Teknik Mempersolek Makanan dengan Sains: Gastronomi Molekuler

Teknik Mempersolek Makanan dengan Sains: Gastronomi Molekuler
Kaviar bergaya gastronomi molekuler. (Shutterstock.com)

Gastronomi molekuler menjadi salah satu teknik mengolah makanan yang populer. Di balik kepopulerannya, teknik ini rupanya sempat menjadi perdebatan di antara para koki, lo. Hm, gimana sih ceritanya?

Inibaru.id – Dunia kuliner begitu menarik untuk dijelajahi. Nggak hanya soal rasa, teknik pengolahannya pun menarik untuk diamati. Salah satu teknik pengolahan yang menarik adalah Gastronomi Molekuler. Hah, apa itu?

Gastronomi molekuler adalah teknik olahmakanan yang menjadikan sains untuk mengkreasi bahan pangan. Nah, dari pengertiannya saja, gambaran tentang ilmu alam otomatis melintas di kepala. Beberapa restoran menggunakan teknik ini supaya makanan nggak sekadar enak disantap, tapi juga dipandang.

https://nextgen.web.id/wp-content/uploads/2017/10/Molecular-Gastronomy-The-Food-of-the-Future-3.jpg

Kuliner bergaya gastronomi molekuler. (nextgen.web.id)

Istilah gastronomi molekuler digagas fisikawan Inggris Nicholas Kurti dan kimiawan Prancis Herve This pada 1988. Istilah ini sempat mengalami kerancuan, Millens. Sebagian orang menganggap gastronomi molekuler sebagai cabang ilmu yang mempelajari proses fisiokimiawi dalam bahan pangan saja.

Seiring waktu, istilah tersebut kemudian berkembang menjadi teknik memasak yang membutuhkan pengetahuan fisika dan kimia. Dengan memiliki pengetahuan ini, koki jadi paham bagaimana mengolah sekaligus memanfaatkan sifat dari suatu bahan pangan.

Kevin Sousa, Adam Melonas, dan Laurent Gras adalah beberapa koki terkenal yang kerap menggunakan teknik ini. Kendati sudah berkembang menjadi teknik pengolahan makanan, gastronomi molekuler bukannya nggak mengundang pro dan kontra lagi bagi para koki.

Heston Blumenthal dan Ferran Adria pernah protes dengan mengatakan istilah ini nggak mendeskripsikan gaya memasak apa pun.

https://secure.i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01434/heston-blumenthal_1434103c.jpg

Heston Bluementhal menolak gaya memasaknya disebut masuk kategori gastronomi molekuler. (Telegraph.co.uk)

Seolah pengin memberi kejelasan, CTO Microsoft sekaligus koki Nathan Myhrvoid kemudian merilis sebuah buku berjudul Modernist Cuisine: The Art and Science of Cooking pada Februari 2011.

Dalam bukunya tersebut, Myhrvoid membahas perbedaan gastronomi molekuler dan masakan modern. Lelaki yang menempuh pendidikan kulinernya di Ecole de Cuisine Le Varenne ini mengatakan, gaya memasaknya nggak termasuk dalam kategori gastronomi molekuler.

Hm, terlepas dari pro dan kontranya, gastronomi molekuler berhasil menyuguhkan pengalaman baru dalam menyantap makanan.

Yuk, berharap semoga industri kuliner, khususnya industri kuliner Indonesia, juga makin sering melahirkan inovasi-inovasi baru! (IB15/E03)