Bikin Bangga, Kerajinan Bambu asal Klaten Ini Sampai di Negeri Ratu Elizabeth

From local to international. Seperti itulah perjalanan bisnis kerajinan bambu ‘Wahyu Handycraft’ Klaten yang bisa tembus pasar Inggris. Salut!

Bikin Bangga, Kerajinan Bambu asal Klaten Ini Sampai di Negeri Ratu Elizabeth
Kerajinan bambu asal Klaten yang menembus pasar internasional. (Timlo.net)

Inibaru.id - Kreativitas anak negeri memang membanggakan. Di bengkel handycraft milik Daryono (55) yang berada di Jalan Raya Jogja-Solo, tepatnya di Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten ini, beragam kerajinan tangan yang berbahan dasar akar bambu ini diciptakan.

Melansir dari merdeka.com (15/12/2016), usaha yang diberi nama “Wahyu Handycraft” ini sudah ditekuni sejak 2002. Berdasar cerita Daryono, usaha tersebut berawal ketika dirinya membuat kursi dan meja dari bambu. Namun, bambu-bambu tersebut masih terdapat limbah . Dia kemudian memanfaatkan limbah bambu itu menjadi kerajinan yang bernilai jual.

Akar Bambu Pilihan

Akar bambu yang digunakan juga nggak sembarang, lo. Daryono menggunakan bahan dari akar bambu dari jenis bambu Ori. Alasannya, serat bambu Ori memiliki keunggulan yang lebih kuat dan tidak mudah dimakan rengat.

Bersama anak dan ketiga pegawainya, Daryono membuat beragam jenis kerajinan yakni kentongan, patung babi, kuda, dan yang paling sering dipesan adalah patung berbentuk bebek. Yang membanggakan, patung buatan Daryono ini sampai pasar internasional, Millens.

Produk patung bebek yang sering diekspor ke Inggris. (Cronyos.com)

“Patung bebek buatan saya ini diekspor ke Inggris. Dengan dilabeli 'made in Indonesia,' sebuah perusahaan di Semarang memesan 3 ribu bebek yang harga per bijinya sekitar Rp 17 ribu, untuk dikirim ke sana (Inggris,red),” jelasnya.

Meski begitu, pesanan untuk dikirim ke Inggris tersebut masih dalam kondisi polos tanpa hiasan warna. "Memang kami juga bisa membuat bentuk patung lainnya, tergantung pesanan. Tapi untuk pesanan ke Inggris ini bentuknya polos setengah jadi, tanpa diwarnai. Ini pasarnya jelas dan perusahaan di Semarang itu sudah jadi langganan bertahun-tahun," tambahnya.

Untuk biaya produksinya, dalam sekali memesan bahan baku, Daryono bisa menghabiskan uang hingga sekitar Rp14 juta dengan harga satu akar sekitar Rp5 ribu. Akar bambu itu didatangkan dari daerah Jawa Timur seperti Bojonegoro, Tuban dan Lamongan.

“Sedangkan untuk akar yang dijadikan bebek berbulu, pesan bahan bakunya di Gunungkidul,” ujarnya. 

Wah, menarik sekali ya, Millens. Yuk ah manfaatkan limbah di sekitar kita. (IB12/E05)