Mencicipi Es Gempol Pleret, Minuman Asli Solo yang Nggak Kalah Tenar di Semarang

Mencicipi Es Gempol Pleret, Minuman Asli Solo yang Nggak Kalah Tenar di Semarang
Es gempol pleret. (Inibaru.id/ Audrian F)

Es gempol pleret merupakan minuman tradisional yang biasanya terletak di pasar-pasar. Minuman ini asli Solo. Namun di Kota Semarang kamu bisa menemui di Kawasan Pecinan.

Inibaru.id - Es gempol pleret termasuk minuman tradisional yang biasanya ditemui di pasar-pasar. Kalau kamu generasi ’90 an, pasti nggak asing dengan minum satu ini. Terlebih memang minuman khas Solo ini namanya sudah melegenda. Kendati demikian, bagi saya yang generasi milenial ini belum pernah sekalipun mencicipi es gempol pleret tersebut. Duh, memalukan!

Berniat mencicipnya, saya menuju jalan Wotgandul Timur, tepatnya ada di Kawasan Pecinan. Sebelumnya saya memang sudah mencari tahu mengenai info penjual es gempol pleret itu via daring, dan ternyata ada di Kawasan Pecinan.

Dimas Imanudin sedang menyiapkan es gempol yang saya pesan. (Inibaru.id/ Audrian F)

Sampai di sana saya masih cukup beruntung, sebab kata Dimas Imanudin, sang penjual, persediaan gempolnya sudah hampir habis. Iya sih, saya kesorean. Tapi tetap saja ini menunjukkan kalau minuman legendaris ini masih banyak digandrungi. Bener nggak?

“Pleretnya masih banyak tapi gempolnya tinggal satu,” kata Dimas, Minggu (17/11) sore. Buat saya nggak masalah asal masih bisa mencicipi rasa masing-masing bagian dari es gempol pleret tersebut.

Es gempol pleret disajikan dalam mangkuk. Sesuai namanya, dalam mangkuk tersebut terdiri dari gempol, pleret, dan kuah santan yang diberi es batu agar lebih segar. Santannya pun diperas dari kelapa parut bukannya santan instan. Sebagai pemanis, Dimas menggunakan gula halus.

Es gempol pleret cocok diminum di saat cuaca panas. (Inibaru.id/ Audrian F)

Pertama yang saya cicipi adalah kuahnya. Manis dan dingin. Namanya juga pakai es batu. He he Kemudian saya mencoba pleret dan gempolnya. Kata Dimas, keduanya terbuat dari tepung beras. Mengunyah gempol maupun pleret harus menggunakan kuah santan. Sebab jika dimakan begitu saja, nggak ada rasanya.

Dari obrolan dengan Dimas, dia meneruskan usaha ini dari ibunya. Sang ibu yakni Waliyem, sudah hampir 50 tahun berjualan es pleret ini. Namun dulu lokasinya berada di Pasar Johar Lama. Wuih, sudah cukup lama juga ya, Millens.

“Saya meneruskan usaha ibu saya. Sekarang sudah tua jadi istirahat di rumah. Dulu sejak usia 16 dia berjualan es gempol pleret. Waktu itu masih di Pasar Johar Lama,” ucap Dimas. Kemudian dia membeberkan kalau memang ibunya asli Solo dan usaha es gempol pleret ini sudah dari zaman neneknya.

Kamu bisa menemukan es gempol pleret ini di Jalan Wotgandul Timur. (Inibaru.id/ Audrian F)

Dimas juga menjelaskan kalau beda es gempol pleret di Semarang dengan di Solo adalah pada pleretnya. Kalau di Solo berwarna cokelat. Sementara di Semarang berwarna merah. Kemudian kuahnya cuma santan peras yang ditaburi gula halus. Beda dengan gempol pleret Solo yang pakai gula jawa.

Kalau kamu tertarik mencicipi es gempol pleret ini silakan datang saja ke Jalan Wotgandul Timur, Kawasan Pecinan, Kota Semarang. Harganya murah meriah, cukup Rp 8 ribu saja. (Audrian F/E05)