Mengapa Makanan Manis Identik dengan Lebaran?

Mengapa Makanan Manis Identik dengan Lebaran?
Salah satu makanan manis khas Lebaran, nastar (Inibaru.id/ Rafida Azzundhani)

Kalau dicermati, makanan khas Lebaran seperti nastar dan kue-kue kering lainnya sering disajikan saat Lebaran. Ternyata, ada makna dari keberadaan makanan-makanan manis ini di perayaan Idulfitri, lo. Yuk simak penjelasannya!

Inibaru.id - Setelah sebulan penuh berpuasa, kamu tentu akan merayakan Lebaran dengan penuh suka cita. Di hari raya ini, kamu bisa kembali makan dan minum kapan saja. Hanya, jika dicermati, saat hari raya Idulfitri, terdapat banyak sekali kue-kue kering yang manis seperti nastar, kastangel, putri salju, dan lain-lain. Apa makna dari keberadaan makanan-makanan manis ini saat Lebaran, ya?

Ternyata, kebiasaan menyajikan makanan manis saat Lebaran nggak hanya dilakukan masyarakat Indonesia. Di Turki, misalnya, warganya terbiasa menyajikan Baklava dan Güllaç, semacam puding berlapis yang terbuat dari wafer, pati, dan disiram dengan susu dengan cita rasa yang manis saat Lebaran.

Ilustrasi baklava. (TheInternationalKitchen)
Ilustrasi baklava. (TheInternationalKitchen)

Nggak beda jauh dengan Turki, masyarakat Afghanistan juga terbiasa menyajikan sheer kurma saat Lebaran. Sajian tersebut terdiri dari puding susu yang dipadukan dengan bihun, susu, kurma, dan cacahan kacang-kacangan. Rasanya? Tentu saja manis!

Priscilla Mary Isin, seorang penulis dan sejarawan makanan yang berbasis di Istanbul mengungkapkan bahwa makanan manis memang berkaitan erat dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri.

"Makanan manis melambangkan niat baik, nasib baik dan kebahagiaan, sehingga menjadikannya sebagai bagian dari perayaan keagamaan dan acara-acara gembira seperti pernikahan,” jelas Priscilla sebagaimana dikutip dari TRT World (18/5/2020).  

Ilustrasi sheer kurma. (CookWithManali)
Ilustrasi sheer kurma. (CookWithManali)

Sebenarnya, makanan-makanan manis ini nggak hanya disajikan saat Lebaran, melainkan juga saat Ramadan, khususnya pada saat berbuka puasa. Hanya, saja, saat Idulfitri, jumlah makanan manis yang disajikan memang lebih banyak.

Sebagai contoh, masyarakat Timur Tengah juga terbiasa menyajikan makanan manis saat Lebaran. Makanan-makanan ini dianggap mampu membangkitkan ide spiritualitas dan memeriahkan perayaan hari raya yang suci.

“Dalam agama Islam, makanan manis telah menjadi aspek spiritual tradisional, melambangkan berkah dari Tuhan bagi para manusia, dan wujud cinta manusia kepada Tuhan,” tambah Priscilla.

Sebagai informasi, pada abad ke-13, seorang pujangga Muslim bernama Rumi sering menggunakan kata 'Helva'. Kata yang berasal dari bahasa Arab ini berarti makanan manis. Menariknya, 'helva' juga bisa dipakai sebagai metafora untuk konsep religius.

Meski ada banyak makanan manis di rumah saat Lebaran, kamu jangan mengonsumsinya dengan berlebihan biar nggak mudah gemuk setelah Lebaran, ya, Millens(Kum/IB24/E07)