Manis dan Pedas, Sensasi Rasa Teh Kawi Khas Pasar Jaten Pinggir Kali Semarang

Manis dan Pedas, Sensasi Rasa Teh Kawi Khas Pasar Jaten Pinggir Kali Semarang
Secangkir teh kawi yang disajikan dalam cangkir tanah liat. (inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Jika berkunjung ke Pasar Jaten Pinggir Kali, jangan lupa mampir di lapak teh kawi. Rasanya tambah istimewa dengan beberapa potong getuk yang juga tersaji. Beginilah cara saya menikmati teh kawi yang berkhasiat ini!

Inibaru.id - Penasaran dengan Pasar Jaten Pinggir Kali di Semarang, akhir pekan lalu saya menyempatkan diri menyambangi lokawisata belanja yang berada di Dusun Kalialang Lama, Desa Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, itu. Bertujuan mencicipi kuliner unik, mata saya langsung tertuju pada satu lapak bertuliskan: Teh Kawi + Getuk 3 Kepeng.

Wah enak nih pagi-pagi ngeteh sambil makan getuk, batin saya.

Setunggal (satu), Bu,” pinta saya kepada ibu penjual berbaju lurik yang duduk di balik meja lapak tersebut.

Setelah mengiyakan, dengan cekatan ibu tersebut meladeni pesanan saya. Nggak lama, seporsi getuk dan teh kawi telah tersaji di hadapan, yang kemudian saya tebus dengan tiga kepeng, "mata uang" yang berlaku di pasar tematik tersebut.

Oya, tiga kepeng setara dengan Rp 6.000. Ini terbilang murah, karena kamu sudah mendapat secangkir teh kawi, salah satu primadona di Pasar Jaten Pinggir Kali, dan tiga potong getuk.

Sutar, penjual teh ini, mengaku meracik sendiri teh tersebut di rumahnya, yang sayang sekali nggak bisa saya saksikan secara langsung pembuatannya.

Teh kawi jadi salah satu kuliner yang dinimati pengunjung. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Teh Kawi buatan Sutar disajikan dalam cangkir kecil yang terbuat dari tanah liat. Rasanya hampir sama dengan  wedang rempah yang lazim dijual. Aroma jahenya sudah tercium meski tehnya belum saya sesap.

Benar saja, begitu masuk mulut rasa pedas jahe dan manis gula hampir bikin saya berpikir kalau minuman ini adalah wedang jahe biasa.

Seluruh bahan teh kawi turut dipamerkan Sutar dalam sebuah tampah. Saya mencoba mengidentifikasi satu per satu.

“Kayu manis, teh, bunga cengkih, serai, limau, gula batu, gula Jawa, dan jahe, ya, Bu?,” tebak saya, yang segera dikoreksi Bu Sutar, “Jahe emprit bakar, Mbak!”

Yap, semua bahan ini dimasak bersamaan dalam satu kuali agar semua aromanya keluar. Khusus untuk jahe emprit, Sutar mengaku sengaja membakarnya dahulu agar aromanya lebih kuat.

Perlakuan Khusus

Menurut saya, selain paduan rempah yang beragam, rasa nikmat pada teh kawi juga tercipta oleh cangkirnya yang terbuat dari tanah liat. Sutar mengatakan, cangkir itu memang mendapat perlakuan khusus. Dia bahkan mengaku nggak pernah mencuci cangkir tersebut dengan sabun. Hah?

"Kalau pakai sabun, tehnya jadi bau sabun," sanggah Sutar begitu melihat mimik keheranan yang saya tunjukkan, "Jadi, cuma pakai air lalu (permukaan cangkir) digosok dengan lemon.”

Jangan langsung ditenggak habis, sesap perlahan tehmu sambil menikmati getuk yang nggak terlalu manis. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Meski banyak bahan yang dia pakai untuk membuat secangkir teh istimewa ini, saya agak kecewa dengan cita rasanya yang menurut saya terlalu manis. Lidah saya pun kesulitan mengenali rempah lainnya selain jahe. Tehnya pun sudah dalam keadaan hampir dingin. Ah kurang mantul, batin saya.

Namun, rupanya saya keliru! Bukan tanpa alasan teh kawi disajikan dengan getuk, Millens. Seharusnya, teh supermanis itu memang kudu disesap perlahan sembari menikmati getuk yang tidak terlalu manis. Ha-ha. Sayang, teh kawi saya sudah terlanjur habis. Heu-heu!

Buatmu yang penasaran dengan teh yang bikin tubuh langsung jadi hangat ini, silakan datang ke Pasar Jaten Pinggir Kali setiap Minggu Legi pagi. Kalau nggak sabar nunggunya, kamu juga bisa menyambangi pasar ini tiap malam hingga pukul 23.00 WIB.

Jangan lupa, nikmati teh dan getukmu perlahan-lahan ya agar rasanya lebih mantul! Jangan sok tahu seperti saya! Ha-ha. (Zulfa Anisah/E03)