Representasi Masyarakat Jawa yang Tertuang pada Sebentuk Buntil

Representasi Masyarakat Jawa yang Tertuang pada Sebentuk Buntil
Buntil. (Diahdidi)

Mungkin, buntil berasal dari kata buntel, yang dalam bahasa Jawa berarti bungkus.

Inibaru.id – Para petani anggur di Mediterania menggunakan daun anggur muda untuk membuat Serma, masakan berupa nasi atau daging cincang berbungkus daun. Setali tiga uang, masyarakat Jawa juga menggunakan dedaunan yang mudah ditemukan di sekitar rumah untuk membuat buntil.

Oya, perlu kamu tahu, buntil adalah makanan tradisional berupa olahan kelapa parut yang biasanya dicampur ikan teri lalu dibungkus daun dan direbus dengan kuah santan berbumbu. Masakan pedas gurih ini biasa disantap sebagai pendamping nasi.

Sebagian masyarakat di Jawa, khususnya wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Barat cukup familiar dengan buntil. Perbedaan masing-masing daerah biasanya hanya terletak pada daun pembungkus dan isian saja, sedangkan teknik pengolahannya hampir mirip.

Buntil. (Grid)

Sebagai contoh, warga Banjarnegara, Purbalingga, dan Banyumas, Jawa Tengah, biasa menyantap buntil yang dibungkus daun singkong atau daun pepaya. Sementara, masyarakat di wilayah Yogyakarta, memakai daun keladi atau talas sebagai pembungkusnya.

Perbedaan daun itu tentu sangat memengaruhi rasa. Daun talas yang cenderung mudah layu saat dimasak membuat tekstur buntil di Yogyakarta lebih lunak ketimbang buntil di Banyumas dan sekitarnya yang menggunakan daun singkong yang teksturnya lebih keras.

Selain tekstur, rasa yang didapat dari daun-daun itu pun berbeda. Daun pepaya yang memberi sensasi pahit membuat buntil daun pepaya lebih getir saat dimakan. Berpadu dengan bumbu buntil yang gurih, hmm, sungguh nikmat!

Nah, buat yang belum pernah mencicipi kuliner tradisional ini, kamu harus menjajalnya ya, Millens. Mumpung masih banyak yang jual! Ha-ha. (IB20/E03)