Ngeri Bila Madu Terkontaminasi Pestisida Pembunuh

Alih-alih menyehatkan, madu yang kita konsumsi ternyata berpotensi mengandung neonicotinoid, sejenis racun serangga yang menyebabkan kelumpuhan dan kematian.

Ngeri Bila Madu Terkontaminasi Pestisida Pembunuh
Madu. (stevepb/pixabay)

Inibaru.id – Sudah menjadi rahasia umum jika musuh utama lebah madu adalah pestisida. Pada 2004 silam, petani madu di Prancis melakukan aksi besar-besaran kepada pemerintah agar para petani membatasi atau menghentikan penggunaan pestisida buatan (kimia).

Tak hanya Prancis, para petani madu di sebagian besar Eropa dan Amerika juga mengeluhkan hal yang sama. Mereka kompak mengatakan, pestisida adalah biang kematian massal lebah yang mereka ternakkan untuk diambil madunya.

Pelbagai penelitian dilakukan tak lama kemudian. Prancis dan Amerika menjadi sorotan lantaran keduanya merupakan pengguna pestisida kimiawi terbesar di dunia pada masa itu. Namun begitu, karut-marut aturan itu tak juga tuntas hingga sekarang.

Baca juga: Di Kanada, Makanan Berbahan Ganja Diprediksi Akan Ngetren

Ya, kisah itu telah lama berlalu, hingga pada Kamis (5/10/2017) lalu, sebuah penelitian yang diberitakan The Guardian mengungkapkan bahwa saat ini madu di dunia berpotensi mengandung pestisida. Wah!

Ironis sekali, bukan? Pada saat banyak orang percaya bahwa madu adalah bahan makanan yang menyehatkan, cairan kuning keemasan itu ternyata saat ini malah terkontaminasi pestisida. Dan, nyawa kita pun turut terancam sebagaimana lebah-lebah tersebut pada waktu itu.

Dilansir dari Detikcom,  sebuah riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science mengatakan, 75 persen dari 200 sampel madu yang mereka teliti mengandung neonicotinoid.

Kita tahu bahwa neonicotinoids merupakan racun insektisida yang bisa memengaruhi sistem saraf pusat serangga. Pada serangga, racun tersebut akan menyebabkan kelumpuhan dan kematian.  Pun halnya pada manusia, meski tentu saja dalam dosis yang lebih besar.

Baca juga: Minuman Penuh Khasiat Ini Jadi Warisan Budaya Nonbenda

Adapun kandungan neonicotinoid terbesar terdapat di Amerika Utara. 86 persen dari sampel yang diambil mengandung analog sintetis dari nikotin insektisida (alami) ini. Peringkat kedua ditempati Asia dengan 80 persen, disusul Eropa dengan 79 persen, dan Amerika Selatan sebesar 57 persen.

Matt Shardlow dari Bug's Life Inggris mengatakan, kontaminasi neonicotinoid pada madu merupakan sebuah peringatan. Hal ini, ungkapnya, seolah ingin menunjukkan bahwa kehidupan hewan liar tengah terancam oleh bahan kimia yang mulai digunakan sejak 1985 ini.

“Diperlukan momentum untuk mendukung solusi global yang baru untuk memberikan standar tinggi pada perlindungan lingkungan dan manusia di mana pun,” tutup Shardlow. (GIL/SA)