Ingat! Diet Mayo Bukan Sekadar Mengurangi Kadar Garam!

Ingat! Diet Mayo Bukan Sekadar Mengurangi Kadar Garam!
Spaghetti carbonara jadi menu yang sering dibuat saat menjalani diet mayo. (Inibaru.id/ Artika Sari)

Menu yang bersahabat plus efek yang cepat membuat diet mayo digandrungi banyak orang. Konon, kita bisa turun berat badan hanya dengan dua minggu menjalani diet ini. Benarkah begitu? Bagaimana jika kita menjalani diet mayo lebih dari dua minggu?

Inibaru.id – Bagi sebagian orang, diet masih menjadi hal yang cukup sulit dilakukan. Selain malas berolahraga, sebagian orang juga beranggapan diet berarti mengurangi porsi makan, sehingga otomotis bikin perut tersiksa karena lapar. Padahal, jika benar-benar memahami fungsi serta manfaatnya bagi tubuh, diet nggak semenyiksa itu, lo.

Demi memacu semangat mendapatkan tubuh yang ideal, beragam metode diet lantas diperkenalkan pada publik. Salah satu metode yang terkenal adalah diet mayo yang digagas Mayo Clinic dari Amerika Serikat. Prinsip dasar dalam diet ini adalah membatasi konsumsi garam.

Yap, garam memang sering diklaim menjadi pantangan utama dalam diet yang dilakukan selama 14 hari tersebut. Konon, hanya dengan nggak mengonsumsi garam selama 14 hari saja, berat badan bisa berkurang hingga tujuh kilogram. Hm, cepat dan efektif, kan?

Karena dianggap efektif itulah diet mayo menjadi populer. Nggak sedikit orang melakukannya berkali-kali dalam satu tahun. Stevi Charolina, seorang pebisnis katering di Ungaran, Kabupaten Semarang, menjelaskan, dia mengaku pernah mendapatkan pelanggan yang melakukan hal tersebut.

“Pernah ada pelanggan yang lima bulan berturut-turut melakukan diet mayo. Menurut saya, itu nggak masalah. Toh, katering yang kami produksi juga menawarkan gizi yang seimbang,” kata Stevi.

Melenceng

Seorang ahli gizi dari California State University di AS, Jansen Ongko, sempat menjelaskan bahwa diet mayo yang dilakukan di Indonesia sebenarnya melenceng dari aslinya. Menurutnya, diet mayo sejatinya menekankan pada pentingnya menghilangkan lima kebiasaan buruk dan menggantinya dengan lima kebiasaan baik.

Lima kebiasaan buruk itu antara lain konsumsi gula dan daging yang berlebihan, kudapan rendah gizi tapi tinggi kalori, serta makan sambil melakukan aktivitas lain seperti nonton televisi atau main gawai.

Sementara, kebiasaan buruk itu sebaiknya diganti dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, sarapan dengan menu yang sehat, mengonsumsi karbohirat kompleks dan biji-bijian, mengonsumsi lemak sehat, serta olahraga selama 30 menit.

Ongko menambahkan, rentang diet mayo selama 14 hari adalah aturan yang nggak valid. Menurutnya, pemahaman ini perlu diluruskan. Dalam buku panduan yang dikeluarkan Mayo Clinic, Ongko menjelaskan bahwa dalam dua pekan setelah menjalani metode diet ini, seseorang akan mengalami penurunan berat badan.

Oya, Mayo Clinic sejatinya juga nggak melarang penggunaan garam, melainkan hanya membatasi. Perlu kamu catat, nih, Millens.

Kendati diet mayo mampu menurunkan berat badan secara cepat, yang hilang dari tubuh sebenarnya adalah kadar persentase air, bukan lemak tubuh. Jadi, supaya lemak tubuh hilang, olahraga memegang peran penting dalam diet ini.

Sayang, keefektifan diet ini justru berimbas pada psikologis orang yang menjalaninya. Pelaku diet umumnya jadi malas berolahraga. Diet mayo pun ujung-ujungnya hanya dipandang sebagai solusi menurunkan berat badan, bukan menciptakan pola makan yang baik dan bisa digunakan untuk jangka waktu yang panjang.

Kalau kamu pengin menjalani diet yang aman dan nyaman, sebaiknya konsultasilah pada ahli gizi. Dengan saran dari ahli gizi, kamu jadi tahu apa saja yang dibutuhkan tubuhmu. Yang nggak kalah penting diingat adalah diet bukan hanya untuk mendapatkan tubuh yang ideal, tapi juga hidup yang sehat. Sepakat? (Artika Sari/E03)