Desa Burung Hantu dan Para Petani yang Mengembalikan 'Mata' Rantai Makanan

Desa Burung Hantu dan Para Petani yang Mengembalikan 'Mata' Rantai Makanan
Ilustrasi: Sebuah desa di Kabupaten Demak mendapat julukan "Desa Burung Hantu" karena mampu hidup berdampingan dengan burung predator tersebut. (Pixabay/Pexels)

Di Desa Burung Hantu, warga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani sengaja hidup berdampingan dengan para burung predator itu untuk mengembalikan 'mata' rantai makanan yang telah lama hilang.

Inibaru.id – Soren adalah seekor burung hantu, anak dari Noctus dan Marella. Bersama kakaknya, Kludd, dan adiknya, Eglantine, ia dirawat ular berwarna ungu bernama Plithiver di sebuah pohon besar di Hutan Tyto.

Kisah tentang Soren yang pada akhirnya menjadi Penjaga Ga'Hoole itu ada dalam Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole (2010), film animasi besutan Warner Bros. Dalam kehidupan nyata, cerita tentang para burung hantu penjaga juga ada, tentu saja dengan tujuan berbeda. Jauh berbeda!

Adalah Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, tempat para burung hantu tersebut tinggal. Saking banyaknya burung nokturnal tersebut, desa ini bahkan dijuluki sebagai desa burung hantu sejak bertahun-tahun lalu.

Burung hantu jadi solusi warga desa untuk membasmi hama tikus di pertanian. (Flickr/

Kevin Jones)
Burung hantu jadi solusi warga desa untuk membasmi hama tikus di pertanian. (Flickr/ Kevin Jones)

Warga setempat sengaja membangun "rumah" bagi para burung karnivora itu, berbentuk rumah panggung dengan tiang yang tinggi. Rumah-rumahan itu kemudian diletakkan di dekat permukiman penduduk atau di tengah sawah.

Para burung hantu kemudian dibiarkan tumbuh dan berkembang biak di tempat itu. Tujuannya, agar mereka memburu tikus, hama yang kerap menjadi ancaman penduduk setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Selama puluhan tahun, warga Desa Tlogoweru memang punya masalah dengan tikus. Pelbagai cara telah dilakukan, mulai dari memasang perangkap hingga gopyokan. Namun, semuanya sia-sia. Hasil panen nggak pernah mencukupi hidup sehari-hari.

Pada 2010, seorang warga melihat bangkai tikus di atap puskesmas yang kemudian diketahui adalah sisa santapan burung hantu. Nah, dari situlah warga mencari cara agar binatang liar itu mau "tinggal" di desanya. Selain via internet, mereka juga mengunjungi pengelolaan burung hantu di Ngawi, Jawa Timur.

“(Dari Ngawi), kami kembangkan di sini. Hasilnya memang nggak langsung terlihat, tapi populasi tikus menurun drastis,” ucap Ketua Kelompok Tani Mintorogo Desa Tlogoweru Supardi, pada 2017 lalu.

Rumah burung hantu di Tlogoweru, Guntur, Demak. (Sochehsatriabangsa.wordpress)
Rumah burung hantu di Tlogoweru, Guntur, Demak. (Sochehsatriabangsa.wordpress)

Awalnya, burung-burung hantu ini dirawat di penangkaran dekat rumah warga. Setelah itu, burung dikenalkan dengan rumah-rumah khusus yang dipasang tinggi di tengah sawah. Burung-burung ini kemudian dilepas agar bisa berburu sebagaimana predator pada umumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, para petani nggak lagi dipusingkan dengan hama tikus. Mereka pun bahagia melihat hasil panen yang terus melimpah. Bahkan, nggak sedikit kelompok tani dari luar negeri yang sengaja datang ke desa tersebut untuk belajar dari mereka.

Wah, keren ya warga desa yang bisa berdampingan dengan para burung hantu ini. Alam sejatinya selalu berhasil menyeimbangkan diri dengan membuat rantai makanan. Sayang, kita kerap serakah dan justru merusak rantai makanan. (Det/IB09/E03)