Mengulik Memori dari Satu Cup Gulali Jaman Old

Mengulik Memori dari Satu Cup Gulali Jaman Old
Satu cup Gulali Jaman Old. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Bagi generasi 90-an, jajanan yang satu ini pasti sudah nggak asing. Rasanya yang manis, bisa menghipnotis siapa saja dan membawanya kembali ke masa kecil.

Inibaru.id –  Menjamurnya bisnis makanan dan minuman akhir-akhir ini sedikit banyak menggeser makanan-makanan tempo dulu. Salah satunya ya gulali ini. Coba diingat-ingat lagi, kapan kali terakhir makan gulali? Atau jangan-jangan kamu sudah lupa dengan jajanan yang satu ini?

Eits, tapi tenang, manisnya gulali masih bisa kamu nikmati kapan saja. Di Jalan Indraprasta, Semarang, jajanan tempo dulu ini masih bisa dijumpai. Di antara gerobak jajanan zaman now, gerobak Gulali Jaman Old tampak mentereng. Didominasi warna merah jambu, gerobak Gulali Jaman Old seperti menawarkan sesuatu yang sweet. Hm

Selagi saya ada di sini, nggak ada salahnya saya mencoba jajanan ini.

Kebersihan adalah hal utama dalam proses pembuatan gulali basah ala Gulali Jaman Old. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Kebersihan adalah hal utama dalam proses pembuatan gulali basah ala Gulali Jaman Old. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Akhirnya, saya memesan dua cup gulali untuk sedikit bernostalgia dengan masa kecil. Ada 11 varian rasa yang ditawarkan Gulali Jaman Old, yaitu original, teh tarik, alpukat, stroberi, jeruk, melon, mangga, cokelat, tiramitsu, anggur, dan durian. Tenang, gulali ini aman dimakan karena menggunakan pemanis dan pewarna alami. Selain aman, saya hanya perlu mengeluarkan uang Rp10.000 untuk gulali rasa original dan tiramitsu yang saya pesan. Murah! Saya pikir harganya akan selangit karena jajanan ini sudah cukup langka.

Adik kandung Sardjono, owner GJO Indraprasta mulai mempersiapkan alat perangnya untuk membuatkan saya gulali. Diambilnya adonan gulali yang tertata rapi di dalam toples sesuai dengan varian rasa yang tersedia. Nggak lupa, dia memakai sarung tangan untuk menjaga gulali agar tetap higenis. Perlahan dia lumuri adonan gulali dengan tepung. Ini supaya adonan gulali nggak lengket dan mudah dibentuk.

Hm, sudah nggak sabar incip-incip nih. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Hm, sudah nggak sabar incip-incip nih. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Bagian yang paling saya suka selain icip-icip adalah ketika Sardjono mulai menarik adonan dan melipatnya menjadi angka 8. Agar serabut terbentuk, adonan harus terus menerus dilipat membentuk angka 8 sambil sesekali menaburi tepung. Nggak lama, satu cup gulali saya siap. Sebuah garpu mini melengkapi jajanan saya.

Manisnya pas dan nggak gatal di tenggorokan adalah sensasi pertama saya saat menikmati gulali varian original ini. Bahkan tepungnya yang halus pun nggak terasa getir saat dimakan bersama si manis. Saking halusnya, tepung ini beterbangan dan mengotori baju saya. He he 

Menikmati sore hari yang sibuk di Jalan Indraprasta dengan satu cup gulali. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)
Menikmati sore hari yang sibuk di Jalan Indraprasta dengan satu cup gulali. (Inibaru.id/ Dyana Ulfach)

Ramainya lalu lintas di Jalan Indraprasta sore itu sejenak saya kesampingkan untuk menikmati gulali ini. Terlebih di depan gerobak yang berdiri kokoh SD Pendrikan Lor 3 ini, memori masa SD saya pun bermunculan.

Gerobak ini sudah bisa diserbu mulai pukul 13.00 - 19.00 WIB. Kuy Millens, mengenang masa-masa saat masalah terberat dalam hidup hanyalah PR matematika dengan satu cup Gulali Jaman Old ini. (Dyana Ulfach/E05)