Mengenang Junus Jahja, Tokoh Pembauran yang Nasionalis Banget

Lahir sebagai peranakan Tionghoa, Lauw Tjhwan Thio ingin benar-benar menjadi orang Indonesia. Tokoh yang setelah masuk Islam menyandang nama Junus Jahja ini membuktikan nasionalisme lewat gerakan tak mengenal lelah untuk asimilasi alias pembauran.

Mengenang Junus Jahja, Tokoh Pembauran yang Nasionalis Banget
H Junus Jahja (buntomi.wordpress.com)

Inibaru.id – Namanya Lauw Tjhwan Thio. Selanjutnya dia lebih dikenal dengan nama Haji Junus Jahja setelah menjadi mualaf atas bimbingan ulama kondang Buya Hamka. Pernah menjadi petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI), semasa Presiden BJ Habibie, Junus Jahja diangkat jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

“Saya memang radikal. Saya melawan arus. Tetapi bagi saya, kalau mau hidup di sini, cari makan di sini, mau mati di sini, ya harus mencintai Indonesia,” tegas Junus Jahja suatu kali.

Nggak heran, selanjutnya dia juga dikenal sebagai tokoh pembauran dari kalangan kelompok etnis Tionghoa yang sangat nasionalis.

Seperti dikutip dari tirto.id (22/4/2017 ), Lauw Tjhwan Thio memeluk Islam pada 1979 dengan bimbingan Buya Hamka. Ulama besar itu lalu memberinya nama baru: Junus Jahja atau Yunus Yahya dalam ejaan baru. Berkat peran Buya Hamka pula, Junus Jahja masuk kepengurusan MUI dan sempat menjabat Sekretaris Dewan Pengurus MUI.

Baca juga:
Liku-Liku Imlek Nusantara
Djamaluddin Adinegoro, Pelopor Jurnalistik Indonesia dari Tanah Minang

Nasionalis

Sobat Millens, Lauw Tjhwan Thio lahirkan di Jakarta, 22 April 1927 dari pasangan Lauw Lok Soey dan Oey Ay Nio, pengusaha roti yang suksesitu. Pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas di Jakarta, pada 1949 dia melanjutkan studi ke Univesiteit van Rotterdam, Belanda.

Di sanalah, kesadaran nasionalismenya menguat. Dia masuk dan aktif banget dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda. Dia bahkan menjadi salah seorang tokoh pembubaran Chung Hwa Hui di Belanda untuk kemudian dilebur ke dalam PPI. Perlu kamu tahu, Chung Hwa Hui adalah perhimpunan pelajar dan mahasiswa keturunan Tionghoa yang dibentuk sejak 1927.

Sekembalinya ke Indonesia, nasionalisme dia buktikan dengan membuat sebuah gerakan asimilasi. Bersama tokoh-tokoh peranakan Tionghoa di Indonesia, termasuk PK Ojong (Pendiri Harian Kompas), Ong Hok Ham, Kwik Hway Gwan (ayah Kwik Kian Gie), dan Harry Tjan Silalahi, Junus Jahja memprakarsai Piagam Asimilasi dalam suatu seminar di Bandungan, Jawa Tengah.

Asimilasi dalam pandangan Junus dan kawan-kawan dimaknai sebagai proses masuk dan diterimanya keturunan Tionghoa ke dalam bangsa Indonesia sehingga golongan semula yang khas tidak ada lagi. Asimilasi adalah syarat mutlak untuk mencapai suatu bangsa dengan masyarakat yang adil dan makmur serta berperan di dunia internasional sesuai panggilan zaman.

“Kita semua sejak (Sumpah Pemuda) 1928 telah menjadi satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, tanpa mengkotak-kotakkan bangsa Indonesia berdasarkan garis kesukuan, kedaerahan, maupun ras!” tandas Junus Jahja.

Ajakan Masuk Islam

Asimilasi gagasan Junus Jahja dan kawan-kawan menegaskan bahwa satu-satunya jalan agar orang peranakan Tionghoa menjadi loyal kepada negara adalah dengan meninggalkan kedudukannya sebagai minoritas dan melakukan asimilasi atau peleburan seratus persen menjadi orang Indonesia “asli”. Bahkan, Junus Jahja dengan terang-terangan menyatakan bahwa orang Tionghoa harus memeluk agama mayoritas di Indonesia, yaitu Islam.

Dia membuktikan ucapannya pada 1979. Dan sejak masuk Islam dan menjadi pengurus MUI, Junus gencar bersyiar Islam kepada orang-orang keturunan Tionghoa. Sebagai wadah berdakwah, dia mendirikan Yayasan Ukhuwah Islamiyah dan turut menggagas pembentukan Yayasan Abdul Karim Oey Tjeng Hien, serta aktif di Perhimpunan Islam-Tionghoa Indonesia, Lembaga Pengkajian Pembauran, dan lain-lain.

Junus Jahja barangkali menjadi salah satu dari sedikit mualaf keturunan Tionghoa di Indonesia yang amat gencar menebarkan dakwah Islam sekaligus sosok yang sangat nasionalis. Dan tahukah Sobat Millens, Junus bahkan berkesan frontal dalam menyikapi sekaligus mengkritik sikap orang-orang keturunan Tionghoa yang dia anggap sering mengesankan diri sebagai kelompok eksklusif.

Ya, Junus Jahja nggak asal teriak soal asimilasi dan nasionalisme. Sehari-hari dia bahkan rela menghilangkan dialek khas warga keturunan Tionghoa dalam percakapan sehari-hari. ”Saya belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan bahasa Indonesia yang menyebut lu orang, you orang, dan kita orang,” tegasnya.

Dia kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1998-2003 pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Pada era itu pula, dia dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputera Utama.

Tokoh vokal asimilasi itu berpulang di Jakarta pada 7 Desember 2011 pada usia 84 tahun. Salah seorang rekan terdekatnya, Harry Tjan Silalahi, selalu terkenang atas kesungguhan Junus untuk benar-benar menjadi orang Indonesia sepenuh hati. ”Dengan jiwa dan raga, dia memilih menjadi Indonesia dan konsekuen menjalankan pilihannya,” ucap Harry.

Baca juga:
Mengenal Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional yang Terlupakan
Kartini, Pahlawan Perempuan dengan Pemikiran Out Of The Box pada Zamannya

Ya, kenangan atas perjuangan Junus Jahja patut kita renungkan, lebih-lebih pada hari gini ketika kita sedang mencemaskan kemarakan persoalan intoleransi. Satu hal yang begitu penting dari kisah Junus Jahja adalah: keseriusan menjadi bangsa Indonesia. Yap,berbicara nasionalisme, kamu bisa belajar dari sosok Lauw Tjhwan Thio atau Haji Junus Jahja.

Sobat Millens yang ingin mengenal di lebih jauh bisa membaca buku karyanya yang bertajuk Catatan Seorang WNI: Kenangan, Renungan & Harapan (terbitan Yaysan Tunas Bangsa, 1988).(EBC/SA)