Nasi Suci Ulam Sari, Makanan Khas Maulid Nabi Warga Pacitan

Nasi Suci Ulam Sari, Makanan Khas Maulid Nabi Warga Pacitan
Nasi Suci Ulam Sari adalah makanan khas maulid nabi di Pacitan. (Maslasno)

Masyarakat Pacitan punya tradisi tersendiri dalam menyambut Hari Kelahiran Nabi Muhammad. Nggak hanya acara doa bersama, mereka juga punya makanan khas yang wajib ada saat peringatan maulid nabi.

Inibaru.id – Di Indonesia, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut Maulid Nabi menjadi momen penting untuk dirayakan umat Islam. Kebahagiaan dan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad diungkapkan dalam bentuk tradisi-tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Selain tradisi berupa kegiatan, ada pula makanan yang harus hadir dalam peringatan Maulid Nabi.

Hal itu seperti yang masih dilestarikan masyarakat Pacitan. Mereka memiliki masakan khas tiap kali perayaan Maulid Nabi. Masakan ini berupa tumpeng nasi uduk dan ingkung ayam kampung yang bernama Nasi Suci Ulam Sari.

Bagi masyarakat Pacitan, Nasi Suci Ulam Sari bermakna sebagai simbol permohonan masyarakat supaya dijauhkan dari mara bahaya serta diberkahi Tuhan Yang Maha Esa. Momen ini juga dijadikan sebagai ajang silahturahmi antarwarga sambil makan bersama.

Nasi Suci Ulam Sari ini memiliki berbagai bentuk dan ukuran. Nasi itu berisi sayuran dan menu makanan pelengkap lainnya. Nasi kemudian dibentuk seperti tumpeng. Eits, tapi bukan nasi biasa ya karena nasi yang dipakai adalah nasi uduk yang ditaruh di baskom atau wadah lain.

Di atas nasi uduk yang dibentuk mengerucut itu, ada sajian aya utuh yang sudah dimasak. Ayam itu biasa disebut dengan ayam ingkung.

Dalam tradisi Maulid Nabi, tumpeng Nasi Suci Ulam Sari akan dibawa setiap kepala keluarga ke rumah tokoh masyarakat atau masjid di kampung tersebut. Di sana, seluruh warga berkumpul dan duduk bersila. Sementara itu, Nasi Suci Ulam Sari yang dibawa akan ditaruh di depan mereka untuk didoakan tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Pacintanku.com, Selasa (13/11/2018), menulis, peringatan seperti ini merupakan tradisi turun temurun dan menjadi budaya bagi masyarakat setempat. Kendati terdapat pendapat yang kontra dengan tradisi itu, masih banyak umat Islam di Pacitan yang melaksanakan tradisi tahunan tersebut. Menurut mereka, tradisi semacam ini dapat merekatkan tali silahturahmi dengan tetangga lainnya, menjaga kerukuran, dan sebagai simbol ungkapan syukur.

Nah, kalau di daerahmu ada tradisi serupa itu nggak, Millens? (IB07/E04)