Benyamin S dan Kebetawian

Benyamin S selalu identik dengan Betawi. Karya atau peran apa pun yang ditampilkan tak pernah menghilangkan ke-Betawi-annya.

Benyamin S dan Kebetawian
Benyamin Sueb, komedian, pemain musik, dan bintang film legendaris Indonesia yang tak pernah lepas dari unsur budaya Betawi. (Wikipedia)

Inibaru.id – Aktor watak Reza Rahadian resmi didapuk sebagai pemain Benyamin S dalam film daur ulang Benyamin Biang Kerok (1972) dengan judul yang sama. Memerankan sosok komedian legendaris diakui Reza tidaklah mudah.

Situasinya jauh berbeda ketika aktor kharismatik itu memerankan BJ Habibie dalam film biopik Rudy Habibie (2016) atau sosok bos nyentrik dalam My Stupid Boss (2016). Kali ini ia harus menjadi sosok komedian dengan karakter paling kuat se-Indonesia. Tapi untuk jenis film komedi, akting Reza sudah teruji lewat film My Stupid Boss (2016)

Benyamin S adalah aktor, pelawak, sutradara, dan penyanyi Indonesia. Namanya begitu tenar di layar kaca Tanah Air. Ia telah menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film. Siapa pun pasti tahu sosok fenomenal ini.

Lahir di Jakarta, 5 Maret 1939, Benyamin Sueb harus menghadapi kegetiran hidup ketika ditinggal bapaknya, Suaeb, pada usia dua tahun. Ia pun terpaksa ngamen sambil berjoget pada umur tiga tahun.

Baca juga: Benny Panjaitan, Komponis, Gitaris, dan Vokalis Panbers

Namun, ibarat blessing in disguise, bencana itu ternyata membuka jalan bagi Bang Ben, panggilan akrabnya, untuk menapaki panggung hiburan. Meski tergolong nakal di sekolah, ia bisa menghibur dan membuat orang tertawa.

Bersama tujuh kakaknya, Bang Ben membuat Orkes Kaleng pada usia 6 tahun. Berbekal barang bekas, mereka menciptakan alat musik untuk mengiringi lagu-lagu Belanda tempo dulu yang ia nyanyikan. Namun begitu, hanya Bang Ben yang pada akhirnya menjadi seniman.

Darah seni memang begitu kental mengalir di tubuh Benyamin, hasil pengaruh dua engkong-nya, yakni Saiti (peniup klarinet) dan Haji Ung atau Jiung (pemain teater rakyat Dulmuluk). Selain itu, kepedulian Bang Ben pada seni budaya Betawi juga sangat tinggi.

Menikah

Pernikahan dengan Nonnie pada 1959 membuat hidup pria yang pernah setahun kuliah di Akademi Bank Jakarta ini lebih tertata. Ia kembali menekuni dunia musik dengan membentuk Melodyan Boy bersama tetangganya di Kemayoran. Di sinilah lagu “Si Jampang” dan “Nonton Bioskop” tercipta.

Namun, kala itu seni bukanlah pekerjaan. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Bang Ben berjualan roti. Ia juga sempat menjadi kondektur bus PPD, tapi tak lama. Ia kemudian bekerja di bagian amunisi peralatan Angkatan Darat selama setahun, dan menjadi Kabag PD Kriya Jaya hingga 1969.

Kesuksesan Benyamin pada dunia tarik suara baru dimulai saat ia bergabung bersama Naga Mustika. Di situlah ia berjumpa dengan Ida Royani, lalu bernyanyi duet, dan terkenal. Ketenarannya bahkan mengalahkan Lilis Suryani yang lebih dulu masyhur ketimbang keduanya.

Orkes Gambang Kromong Naga Mustika turut melambung seiring dengan bergabungnya Benyamin dan Ida Royani. Lagu “Si Jampang” dan “Ondel-Ondel” laris di pasaran. Tak hanya masyarakat Betawi, seluruh masyarakat di Indonesia juga menikmati lagu Benyamin.

Baca juga: Superman Is Dead: Istikamah di Jalur Indie

Dari situ Bang Ben ditawari bermain film oleh sutradara Sjumanjaya. Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri, dan Si Doel Anak Betawi (1976) adalah sejumlah film yang dibintanginya. Dalam Intan Berduri, ia bahkan meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.

Benyamin juga sempat berduet dengan Inneke Kusumawati seusai Ida Royani hijrah ke Malaysia pada 1972. Salah satu lagu yang paling terkenal adalah “Penganten Baru”.  Kemudian, Bang Ben juga pernah berduet dengan Bing Slamet dalam lagu “Nonton Bioskop”.

Secara keseluruhan, tak kurang dari 53 judul film telah ia perankan dan 75 album musik ia telurkan sebelum ajal menjemputnya pada 5 September 1995. Yang menarik, hampir seluruh karya Benyamin selalu bernapaskan budaya Betawi (GIL/SA)