Nasi Liwet Solo, Lebih dari Sekadar Makanan Sehari-hari

Nggak hanya menjadi makanan sehari-hari, nasi liwet Solo juga hadir dalam upacara dan perayaan. Rasanya yang pulen dan gurih pun menjadikannya banyak disukai para pencinta kuliner.

Nasi Liwet Solo, Lebih dari Sekadar Makanan Sehari-hari
Nasi liwet Solo. (Detik Food)

Inibaru.id - Indonesia memiliki beraneka ragam olahan nasi. Dari Sabang sampai Merauke hampir semua memiliki olahan nasi yang khas daerahnya. Wajar saja, karena nasi merupakan makanan pokok Indonesia. Salah satu olahan nasi yang terkenal adalah nasi liwet Solo.

Buat kamu yang belum tahu, nasi liwet adalah nasi gurih (dimasak dengan santan kelapa) yang mirip nasi uduk dan disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam,telur rebus opor, aneka lauk ayam dan areh. Merupakan endapan atau gumpalan santan, areh inilah yang menjadi ciri khas nasi liwet Solo. Nggak hanya menambah gurih, areh juga memiliki protein yang tinggi seperti daging.

Keunikan lain dari nasi liwet Solo adalah cara penyajiannya yang menggunakan pincuk atau piring beralaskan daun pisang. Memiliki tekstur yang pulen dan gurih, nasi liwet menjadi salah satu dari 30 Ikon Kuliner Tradisional Indonesia. Nggak hanya disukai pencinta kuliner dalam negeri saja, bule-bule luar negeri pun menyukainya, lo.

Tapi tahukah kamu, kenapa dinamai nasi liwet?

Baca juga:
Sensasi Unik Lempah Kuning khas Pulau Bangka
Makan Sotonya, Gunting Sendiri Lauknya

Mengutip dari Kompas.com (10/6/2017), liwet sebenarnya merupakan cara memasak, bukan sebuah produk. Jadi kalau namanya nasi liwet, berarti nasi yang menggunakan teknik liwet. Proses ngliwet sendiri merupakan teknik memasak nasi dengan cara mencampur beras dan air, bisa air putih ataupun air santan, dalam satu tempat khusus. Tempat tersebut bisa ketel, kastrol, atau dandang dan dimasak di sana hingga matang, sama seperti prinsip rice cooker di zaman modern.

Namun, ngliwet juga identik dengan memasukkan bumbu seperti daun salam dan garam ke nasi dan air yang sedang dimasak. Setelah proses ngliwet itulah, kemudian diberikan aneka lauk pauk. Selain Solo, sebenarnya banyak daerah yang mengolah nasinya dengan cara diliwet, seperti nasi lemak di Sumatera, nasi uduk di Jakarta, nasi wuduk di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bagi orang kota Solo, nasi liwet ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Bisa dimakan  untuk sarapan hingga makan malam. Selain itu, nasi liwet Solo juga sering menjadi bagian sakral dari rangkaian upacara dan banyak perayaan. Misalnya dalam midodareni, acara Maulid Nabi Muhammad hingga upacara nyadranan (perayaan panen).

Nah, jika kamu datang ke kota Bengawan, nggak sulit untuk menemukan penjual nasi liwet. Biasanya nasi liwet dijajakan berkeliling dengan bakul bambu yang digendong oleh ibu-ibu atau dijual di warung lesehan di pinggir jalan. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, mulai dari Rp 8 ribu untuk per porsi nasi liwet, tergantung pilihan lauknya.

Namun jika kamu merasa kesusahan menemukan penjual nasi liwet, datanglah ke area dekat Mangkunegaran atau Solo Baru yang menjadi tempat konsentrasi penjual nasi liwet. Namun jika kamu ingin merasakan nasi liwet yang “asli” datanglah ke Baki, daerah nasi liwet Solo berasal.

Baca juga:
Di sini Kuliner Ini Biasa, Di Belanda Itu Luar Biasa
Menikmati Lontong Balap dan Legendanya

Yup, tepatnya dari Desa Menuran, Kecamatan Baki, Sukoharjo, nasi liwet Solo ternyata lahir dari kalangan biasa,  Awalnya warga membuatnya dengan tujuan konsumsi pribadi dan dijual kepada masyarakat Solo sekitar tahun 1934. Sampai akhirnya Mangkunegaran tertarik dan menjadi santapan mereka juga.

Adapun saat ini, nasi liwet menjadi tren di kalangan masyarakat, termasuk di perkotaan. Mereka memakannya beramai-ramai atau biasa disebut bancakan (Jawa) yaitu mengkonsumsi nasi liwet bersama-sama dengan duduk berderet secara lesehan. Nasi dan lauk tersebut disajikan di atas daun pisang. Tertarik mencobanya? (ALE/SA)