Tiga Kesenian Pemalang yang Nyaris Punah Digerus Zaman

Tiga Kesenian Pemalang yang Nyaris Punah Digerus Zaman
Sintren, tradisi mengundang "bidadari" turun ke bumi. (Tribunnews)

Kabupaten Pemalang memiliki beberapa kesenian unik dan menarik. Sayang, kesenian-kesenian ini kurang menarik minat masyarakat untuk dipelajari dan dilestarikan. Sebagai generasi muda, yuk bangkitkan kesenian-kesenian ini lagi.

Inibaru.id – Seperti wilayah lain di Jawa Tengah, Kabupaten Pemalang menyimpan keragaman seni dan budaya yang indah. Sayang, dengan modernisasi zaman, semakin sedikit anak muda Pemalang yang tertarik mempelajari keseniannya. Meski menarik, tiga kesenian ini semakin terlupakan.

Sintren

Pada zaman dulu, sintren merupakan kesenian yang digelar dengan tujuan menjodohkan anak muda. Pertunjukan kesenian ini dibagi menjadi tiga yaitu pertunjukan, dupan, dan sintren. Tarian ini dilakukan oleh perempuan yang masih perawan. Selama pertunjukan, konon sang penari akan dirasuki roh bidadari, lo.

Kuntulan

Kuntulan adalah seni tari yang digabungkan dengan bela diri. Penggabungan ini dilakukan supaya para santri bisa mengecoh penjajah Belanda. Rakyat yang saat itu berusaha mendapatkan kemerdekaan kemudian menghimpun kekuatan secara diam-diam. Nah, di Jawa Timur, kekuatan ini dihimpun pula para kyai dengan mengajarkan bela diri yang digabung dengan tarian. Maka, terciptalah kuntulan.

Krangkeng

Krangkeng sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Kesenian ini bermula dari latihan kanuragan dan olah keprajuritan yang dilakukan para prajurit. Supaya makin semangat, latihan mereka diiringi dengan musik tetabuhan. Nah, dari sanalah krangkeng akhirnya tercipta dan sempat populer di Pemalang.

Kamu yang lahir dan tumbuh di Pemalang tentu harus peduli dengan budaya sendiri. Jika nggak ada yang melestarikannya, ketiga kesenian ini akan hilang ditelan zaman. Yuk, jadikan sintren, kuntulan, krangkeng berjaya di negeri sendiri. (IB15/E03)