Terukir di Relief Candi Borobudur, Bukti Nasi Bukan Asli Indonesia

Terukir di Relief Candi Borobudur, Bukti Nasi Bukan Asli Indonesia
Nasi bukan makanan asli Indonesia. (Flickr/Bayuprobo)

Nasi menjadi hidangan wajib di meja makan mayoritas masyarakat Indonesia. Namun, siapa sangka sumber karbohidrat dari beras itu bukan asli negeri ini. Bukti itu tertuang di dinding Candi Borobudur.

Inibaru.id – Beras atau nasi menjadi makanan yang seakan wajib ada di meja makan kita setiap hari. Maka, banyak orang merasa bahwa nasi adalah makanan asli negeri ini. Padahal, sumber karbohidrat yang ditanam hampir di seluruh sudut Indonesia itu bukanlah produk lokal. 

Peneliti Sagu Indonesia Profesor Nadirman Haska mengatakan, sagu adalah makanan pokok asli orang Indonesia. Dia mengungkapkan, sagu telah dikonsumsi masyarakat kita jauh sebelum beras mulai masuk ke Indonesia. Sementara, beras adalah produk impor yang dibawa orang India.

Fakta ini dibuktikan dengan pahatan yang tertera di dinding Candi Borobudur. Ada relief palma kehidupan yang terdiri atas nyiur atau kelapa, lontar, aren, serta sagu. Di situ nggak ada padi atau beras.

“Makanan asli orang Indonesia itu sagu. Terlihat jelas di relief Candi Borobudur. Jadi awal mula beras masuk ke sini dibawa orang India di masa kerajaan Hindu,” jelas Nadirman di Sorong Selatan, Papua Barat.

Relief Borobudur menunjukkan kalau nasi bukan makanan asli Indonesia. (Flickr/andreakirkby)
Relief Borobudur menunjukkan kalau nasi bukan makanan asli Indonesia. (Flickr/andreakirkby)

Nadirman juga menjelaskan keunikan penyebutan nasi di sejumlah daerah yang sebenarnya menunjukkan bahwa sagu adalah makanan pokok asli orang Indonesia.

Di Jawa, nasi dikenal dengan kata sego, sedangkan di Sunda dipanggil dengan sangu. Nah, kedua kata ini sebenarnya turunan dari sagu.

Selain sagu, ada makanan pokok lain yang asli Indonesia, yakni ketela atau thiwul. Pada awal abad ke-19, negeri ini mengalami masalah paceklik bahan pangan. Pemerintah Kolonial Belanda pun memaksa warga untuk menanam ketela sebagai sumber pangan baru. Belanda pun menjadikan hasil petani ketela sebagai pajak.

Untungnya, meski nasi kini jadi "penguasa" makanan pokok di Indonesia, bahan-bahan pangan yang dulu berjaya seperti ketela, singkong, atau sagu, masih banyak ditanam. Olahan penganan dari bahan-bahan alternatif seperti ketela atau singkong juga masih cukup banyak tersedia di pasaran.

Jadi, kalau mau gaya-gayaan pengguna produk impor atau lokal, kamu bisa jemawa bilang ke orang-orang bahwa setiap hari kamu makan produk impor, yaitu nasi! Ha-ha. (Det/IB09/E03)