Nyore di Serikat, Menikmati Suasana Kota Lama dari Sebuah Warung Kopi

Nyore di Serikat, Menikmati Suasana Kota Lama dari Sebuah Warung Kopi
Serikat Dagang Kopi, sajikan menu yang akultiratif. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Kapan waktu yang tepat untuk menikmati wisata Kota Lama? Jawabannya adalah sore. Begitu kata Putra pemilik usaha Serikat Dagang Kopi. Ketika sore seseorang bisa lebih santai tanpa terganggu panas dan gelap, dengan prinsip ini tercipta pula frasa “Nyore di Serikat”.

Inibaru.id – Musik RnB berirama soft-soul zaman 70 sampai 80-an menyapa saya ketika datang ke Serikat Dagang Kopi sore itu. Warung kopi ini didirikan oleh dua mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata angkatan 2013 Anak Agung Gde Putra Dwipayana dari Bali dan Saka Apriliadi dari Semarang.

Awalnya, Serikat Dagang Kopi merupakan sebuah angkringan kecil yang berada di Jatingaleh. Berdiri pada 2017 saat Putra dan Saka masih sama-sama mahasiswa. Sebelumnya, mereka berdua telah mendapat pengalaman bekerja, Putra di sebuah biro psikologi dan Saka bekerja di sebuah kafe franchise kenamaan. 

"Lama kelamaan, karena bertumbuh dapat tempat di sini dan beruntungnya konsep hampir sama. Kita punya keluh kesah yang sama. Kalau aku dari dulu suka hal-hal yang berbau sejarah, hal-hal yang berbau pendidikan. Jadi kebetulan di sini tempatnya,” kata Putra.

Nama Serikat Dagang Kopi diambil dari bacaan para pendiri yang menyukai sejarah. Sekilas mendengar namanya, seseorang mungkin akan ngeh dengan Serikat Dagang Islam, nah semangat dari “serikat” inilah yang menjadi semangat terciptanya Serikat Dagang Kopi.

Soal jenama kafenya, Putra mengaku suka dengan kata Serikat. Baginya tergambar di sana orang berkumpul, berdiskusi, dan sharing. Karena produk yang dijual adalah kopi, dia menamai kafe ini dengan Serikat Dagang Kopi.

Pengunjungnya nggak menyasar satu segmen saja, Millens. Banyak kok wisatawan Kota Lama mampir ke sini. Kafe ini menyediakan berbagai menu istimewa kopi dan camilan khas Indonesia. Selain itu, tersedia pula beberapa merchandise, seperti totebag, kaos, dan tumbler.

 “Orang dibuat suka dengan konsep, atmosfer, suasananya. Karena ini aku buat gimana caranya biar bisa homey dan nggak merubah gedung awal. Kita nyediain menu makanan kayak singkong goreng. Gimana lihatin ini menu Indonesia. Akulturasinya kita nggak lupa,” tegas Putra.

Banjirnya warung kopi lain yang ada di Kota Lama nggak menjadi halangan untuk bersaing. Malah ini menjadi pemacu. Daya tawar lainnya dengan mengadakan berbagai acara seperti diskusi yang pernah mengundang Soesilo Toer. Ada pula demo masak dan demo barista.

“Kalau dari banyaknya kafe, menurutku pribadi senang karena lebih tertantang. Karena kafe-kafe yang ada di sebelahku ini mereka gajah-gajah lah ya. Gila-gila, keren-keren. Ketika jadi underdog, gimana caranya kita untuk bisa menyaingi,” pungkasnya.

Ritual yang nggak boleh kamu lupakan tentu “nyore di serikat”.  Sebab Kota Lama paling sip dinikmati ketika sore hari, nggak silau dan nggak gelap. Gimana?  (Isma Swastiningrum/E05)