Darmanto Jatman, Penyair dan Psikolog yang Inspiratif

Berkecimpung di bidang seni, literasi, dan akademik, Darmanto Jatman jadi sosok Indonesia yang menginspirasi. Walaupun telah berpulang, namanya akan selalu dikenang.

Darmanto Jatman, Penyair dan Psikolog yang Inspiratif
Darmanto Jatman. (Kompas.com/Winarto Herusansono)

Inibaru.id - Kepulangan Darmanto Jatman pada 13 Januari 2018 menaburkan duka bagi banyak pihak. Darmanto Jatman nggak hanya dikenal sebagai penyair atau penulis, sosoknya juga berpengaruh sebagai seorang akademikus dan budayawan.

Suami Sri Maryati tersebut lahir dengan nama Soedarmanto pada 16 Agustus 1942 di Jakarta. Minatnya pada dunia seni telah bermula sejak muda. Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Darmanto mendirikan Teater Kristen Yogya dan Studiklub Sastra Kristen Yogya.

Pada 1965, dia menerbitkan kumpulan sajak pertamanya Sajak-sajak Putih bersama Jajak MD dan Dharmadi Sosropuro. Darmanto juga sempat menjadi sutradara pementasan, di antaranya lakon berjudul Perang Troya Tak Akan Meletus karya Jean Girodeaux.

Baca juga:
Yon Koeswoyo, Dedengkot Koes Plus yang Kini Telah Pergi
Chrisye, Sang Legenda Musik Indonesia

Dilansir dari kemdikbud.go.id, ketertarikannya pada bidang humaniora mendorongnya melanjutkan studi di East West Center Universitas Hawaii, Amerika Serikat (1972-1973) setelah lulus dari UGM pada 1968. Dia juga mempelajari Development Planning di Universitas College, London (1977-1978). Pada 1985, Darmanto menyelesaikan studi di Pascasarjana Fakultas Psikologi UGM.

Sebagai seorang akademikus yang sempat mengajar di beberapa universitas, Darmanto memelopori kemunculan Program Studi Psikologi di Undip, yang kini telah menjadi Fakultas Psikologi. Dia juga dikukuhkan menjadi guru besar pertama fakultas tersebut. Kesibukannya yang lain adalah sebagai pegiat dan peneliti masalah perdamaian dan multikulturalisme, serta menjadi fasilitator pengembangan SDM. Dalam bidang jurnalistik, Darmanto sempat menjadi redaktur media cetak di antaranya Suara Merdeka dan Tribun, serta perintis media kampus lokal Manunggal.

Kecintaan Darmanto pada dunia literasi dan seni mendorongnya terus berkarya. Nggak heran jika dia didaulat menjadi penerima beragam penghargaan. Peraih Anugerah Satyalencana Karya Satya pada 2002 ini menulis esai, naskah lakon, puisi, dan cerpen di berbagai media massa. Ia juga aktif membacakan puisinya dalam beragam kegiatan.

Nama Darmanto Jatman nggak hanya dikenal di tingkat nasional, lo. Kepiawaiannya sebagai penyair semakin bersinar setelah ia membacakan puisi-puisinya dalam festival puisi di Adelaide, Australia (1980) dan Rotterdam, Belanda (1981). Karyanya pun telah diterjemahkan ke bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, Jerman, Jepang, dan Belanda. Sebagian buku yang pernah ditulisnya adalah Sajak-sajak Manifes (1968), Bangsat (1975), Ki Blaka Suta Bla Bla (1980), Karto Iyo Bilang Mboten (1981), Salah Tingkah Orang Indonesia (1995), Isteri (1997), Psikologi Jawa (1997), dan Sori Gusti (2002).

Baca juga:
Tino Sidin Tetap Akan Dikenang
Benyamin S dan Kebetawian

Sosok yang juga meraih The SEA Write Award ini dikenang sebagai bapak sekaligus guru yang menginspirasi. Kelak, meskipun Darmanto Jatman telah bertahun-tahun meninggalkan kita, torehan jejaknya akan senantiasa abadi. Selamat jalan, Darmanto Jatman. (AYU/SA)