Bukan Semata Nilai Rupiah, 'Resik Becik' Tukar Sampah untuk Kebaikan

Bukan Semata Nilai Rupiah, 'Resik Becik' Tukar Sampah untuk Kebaikan
Ika Yudha dan tas alat tulis buatannya yang terbuat dari plastik bekas. (Inibaru.id/ Bayu N)

Saat mendirikan Bank Sampah 'Resik Becik', Ika Yudha nggak berharap warga sekitar hanya mengejar nilai rupiah, tapi menekankan bahwa kegiatan tukar sampah adalah untuk kebaikan bersama. 

Inibaru.id - Barang nggak terpakai seperti koran bekas, kardus, hingga jelantah yang ditukarkan ke Bank Sampah Resik Becik (BSRB) bisa punya nilai rupiah. Namun, empunya bank sampah, Ika Yudha, enggan menyebutnya sebagai transaksi jual-beli, karena dia lebih menginginkan para warga melakukannya demi kebaikan, bukan uang.

Ika, demikian perempuan berhijab ini biasa disapa, sejak awal memang berharap bank sampah yang berlokasi nggak jauh dari pusat Kota Semarang itu bisa menjadi wadah untuk menampung barang bekas atau sampah plastik nggak terpakai yang bakal berdampak buruk kalau dibuang sembarangan.

“Saya prihatin karena kondisi lingkungan sekitar tempat tinggal yang banyak sampah. Latar belakang (pendidikan) saya kesehatan masyarakat, jadi makin tergugahlah untuk membuat suatu gerakan,” terang alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang itu, belum lama ini.

Jadi, bisa dipastikan bahwa tujuan utama Ika bukanlah semata keuntungan, tapi lingkungan yang lebih baik. Berdiri pada 15 Januari 2012, bertahun-tahun perempuan ramah ini mencoba membulatkan niat, harapan, dan kerja keras untuk mengedukasi warga bahwa sampah harus diolah, bukan dibuang begitu saja.

"Harapan kami, masyarakat melek kebersihan dan kesehatan lingkungan dengan menyortir sampah rumah tangga mereka," terang Ika.

Pengumpul an Pengrajin

Tampak depan halaman rumah Ika yang dipenuhi karung berisi sampah dan barang bekas. (Inibaru.id/ Bayu N)
Tampak depan halaman rumah Ika yang dipenuhi karung berisi sampah dan barang bekas. (Inibaru.id/ Bayu N)

Sampah warga yang dikumpulkan ke BSRB biasanya akan langsung disortir, lalu ditampung di rumah Ika. Setelahnya, sampah yang sudah dikelompok-kelompokkan itu dijual kembali ke pengepul. Barang-barang  yang dikumpulkan di antaranya kertas, botol plastik, minyak jelantah, dan ponsel bekas. 

Selain dilempar ke pengepul, Ika juga membuat pelbagai kerajinan tangan dari sampah tersebut. Dia nggak melakukannya sendiri. Untuk mengubah barang bekas menjadi berbagai pernak-pernik seperti kotak pensil, tas selempang, hingga kantong belanja, dia memberdayakan warga sekitar.

Ika juga menggandeng para pengrajin tas di sekitar rumahnya untuk hasil kerajinan yang nggak kaleng-kaleng. Dengan begini, tas daur ulang pun tetap memiliki nilai jual yang baik. Hal tersebut otomatis juga akan berimbas baik pada perputaran ekonomi BSRB dan warga sekitar.

“Kalau misal lagi ada (banyak) pesanan, biasanya saya langsung mengajak pengrajin sekitar untuk bikin (pesanan kerajinan),” akunya kepada Inibaru.id.

Ratusan Kilogram Sampah Per Bulan

Harga dan daftar barang yang bisa ditukar di BSRB. Daftar tersebut tertera dengan jelas di depan rumah Ika. (Inibaru.id/ Bayu N)
Harga dan daftar barang yang bisa ditukar di BSRB. Daftar tersebut tertera dengan jelas di depan rumah Ika. (Inibaru.id/ Bayu N)

Sampah atau barang bekas yang bisa ditukarkan ke RSRB cukup beragam. Harganya pun setali tiga uang. Ika yang membelinya dalam hitungan per kilogram mengaku sengaja memasang daftar harga di depan rumahnya agar warga bisa melihat sampah apa yang memungkinkan dibarter di rumah mereka.

Sebelum pandemi Covid-19, Ika mengungkapkan, BSRB mampu menampung hingga ratusan kilogram barang bekas berbagai jenis saban bulannya. Barang-barang tersebut kerap kali memenuhi sebagian besar halaman depan rumahnya, yang sekaligus menjadi base camp BSRB, di Jalan Cokrokembang No 11, Krobokan, Semarang Barat.

Sedari awal mendirikan BSRB, Ika memang mengaku mengalami kendala terkait tempat penampungan sampah. Dia yang hanya memiliki sepetak rumah untuk mewujudkan pendirian UMKM itu pun kemudian menjadikan halaman rumahnya sebagai penampungan.

Kendati hal ini berdampak pada menumpuknya barang bekas di rumahnya, Ika enggan mengeluh. Dia sudah memutuskannya sendiri, jadi harus tetap menjalankannya tanpa berpikir untuk menyerah. Alhasil bisnis bank sampah pun berjalan hingga hampir menginjak usia satu dekade.

Babak Belur Dibekap Pandemi

Sebelum pandemi, BSRB bisa menerima hingga 500 kilogram barang bekas dalam sebulan. (Inibaru.id/ Bayu N)
Sebelum pandemi, BSRB bisa menerima hingga 500 kilogram barang bekas dalam sebulan. (Inibaru.id/ Bayu N)

Sebelum pandemi, menjumpai sekitar 500-an kilogram barang bekas di halaman rumah Ika adalah pemandangan yang lazim. Orang-orang datang silih berganti memasok barang bekas. Namun, wabah Covid-19 mengubah peruntungan perempuan yang gemar mengenakan baju bermotif batik tersebut.

Awal pandemi, Ika mengatakan pasokan sampah di BSRB sempat turun drastis. Bahkan, dia mengaku sempat berada di titik nggak mendapatkan omzet sama sekali. Namun, dia pun bereaksi cepat dengan membuat sejumlah program baru dan menggandeng beberapa pihak untuk berkolaborasi.

Sampai kapan pun, Ika mengaku akan bertahan sembari berikhtiar. Tekadnya sudah bulat, yakni menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan tempat tinggal mereka. Dia nggak peduli harus tinggal di rumah penuh tumpukan barang bekas atau babak belur dibekap pandemi.

“Yang penting, masyarakat bisa melihat nilai kebaikan dari bank sampah ini!” tandasnya.

Sepakat banget! Hidup cuma sekali, berbuat baiklah berkali-kali hingga orang hanya melihat kebaikan hingga kamu meninggalkan dunia ini suatu hari nanti. Begitu kali ya, Millens! (Bayu N/E03)