Filosofi Dalam Tiap Gigitan Semar Mendem

Filosofi Dalam Tiap Gigitan Semar Mendem
Semar mendem. (Instagram/bucit)

Dalam setiap makanan, nggak hanya komposisi dan rasa yang bisa kamu nikmati. Tiap bagiannya juga membawa filosofi yang dalam, lo.

Inibaru.id – Sebuah makanan nggak hanya berisi bahan-bahan sebagai komposisi, kandungan gizi, atau usaha si pembuat dengan sepenuh hati. Lebih dari itu, sebuah makanan juga dapat menjadi media untuk menyampaikan makna pada para penikmatnya.

Nggak ketinggalan dengan semar mendem. Dari namanya saja, kudapan khas Yogyakarta yang satu ini sudah terdengar unik bukan?

Jika diartikan, semar mendem berarti Semar yang sedang mabuk. Yap, Semar yang dimaksud merupakan tokoh pewayangan Jawa yang bijak dan terhormat. Konon, nama itu disematkan karena bentuk kue semar mendem yang mirip dengan perawakan Semar.

Semar mendem. (Resep Koki)

Semar mendem cenderung berbentuk padat dengan isi yang banyak. Mirip dengan Semar yang memiliki perawakan gempal, Millens. Sedangkan kata mendem atau mabuk dimaknai sebagai kebiasaan Semar yang gemar makan hingga kekenyangan.

Hm, sepertinya bukan hanya Semar nih yang gemar makan dan susah untuk berhenti sebelum kekenyangan. Menikmati semar mendem juga dapat membuatmu ketagihan dan sulit untuk berhenti mengunyah.

Terang saja, suwiran ayam yang gurih, legitnya ketan, plus telur dadar sebagai kulitnya memang merupakan perpaduan yang tepat untuk perut. Baik untuk camilan maupun menu makanan, semar mendem bukanlah pilihan yang salah.

Semar mendem. (Diahdidi)

Eits, peran Semar dalam kudapan semar mendem nggak berhenti sampai di situ, lo. Semar juga dilambangkan sebagai kekuasaan.

Secara filosofis, para Semar atau penguasa nggak boleh mendem atau mabuk kekuasaan. Jabatan yang dimiliki oleh para penguasa baiknya digunakan untuk melakukan hal-hal dalam kebaikan, terutama untuk mengayomi rakyat.

Wah, di balik gurihnya kudapan ternyata ada makna mendalam untuk para penikmatnya nih! Hm, bakal lebih menikmati rasa dan filosofi dalam setiap gigitannya nggak nih? Ha-ha. (IB10/E03)