Mencuil Kenangan dengan Kukis dan Es Krim Toko Oen Semarang 

Mencuil Kenangan dengan Kukis dan Es Krim Toko Oen Semarang 
Toko Oen Semarang yang tengah ramai pengunjung pada jam makan siang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Berkunjung ke Kota Semarang, nggak lengkap kalau belum berkunjung ke Toko Oen Semarang yang terkenal dengan kukis-kukis manis yang telah berdiri sejak zaman kolonialisme Hindia-Belanda ini. 

Inibaru.id – Jalan Pemuda adalah bukti kemewahan Kota Semarang dari dulu hingga sekarang. Terbentang dari Jembatan Mberok hingga Tugu Muda, jalan yang dulu bernama Bodjong weg itu merupakan pusat bisnis, pendidikan, dan kuliner. Untuk kuliner, salah satu bukti sejarah itu adalah Toko Oen.

Toko yang menyatu dengan restoran itu masih berdiri kokoh di Jalan Pemuda No 52. Sejak dulu, memang di situlah tempatnya. Bangunannya khas, bergaya kolonial dengan tembok-tembok tebal bercat putih serta sedikit corak hijau, berpadu dengan pintu dan kusen dari kayu yang megah dan menjulang; terkesan tua, tapi elegan.

Kali pertama memasuki bangunan tua itu pada November lalu, mata saya nggak berhenti mengitari ruangan dengan langit-langit tinggi tersebut. Nggak hanya eksterior bangunan yang tua, interior ruangannya pun lawas, termasuk kursi kayu yang saya duduki.

Sepelemparan batu dari tempat saya duduk, saya bisa melihat foto-foto zadul Toko Oen dari masa ke masa. Nggak jauh dari situ, beberapa lemari kayu menempel di salah satu sisi bangunan. Lalu, di depannya ada rak display kue dengan rangka kayu yang juga terlihat lawas, tapi sungguh mewah.

Di atas rak, ada beberapa toples kaca terpajang, berisi kukis-kukis yang tampak legit. Semuanya terlihat serba tua. Namun, yang paling menarik adalah mesin tua penyimpan dan penghitung uang di salah satu sudut ruangan, terbuat dari besi tua berukir "Guldens Cents".  

Kalau saya perhatikan, Toko Oen terdiri atas tiga ruangan. Yang pertama adalah ruangan tempat saya duduk yang kental akan suasana khas tempo dulu. Lalu, yang kedua adalah ruangan dengan cermin besar, bertema hitam-putih yang agak menjorok ke dalam; sedangkan yang terakhir adalah ruangan privat berinterior zadul dengan lampu agak temaram.

Ruangan terakhir itu dihiasi pelbagai foto dan kliping koran tentang Toko Oen. Menurut saya, tempat ini adalah yang paling nyaman; tenang diiringi musik klasik yang diputar via pelantang suara. Untuk yang suka menyanyi tipis-tipis, kamu juga bisa menyanyi melalui mikrofon yang telah disediakan.

Satu-satunya Toko yang Tersisa

Dari luar, Toko Oen mudah dikenali dengan namanya yang tertera pada puncak bangunan tua di Jalan Pahlawan Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Dari luar, Toko Oen mudah dikenali dengan namanya yang tertera pada puncak bangunan tua di Jalan Pahlawan Semarang. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Memasuki Toko Oen, seorang karyawan, lelaki paruh baya berkopyah, segera menghampiri saya. Sejurus kemudian, dia mengarahkan saya ke ruangan privat yang dihiasi foto dan kliping itu. Di tempat tersebut sudah ada Megaputri Megaradjasa, sang pemilik Toko Oen. 

Kami memang sudah janjian sebelumnya. Setelah mempersilakan saya duduk, perempuan murah senyum itu segera bercerita tentang riwayat kepemilikan toko yang dikenal dengan menu andalan kukis dan es krim zadul itu. Dia mengatakan, kata "Oen" dari Toko Oen diambil dari nama kakeknya. 

"Pendiri Toko Oen adalah oma (nenek) saya, Liem Gien Nio; mereknya diambil dari nama opa (kakek) saya, Oen Tjoen Hok," terang pemilik generasi ketiga yang akrab disapa Yenni itu. "Didirikan di Yogyakarta pada 1910-an."

Oma Oen, panggilan sehari-hari Yenni untuk Liem Gien Nio, semula memulai usaha dari toko kue atau kukis. Dua dekade kemudian, Oma Oen mulai membuat konsep baru dengan menyajikan menu makanan berat seperti es krim dan masakan ala Belanda. Dia juga membuka cabang baru.

Cabang pertama dibuka di Batavia (Jakarta) pada 1934. Dua tahun kemudian, Toko Oen Semarang dan Malang didirikan. Sayang, karena sebagian besar keluarga pindah ke Belanda, toko utama di Yogyakarta dijual. Pun demikian dengan cabang Jakarta dan Malang.

“Semua cabang dijual dan hanya menyisakan cabang Semarang," ungkap Yenni yang kemudian mengatakan bahwa daftar menu, interior ruangan, dan lokasi bangunan yang dipakai Toko Oen Semarang kala itu masih sama dengan yang terlihat saat ini. 

Bertahan dengan Kesan Zadul

Rak-rak kue dan toples-toples kaca berisi kukis dan penganan zadul menjadi sudut paling menggiurkan di Toko Oen. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Rak-rak kue dan toples-toples kaca berisi kukis dan penganan zadul menjadi sudut paling menggiurkan di Toko Oen. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Yenni mengungkapkan, Toko Oen di Semarang saat ini masih menonjolkan interior ruangan yang klasik sebagaimana awal berdiri. Dia memang nggak berniat mengubah kesan zadul yang melekat pada toko ini, kendati untuk beberapa hal semisal pemasangan pendingin ruangan dia tetap harus kompromi. 

Kalaupun ada bagian bangunan yang direnovasi, hal itu semata karena memang cukup esensial. Misalnya, beberapa tahun lalu Yenni meninggikan lantai lantaran toko yang berlokasi nggak jauh dari Kota Lama itu mulai kerap disapa rob atau air pasang.

Sementara, untuk daftar menu, Toko Oen masih mengandalkan masakan khas Belanda, baik kukis, es krim, maupun main course-nya. Yenni mengatakan, dari tiga menu tersebut, yang menjadi signature dish di tempatnya adalah kue lidah kucing, bistik dan nasi goreng, serta es krim tutti frutti.

"Kalau kukis, lidah kucing dipastikan habis tiap hari. Sementara, main course-nya bistik dan nasi goreng, sedangkan untuk es krim, ya, tutti frutti yang paling top,” paparnya, promosi.

Untuk memperoleh cita rasa autentik seperti dulu, Yenni mengaku tetap mempertahankan komposisi resep dengan bahan-bahan premium, misalnya keju untuk kukis yang diimpor langsung dari Belanda yakni keju merah.

"Pernah suatu kali kami coba pakai keju jenis lain, tapi kualitasnya beda dan nggak 'masuk'; ya sudah,  take it or leave it, kami akhirnya milih nggak jual kukis waktu itu,” aku Yenni.

Akulturasi Tiga Budaya

Megaputri Megaradjasa, generasi ketiga pemilik Toko Oen. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Megaputri Megaradjasa, generasi ketiga pemilik Toko Oen. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Kota Semarang yang identik dengan tiga budaya, yakni Belanda, Tionghoa, dan Indonesia, membuat Toko Oen mengadopsi akulturasi tersebut. Maka, jangan heran kalau kamu menjumpai menu makanan yang memiliki cita rasa ketiga budaya tersebut di toko ini.

Sebagai tempat kuliner yang telah berdiri lebih dari tiga generasi, Yenni meyakini bahwa kualitas Toko Oen pasti lebih unggul dari toko atau resto lain. Terlebih, dalam mengelola tempat makan ini, dia sangat menjaga resep di toko tersebut agar autentik, seperti kali pertama didirikan.

"Kami masih ingin membawa konsep, kenangan, dan penganan, dalam satu wadah autentik yang tersaji di Toko Oen," terang perempuan yang selalu kebingungan saat ditanya apa yang menjadi favorit pengunjung di tokonya tersebut.

Menurut saya, semua sajian di Toko Oen memang menggiurkan. Sekilas mengamati meja-meja pengunjung, saya bisa melihat tiap orang memiliki menu yang berbeda. Agaknya tiap orang memang memiliki menu favoritnya masing-masing.

Meja-meja yang disediakan untuk pengunjung juga tampak selalu ramai, terutama pada akhir pekan. Inilah pula alasan kenapa Yenni enggan menyewakan Toko Oen untuk acara tertentu. Dia nggak pengin ada pengunjung yang kecele karena toko tutup.

“Pas weekend pasti banyak turis dari luar kota yang datang, jadi kami nggak mau bikin mereka kecewa karena Toko Oen tutup,” tegas Yenni sembari membenarkan rambut pendeknya.

Toko Oen dan Semarang

Coupe au Cafe, es krim rasa kopi yang cukup banyak dipesan pengunjung Toko Oen. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)
Coupe au Cafe, es krim rasa kopi yang cukup banyak dipesan pengunjung Toko Oen. (Inibaru.id/ Kharisma Ghana Tawakal)

Beberapa orang mungkin menganggap Kota Semarang identik dengan lunpia atau wingko, atau rob-nya. Namun, nggak demikian untuk Nani Cahyani. Bagi perempuan yang berusia sepantaran dengan Yenni itu, Semarang selalu mengingatkannya pada Toko Oen.

Siang itu, saya melihat Nani berkunjung bersama keluarganya. Dari percakapan sepeminuman teh kami, saya tahu dia adalah salah seorang pelanggan setia toko berusia 85 tahun ini. Nani yang mengaku telah menjadi pelanggan sejak duduk di bangku sekolah itu mengatakan, nggak banyak yang berubah dari Toko Oen.

“Sejak sekolah saya paling suka es krim tutti frutti sama kukis lidah kucing dan sagu keju," terangnya sambil melihat kukis-kukis di deretan toples kaca, lalu tersenyum senang. "Rasa Toko Oen konsisten dan selalu enak.”

Mendengar itu, saya ikut tersenyum. Pandangan saya kemudian mengitari ruangan yang kian ramai pada jam makan siang tersebut. Sebagian pengunjung sudah paruh baya, yang bisa jadi sedang bernostalgia; tapi sebagian lainnya masih sangat muda, mungkin sedang mencari cerita. Ha-ha.

Menurut saya, nggak muluk-muluk menjadikan Toko Oen sebagai warisan kuliner yang patut untuk disambangi saat berkunjung ke Kota Semarang. Eits, tapi siapkan kocek yang cukup saat datang ke sini, ya, Millens! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)