Menyesap Nikmat dan Harum Kopi-Kopi Flat White Semarang

Menyesap Nikmat dan Harum Kopi-Kopi Flat White Semarang
Flat White (Inibaru.id/ Artika Sari)

Pecinta kopi di Semarang, sudahkah kamu mampir dan mencicipi kopi-kopi racikan Flat White? Yap, kendati baru dibuka Januari lalu, kedai kopi yang berada di Jalan Taman Ade Irma Suryani ini patut kamu singgahi, Di sana, sensasi nikmat minum kopi dan atmosfir semangat kerja bisa kamu dapatkan, lo!

Inibaru.id - Sutradara kawakan AS David Lynch suatu ketika pernah mengatakan, "Bahkan kopi yang buruk pun masih lebih baik ketimbang tak ada kopi sama sekali."

Saya sepakat dan paham dengan jalan pikiran pencinta kopi itu. Meski tak terlalu menggemari kopi, saya juga bersedia mengeksplorasi rasa minuman ini. Ketika teman menawari kopi atau memberi rekomendasi kedai kopi yang menarik, saya tak segan mencobanya.

Yeah, hitung-hitung menambah pengalaman kuliner! Alasan itu pula yang belum lama ini membuat saya ke Flat White, sebuah kedai kopi yang berlokasi di Jalan Taman Ade Irma Suryani 21-23 Semarang.

Setiba di sana, Ananta Lie menyambut kami dengan ramah. Di kafe dengan konsep minimalis modern itu, dia bercerita beberapa hal tentang kopi dan ihwal berdirinya kedai ini, termasuk bahwa Flat White baru dibuka pada Januari lalu.

Oya, Ananta adalah pemilik Flat White. Bersama sang adik, Adrian Hartanto Yudhaputra, Ananta mengubah tempat yang dulunya merupakan kedai es krim ini menjadi kedai kopi. Selain pemilik, Ananta juga merangkap sebagai salah seorang barista.

Setelah sekitar 20 menit mengobrol, Ananta pamit menuju bar. Tak lama, dia datang dengan nampan berisikan secawan kopi hitam plus tiga sloki. Dia mengatakan, kopi itu disedu manual dengan teknik V60.

"After taste kopi ini menyisakan rasa pedas," ungkap Ananta sembari mengangsurkan kemasan berisi biji kopi dari minuman yang saya cicipi.

Menyeduh kopi dengan Hario V60. (Flat White Coffee Shop)

Dia kemudian mempraktikkan gimana cara menuang kopi ke sloki. Menurutnya, air kopi jangan langsung dituang ke dasar sloki, biarkan mengalir dari cawan menuju dinding sloki.

"Jangan pula ditiup, karena rasanya bakal beda!" tuturnya.

Baiklah, saya pun mengikuti caranya. Kopi arabika Mandailing segera saya hirup, lalu membiarkannya mengaur di mulut, meniru cara Ananta merasai kopi. Benar saja, kopi tanpa gula itu beraroma wangi, berasa asam, tak terlalu pahit, dan menyisakan pedas di ujung lidah.

Tanpa banyak bicara, saya pun menuang kopi sekali lagi. Kali ini kopi yang saya sesap sudah tak terlalu panas, dan seperti kata Ananta, rasa asamnya semakin terasa, termasuk juga rasa pedas di ujung lidah yang kian kentara. Sungguh berkarakter!

Menuangkan kopi ke dalam cawan. (Flat White Coffee Shop)

Tak salah jika Flat White menggunakan teknik pour over V60 untuk Kopi Mandailing ini. Sedikit yang saya tahu, para barista memang konon menggunakan teknik seduh buatan ahli kimia asal Jepang, Tsuruoka, tersebut untuk mengeluarkan karakter terbaik kopi.

Benar atau tidak? Entahlah! Yang pasti, kopi buatan Ananta ini enak. Kamu perlu mencobanya, Millens!

Antara Latte dan Cappucino

Belum juga kopi Mandailing tandas, Ananta sudah datang lagi ke meja saya dengan secangkir kopi lainnya. Latte?

“Inilah ciri khas coffee shop kami,” terang Ananta begitu tiba di hadapan saya, mengangsurkan cangkir kopi mirip latte lantaran menggaunakan art di permukaannya, “Untuk gula silakan ambil sendiri di bar.”

Flat White, signature ala Flat White. (Inibaru.id/ Artika Sari)

Ternyata saya keliru. Kopi dengan art berbentuk bunga itu adalah flat white, bukan latte, apalagi cappucino.

Untuk saya yang kurang begitu paham dunia kopi, referensi saya tentang flat white memang tidaklah banyak. Yang saya tahu, istilah itu banyak dipakai di Australia, Selandia Baru, dan Inggris sejak 1980-an. Namun, ini pun masih penuh perdebatan.

Ketika saya tanyakan menu flat white kepada pemilik Flat White, Ananta tersenyum. Sejurus berselang, dia berteori yang intinya mengatakan, barista Flat White mengacu pada referensi yang mengatakan flat white adalah tengah-tengah antara cappucino dengan latte.

Ananta menerangkan, flat white-nya diracik dengan double shot espresso. Ini persis seperti yang saya tahu. Flat white mirip latte, tapi dengan takaran susu yang lebih sedikit, dan foam yang tipis di atasnya, atau bahkan tanpa foam sama sekali.

Menyoal flat white, minuman tersebut memang cenderung subjektif. Tiap kafe, dan negara, punya variasi sendiri. Namun, secara umum flat white terdiri atas espresso dan textured milk. Sejumlah barista memakai takaran susu yang lebih sedikit daripada saat meracik latte.

Baiklah, bicara tentang rasa, flat white di Flat White cukup lembut di mulut. Baristanya mungkin menganut metode yang masih menyisakan micro foam pada topping kopi ini, meski kadarnya barangkali nggak sebanyak latte, plus penambahan art yang sebetulnya tidak lazim dalam penyajian flat white.

Ketika saya tanyakan pada Ananta terkait penambahan art pada flat white buatannya, dia tertawa.

“Ya begitulah konsumen kami, terkadang kopi enak dilihat dari tampilannya yang cantik saja, dengan mengesampingkan rasa. Nah, kami menyajikan keduanya,” ujarnya, berpromosi.

Menyesap kopi ini, kamu bakal merasakan kopi yang cukup kuat, tapi milky, dengan tekstur minuman yang halus dan lembut. Berbeda dengan cappucino yang dipenuhi foam yang tebal, menikmati flat white kamu bakal langsung bertemu kopi yang milky dalam sesapan pertamamu.

Flat white ala Flat White dan FW Coffee Milk. (Inibaru.id/ Artika Sari)

FW Coffee Milk dan Kopi Susu

Saya puas. Namun, ternyata ini bukanlah kopi terakhir yang saya nikmati di Flat White petang itu. Saya kemudian disuguhi FW Coffee Milk, semacam kopi susu yang disajikan dengan mencampurkan susu dengan ice coffee cube.

Sebagai pembanding, saya juga disuguhi es kopi susu dalam kemasan gelas plastik. Minuman ini adalah produk spesial yang saat ini belum tersedia di Flat White.

Manisnya es kopi susu ala Flat White ini nagih, lo! (Inibaru.id/ Artika Sari)

FW Coffee Milk dengan es kopi susu yang belum ada namanya itu menurut saya jauh berbeda. Namun, keduanya punya satu kesamaan: manis! Untuk saya yang kurang begitu menyukai kopi dengan pemanis, saya nggak bisa berbicara banyak.

Eits, tapi kalau kamu suka kopi dingin dan manis, dua menu itu oke kok! Cukup berterima di lidah saya.

Malam menjelang, saya pun harus segera pulang. Tak hanya puas dengan bercangkir-cangkir kopi di Flat White, saya pun pulang dengan membawa banyak cerita tentang kopi.

Terima kasih, Ananta! Kapan-kapan lagi, ya! Ha-ha. (Artika Sari/E03)

 

Flat White

Kategori               : Kafe

Alamat                 : Jalan Taman Ade Irma Suryani 21-23, Semarang

Jam Buka             : 10.00-22.00 WIB

Harga Makanan     : Rp 18.000 s.d. Rp 38.000

Harga Minuman     : Rp 12.000 s.d. Rp 33.000