Upa-upa, Simbol Doa lewat Makanan Khas dalam Pesta Kahiyang-Bobby

Upa-upa bukanlah nama makanan. Ia adalah pembacaan doa dalam tradisi Mandailing disimbolkan dengan makanan yang masing-masing mengandung nilai filosofis.

Upa-upa, Simbol Doa lewat Makanan Khas dalam Pesta Kahiyang-Bobby
Gulau daun ubi, salah satu hidangan khas Mandailing. (Dolly MJ/Shutterstock)

Inibaru.id - Kisah pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution belum tuntas. Setelah dilangsungkan di Solo (8/11/2017), keduanya direncanakan akan mengikuti rangkaian upacara pernikahan dari pihak keluarga Bobby, 21-25 November.

Seperti dilansir Beritagar.id (16/11/2017), menurut Patuan Kumala Pandapotan (Pandapotan Nasution), dalam rangkaian upacara itu, salah satu yang dipersiapkan adalah menu makanan. Makanan utama dan terpenting ada di dalam upacara ialah upa-upa.

Perlu diketahui, upa-upa ini bukan nama bahan makanan, bukan pula nama dari santapan khas Mandailing. Upa-upa sebenarnya ialah suatu rangkaian doa, yang disampaikan secara simbolis dengan beberapa jenis makanan.

Dalam tradisi Mandailing, biasanya upa-upa dilakukan di acara pernikahan, menyambut anak yang baru lahir, sambutan kepada tamu besar, memasuki rumah baru, dan untuk orang yang baru terkena musibah.

"Di dalam upa-upa itu ada doa. Ada telur, nasi dan sebagainya, itu semua ada bacaan (doa)," kata Pandapotan yang berasal dari Pidoli, Sumatera Utara kepada Beritagar.id, Rabu (25/10/2017).

Baca juga:
Kala Nasi Jagung Berpadu dengan Botok Yuyu
Nasi Lengko, Kuliner Khas Cirebon yang Rasanya Tak Ada Duanya

Di urutan pertama, ada nasi. Sama seperti di mayoritas daerah di Indonesia, nasi akan dihidangkan seperti biasa. Ini sebagai harapan bahwa nasi yang berwarna putih tersebut dapat pula membuat hati sang penerima sama putih dan bersihnya.

Setelah itu ada telur ayam. Penggunaan telur ayam pun bukan tanpa sebab. Putih telur yang berada di sekeliling kuningnya dianggap berlaku layaknya seseorang yang ingin melindungi.

Maka sang mempelai pun diharapkan dapat saling menjaga, agar menyatu jiwa raganya dan supaya kuat menghadapi kehidupan.

Lalu, ada ikan. Menurut Pandapotan, bagi masyarakat Mandailing, ikan sungguh merupakan hewan yang patut ditiru. Ikan biasanya berenang dalam kelompok, baik kecil maupun besar. Mereka sama-sama pergi ke hulu, sama-sama juga kembali ke hilir. Perilaku ikan itu diharapkan akan terjadi mereka. Mereka diharapkan selalu seiya sekata, selaras dan harmonis.

Udang yang kerap dihidangkan dalam upa-upa juga memiliki makna. Salah satunya ialah agar mempelai dapat mengadopsi filosofi hidup udang. Pada habitatnya di laut atau air tawar, udang tak pernah terbawa arus dan hanyut. Filosofi udang itu bermakna bahwa kedua mempelai diharapkan selalu berani menghadpi tantangan kehidupan.

Terakhir ada garam. Garam biasanya diletakkan di pucuk telur yang telah direbus. Garam diartikan sebagai sesuatu yang berguna dan selalu dibutuhkan banyak orang.

Selain upa-upa, ada juga makanan lain yang sarat doa, seperti daging kerbau. Ya, di pesta pernikahan adat Mandailing yang akan digelar di kediaman keluarga Bobby, Kompleks Bukit Hijau Regency, Medan, akan ada beberapa olahan daging kerbau.

Kerbau yang merupakan hasil kurban ini akan dimasak dengan bumbu khas Mandailing, misalnya gulai, rendang, dan sup.

Seperti halnya upa-upa, bagian-bagian tubuh kerbau pun mengandung arti. Contohnya saja mata kerbau. Ketika seseorang yang memiliki hajat memakan mata kerbau, maka ia diharapkan dapat menjaga hatinya dari setiap apa yang dilihatnya.

Baca juga:
Menikmati Nasi Jamblang dari Pinggiran Cirebon
Latah Buka Usaha Kuliner, Selebritis Tanah Air Tuai Banyak Komentar Netizen

Lalu ada telinga, yang menurut masyarakat Mandailing ialah perlambang kepekaan seseorang akan keadaan sekitarnya. Memakan telinga sama dengan berkomitmen untuk selalu mendengar jika kerabat tertimpa kemalangan, dia harus segera hadir tanpa perlu diundang.

Selain makanan-makanan yang penuh makna, di pesta pernikahan adat Mandailing pun banyak terdapat makanan yang bisa disantap secara kasual.

Ada daun ubi tumbuk yang biasa dihidangkan dengan bumbu gulai. Selain daun ubi tumbuk, pisang pun kerap digulai di Mandailing. Namun, pisang yang dipakai merupakan yang belum matang. Sayangnya kian modernnya zaman, kini tak banyak hajatan yang masih menghidangkan gulai pisang untuk para tamunya.

Selain itu ada ikan sale, yakni ikan yang sudah diawetkan dengan cara diasap atau dijemur. Ikan lalu diolah dengan bumbu gulai.

Hidangan ini juga dilengkapi dengan sambal khasnya, sambal tuktuk. Tak seperti sambal di Jawa, sambal tuktuk memiliki rasa pedas menyengat dengan cita rasa Andaliman yang khas. Sambal ini juga ditumbuk dengan campuran ikan suwir dan ikan teri.

Pun dibuat khusus, seluruh hidangan ini tak hanya dapat dinikmati oleh Presiden Joko Widodo dan keluarganya, tetapi juga oleh seluruh undangan yang hadir pada pesta yang akan diadakan 24-26 November 2017. (EBC/SA)