Para Pengusaha yang Coba Peruntungan dari Dawet Lele

Dawet atau cendol nggak melulu dibuat dengan bahan tepung hunkwe. Di tangan orang-orang kreatif ini, dawet juga dapat dibuat dari bahan ikan lele. Wah, seperti apa ya?

Para Pengusaha yang Coba Peruntungan dari Dawet Lele
Es dawet ayu atau cendol. (Ramesia.com)

Inibaru.id – Ikan lele nggak hanya bisa diolah menjadi lauk pendamping nasi seperti pecel lele, pecak lele, atau abon lele. Di Banjarnegara, Jawa Tengah, ikan yang juga biasa disebut cat fish itu rupanya juga bisa diolah menjadi minuman menyegarkan di tangan Fedwi Anggi Indrayani. Dia mengolah ikan lele menjadi dawet ayu atau cendol.

FYI, dawet ayu merupakan minuman tradisional yang berasal dari Banjarnegara. Namun, tidak untuk "dawet ayu lele". Anggi, sapaan akrab Fedwi Anggi Indrayani, adalah sosok kreator dawet tersebut. Gadis berjilbab itu telah membuat dawet dari daging lele sekitar 2013 lalu.

Kendati berbahan ikan lele yang umumnya beraroma anyir, Anggi menjanjikan bahwa dawet ayu buatannya nggak berbau demikian. Seperti ditulis Detik.com (25/3/2013), Anggi bahkan sempat menjanjikan dawet gratis plus uang sebesar Rp 100 ribu bagi siapapun yang merasakan ada bau anyir pada dawet lele buatannya.

Soal kualitas, dawet lele Anggi nggak perlu diragukan lagi. Setelah puluhan kali melakukan eksperimen, Anggi pun akhirnya menemukan "resep spesial" untuk membuat dawet dari ikan lele.

Dawet Ayu Da'Lele (idahceris.wordpress.com)

Bentuk dari dawet yang diberi nama Dawet Ayu Da’Lele itu nggak jauh berbeda dengan dawet ayu pada umumnya. Cendolnya pun diberi warna hijau laiknya dawet ayu lain. Warna hijau itu didapat dari perpaduan daun pandan dan suji. Yang membedakan hanyalah bahan utamanya, yakni lele.

Ide membuat dawet ikan lele mucul ketika alumnus Institut Teknologi Bogor (IPB) ini merasa prihatin atas angka konsumsi ikan yang begitu rendah di Indonesia. Padahal, menurut dia, ikan sangatlah baik untuk kesehatan. Sebagai negara maritim, hal itu adalah sebuah ironi baginya.

"Rata-rata orang Indonesia mengonsumsi ikan hanya sembilan kilogram per tahun. Kemudian saya melihat kepopuleran dawet ayu, maka saya coba mengolah ikan menjadi dawet," kata perempuan asal Desa Sered RT 03 RW 02, Kecamatan Madukara, Banjarnegara itu.

Nggak Anyir

Anggi menuturkan, ikan lele yang akan dijadikan dawet harus diolah dengan tepat agar nggak bau anyir. Kuncinya, daging ikan harus di-fillet dengan sangat hati-hati agar pembuluh-pembuluh di perut lele nggak pecah. Selanjutnya, fillet lele dikukus dan dicampur dengan adonan hunkwe, air daun pandan, dan garam. Campuran ini dimasak sambil diaduk hingga mengental, Millens.

Setelah mengental, dawet dicetak menggunakan cetakan dawet. Dawet Ayu Da’Lele pun dihidangkan dengan campuran santan dan sirup gula merah. Produk tersebut banyak dijual di sekolah-sekolah dan selalu laris dibeli anak-anak. Hm, keren!

Anggi bukanlah satu-satunya pembuat dawet ayu lele. Salah seorang pengusaha yang juga mengembangkan dawet ayu lele adalah Junaedi. Semula, Junaedi adalah seorang pengusaha ikan lele. Dia merasa tertantang untuk mengolah daging lele agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi, hingga menemukan ide membuat dawet ayu lele yang dinamainya Azzis Dawet Lele.

Sama halnya dengan Anggi, lelaki asal Malang yang telah memiliki 10 outlet tersebut juga menjamin dawet lelenya nggak akan berbau anyir ikan lele.

Junaidi dengan Dawet Lele buatannya. (Aremamedia.com)

Gimana Millens? Mau mencicip dawet lele? (IB06/E05)