Wedang Jahe Rempah Mbah Jo, Tetap Mampu Hangatkan Pelanggan hingga Sekarang

Wedang Jahe Rempah Mbah Jo, Tetap Mampu Hangatkan Pelanggan hingga Sekarang
Menumbuk rempah-rempah (Inibaru.id/ Muhammad Adiatma)

Di tengah beragamnya olahan minuman kekinian, warung Wedang Rempah Mbah Jo masih eksis melayani pelanggan setianya. Bertahannya olahan minuman tradisonal ini nggak lepas dari perjuangan keras pendirinya.

Inibaru.id - Jalan panjang dilalui Tugiyo untuk membesarkan Wedang Jahe Rempah Mbah Jo, terlebih di tengah modernitas yang juga berimbas pada kuliner. Namun, konsistensi yang dibangunnya mampu mengubah anggapan bahwa usaha kuliner nggak harus mati-matian dikonsep kekinian untuk diterima pasar.

Nggak hanya bertahan, kedai yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno, Mugassari, Semarang Selatan, Semarang, ini bahkan masih ramai dikunjungi pelanggan setianya. Tua-muda, cowok-cewek, semua bersedia mengantre demi segelas minuman hangat yang konon mampu menyembuhkan pelbagai penyakit itu.

Tugiyo menuturkan, nggak mudah mempertahankan usaha olahan minuman tradisional tersebut. Awal mula mendirikan usaha, lelaki asal Kabupaten Sukoharjo itu hanya mampu menghabiskan nggak lebih dari satu kilogram jahe saban minggu.

Meracik wedang jahe rempah. (Inibaru.id/ Muhammad Adiatma)

Bermodal warung pemberian pemerintah kota, Tugiyo mencoba bertahan dengan menyajikan dua menu andalan, yakni wedang jahe geprak gula batu dan jahe geprak gula jawa. Selanjutnya, dia berinovasi dengan menyajikan menu yang kini jadi andalannya, yakni wedang jahe rempah.

Menciptakan racikan wedang jahe rempah nggak muncul begitu saja, Millens. Butuh beberapa kali percobaan untuk Tugiyo hingga akhirnya mendapat racikan yang pas dan khas. Tiap percobaan dia ujikan ke pelanggan hingga ketemu racikan yang paling sesuai.

"Pada racikan terakhir, mereka (pelanggan) merasakan badan yang segar setelah meminumnya. Nah, racikan jahe rempah itu bertahan hingga sekarang,” ujar Tugiyo.

Wedang jahe rempah. (Inibaru.id/ Muhammad Adiatma)

Untuk menumbuk rempah, hingga kini Tugiyo mengaku masih memakai peralatan tradisional dari batu. Rempah yang telah digeprek itu kemudian dilarutkan dalam air dan diberi tambahan gula batu. Rasanya? Harum di hidung, manis di lidah, hangat di tubuh!

Nurul Diah adalah salah seorang pelanggan yang telah merasakan khasiatnya. Menurutnya, mengonsumsi wedang jahe rempah membuat badannya terasa hangat. Dia mengaku lebih menyukai racikan herbal dan tradisional seperti di Mbah Jo karena nggak memiliki efek samping.

"Menu favorit saya Jahe Rempah dan Wedang Uwuh," kata Nurul.

Sementara, Subhan, pelanggan lain, menjadikan wedang jahe rempah di Mbah Jo sebagai andalan saat tubuhnya terasa pegal-pegal atau kondisi badannya kurang sehat.

"Badan terasa segar kembali setelah mengonsumsi wedang jahe rempah," ujarnya.

Lelaki yang juga seorang atlet sepeda itu menuturkan, wedang jahe rempah Mbah Jo juga diklaimnya mampu membuat tubuhnya terus tampil prima dalam setiap kompetisi balap sepeda yang diikutinya.

Pelanggan warung jahe rempah mbah jo. (Inibaru.id/ Muhammad Adiatma)

Minuman di Wedang Jahe Rempah Mbah Jo dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yakni di kisaran Rp 6.000-7.000 saja. Karena nggak menggunakan pengawet, wedang di Mbah Jo hanya bertahan antara 3-4 hari saja, asal berada di lemari pendingin.

Sementara, kalau kamu membeli yang belum diseduh, racikan rempah itu bisa bertahan lebih lama, yakni hingga tiga bulan.

Nah, gimana, Millens? Butuh kehangatan, datang saja ke Wedang Jahe Rempah Mbah Jo! (Muhammad Adiatma/E03)

 

Warung Jahe Rempah Mbah Jo

Kategori               : Street food

Alamat                 : Jalan Menteri Supeno, Semarang, Jawa Tengah

Jam Buka             : Senin–Jumat Pukul 06.00–23.00 WIB

                             Sabtu Libur

                             Minggu Pukul 17.00–23.00 WIB

Harga Menu          : Rp 1.000 s.d. Rp 8.000