampak sepele. Hampir saban sore saya melihat mereka yang hilir mudik menerbangkan si burung dara atau berkumpul di antara empat tiang pancang yang diberi bendera pada bagian atasnya atau kerap disebut "kolongan".

Yap, semula saya melihatnya biasa saja. Namun, mengamati mereka lebih detail, saya sedikit tahu, ini bukan sekadar memuaskan hobi. Mereka tampak berlatih untuk sebuah perlombaan. Bahkan, laiknya sebuah tim, ada kelompok-kelompok dengan jaket yang sama.

Beberapa meter dari kolongan, teriakan-teriakan mereka begitu lantang memanggil burung-burung "gacoan" mereka. Di antara mereka juga ada para joki yang membawa tas berbentuk kandang burung persegi. Merekalah yang bertugas melepas burung dari radius beberapa meter dari kolongan.

Euforia permainan burung merpati rupanya telah jauh melampaui "sekadar hobi". Ini sudah seperti cabang olahraga saja. Mereka punya komunitas, kompetisi, bahkan menjadi ladang bisnis.

Punya tim masing-masing. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Punya tim masing-masing. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dwi Cahyo Setyo Nugroho, salah seorang pehobi merpati, sempat saya ajak ngobrol panjang lebar terkait hal ini.

Bertemu di sebuah kolongan yang berlokasi di kawasan Sigar Bencah, Tembalang, Kota Semarang, anggota tim merpati Super Hero itu mengatakan, pacuan merpati dibagi dua, yakni balap dan kolongan. Kalau kolongan, tentu seperti yang biasa saya temui tadi. Sementara, balap, biasanya diadakan di tanah yang lapang dan luas.

“Yang animonya tinggi (di Semarang) perlombaan kolong,” ujar Nugroho.

Di kawasan perkotaan seperti Kota Lunpia, agak sulit mencari tanah lapang nan luas. Inilah yang membuat perlombaan burung dara kolong lebih populer. Yap, untuk membuat kolongan, kita cukup menyediakan sepetak tanah yang nggak terlalu luas.

Sepengetahuan Nugroho, perlombaan merpati kolong hadir di Semarang pada 2005. Namun, kompetisi adu merpati itu baru terlihat riuh pada 2008. Di daerah lain di Pantura Jawa Tengah, konon perlombaan ini sudah eksis lebih lama sebelum 2005.

Hingga kini, Nugroho mengaku, belum ada badan resmi untuk  kompetisi tersebut. Namun, tiap daerah memiliki peguyuban yang terstuktur dan kuat.

Menggandeng Sponsor

Punya kandang penangkaran untuk merawat merpati-merpati pacuan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Punya kandang penangkaran untuk merawat merpati-merpati pacuan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Di Kota Semarang, tim pacuan merpati cukup menjamur, mulai dari yang kecil hingga tim-tim besar yang sudah menggandeng sponsor. Tiap tim umumnya telah memiliki kandang penangkaran sendiri untuk merawat merpati-merpati pacuan mereka.

Aturan permainan lomba merpati kolong cukup kompleks. Mudahnya, merpati diterbangkan dengan jarak tertentu, tergantung cabang yang diperlombakan, misal 900 meter. Setelah terbang, merpati yang masuk dari atas kolongan dan jatuh tepat di tangan si pemilik akan mendapat nilai yang tertinggi.

Bedanya dengan merpati balap? Ehm, kalau ini nggak perlu dijelaskan deh. Laiknya pacuan kuda atau anjing, merpati tercepat adalah yang menang.

Setiap merpati yang akan diikutkan lomba biasanya diberi nama atau julukan laiknya atlet-atlet PON atau Olimpiade. Bahkan, nama-nama merpati juara bakal terus dipakai apabila punya reputasi bagus dan dibeli seseorang.

“Mungkin karena ada kepercayaan khusus bahwa nama bisa bawa hoki. Jadi, (nama merpati juara) nggak diubah,” terang Nugroho.

Bisnis Besar

Merpati balap. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Merpati balap. (Inibaru.id/ Audrian F)

Kendati sekilas terlihat sekadar hobi, perputaran uang dalam kompetisi merpati rupanya cukup besar, lo. Nugroho membeberkan, ada nilai bisnis yang menggiurkan dalam perlombaan merpati tersebut. Contoh sederhana, pengelola sebuah kolongan bisa memungut biaya sewa jika mau. 

Penyewaan kolongan itu baru contoh kecil. Yang lebih besar, tentu saja dari segi penyelenggaran perlombaan. Nggak hanya penyelenggara, peserta juga bisa mendapatkan penghasilan yang cukup mencengangkan kalau ikut lomba.

Hampir semua kompetisi kolongan merpati mempertaruhkan hadiah yang lumayan menggiurkan, bisa berupa motor atau mobil.

“Kalau pun duit, bisa mencapai jutaan rupiah bahkan sampai 1M (satu miliar rupiah)!” ungkap Nugroho.

Hasil yang besar itu tentu saja dibarengi dengan proses yang rumit. Untuk menjadi juara memang nggak mudah. Burung merpati yang dijadikan "atlet" juga nggak sembarangan, karena harganya bisa mencapai Rp 2 juta sampai Rp 10 juta.

 Merpati adalah Investasi

Merawat merpati pacuan bukanlah hal mudah. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Merawat merpati pacuan bukanlah hal mudah. (Inibaru.id/ Audrian F)

Merpati yang punya reputasi bagus akan memiliki nilai jual yang tinggi. Sebab, burung tersebut dipercaya juga akan menurunkan gen juara ke anak-anaknya. Maka, merpati seperti ini adalah investasi besar bagi para pehobinya.

Nah, hal ini pulalah yang membuat Nugroho juga melakukan penangkaran merpati, selain mengikuti perlombaan. Namun, mengembangbiakkan bukanlah perkara mudah. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang ini mengaku merogoh kocek yang nggak sedikit.

Biaya yang dibutuhkan itu bakal kian membengkak kalau mau menjadikan merpati tersebut sebagai atlet yang siap ikut kompetisi.

Pengeluaran itu sepadan lantaran harga jual merpatinya tergolong cukup tinggi. Nugroho mengaku, merpatinya paling murah dibanderol Rp 1,5 juta. Tergantung usia. Sementara, untuk merpati yang sudah pernah jadi juara, harganya bisa sampai kisaran Rp 10 juta.

“Saya ini tergolong peternak kecil. Kalau besar, bisa dibayangkan berapa duit yang digelontorkan?” ungkap Nugroho, yang juga mengatakan bahwa para pemain di perlombaan burung dara umumnya didominasi para bos besar.

Dia menambahkan, pada event-event besar, jarang ada orang kelas menengah ke bawah yang ikut kompetisi. Menurutnya, para bos itulah yang berada di garis terdepan.

“Jadi, jangan salah! Meski terlihat cuma main burung gini, yang datang selalu mobil-mobil mewah!” pungkasnya sembari memasukkan merpati kesayangannya dalam kandang.

Dalam hati, saya tersenyum kecut. Saya ingat beberapa tropi yang terpajang di rumah. Merpati nggak butuh piala, tapi keturunannya telah terjamin hidupnya cuma karena ia pernah menang lomba! Sementara, saya? Ha-ha. (Audrian F/E03)