Memanjakan Lidah di Warung Sate Mbak Tun Babadan

Memanjakan Lidah di Warung Sate Mbak Tun Babadan
Sate kambing Mbak Tun Babadan, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Meski berada di belakang Pasar Babadan Ungaran, warung ini mudah dicari karena ada papan penunjuk yang menunjukan arahnya. Jaraknya pun nggak terlalu jauh dari pasar, sekitar 500 meter, kamu akan sampai di warung makan yang punya sajian daging kambing enak itu.

Inibaru.id – Dari luar, tampak kertas bertuliskan “Habis” menempel di jendela sebuah bangunan yang berada  di Jalan Merdeka Langensari, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ini. Padahal, waktu baru menunjukan pukul 13.00 siang, masih tergolong pagi untuk menyudahi aktivitas jual-beli di sebuah rumah makan yang menjual satai.

Meski begitu, saya tetap masuk ke dalam. Di sana, beberapa orang terlihat berlalu-lalang membersihkan meja, sebagian ada pula yang masih menyantap sepiring nasi dan gulai kambing.

“Wah, datangnya terlalu siang, Mbak. Minggu depan datang lebih pagi lagi ya!” ujar Ali, salah seorang dari tiga pemilik warung satai tersebut.

Yap, saya terlambat tahu kalau menu di Warung Sate Mbak Tun ini selalu habis pada jam makan siang. 10 ekor kambing yang selalu mereka sediakan setiap hari seakan belum cukup memenuhi permintaan para pelanggan setia mereka.

Gongso iga kambing. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Warung Sate Mbak Tun memang nggak berjualan setiap hari. Mereka hanya buka selama dua hari dalam seminggu dalam kalender pasaran Jawa, yakni pada Wage dan Legi. Mungkin karena inilah sajian di sana selalu habis diburu para penikmatnya.

Saya beruntung, pemilik rumah makan tersebut masih menyisakan tiga menu, yaitu satai kambing, gongso iga kambing, dan gulai kambing campur. Ketiganya dibandrol dengan harga yang sama, Rp 35 ribu.

Menu di Warung Sate Mbak Tun. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Lilik Alfiah, adik Ali yang juga merupakan pemilik warung, mengatakan, kendati warungnya bertajuk "sate kambing", Sate Kambing Mbak Tun kini juga menjual menu berbahan daging lain seperti tengkleng, gulai, gongso, iga bakar, dan krengsengan. Mereka bahkan menyajikan nasi briyani.

“Semula memang hanya jual satai, kemudian berkembang sampai sekarang punya banyak menu," terang Lilik, "Salah satu yang paling banyak diburu adalah gulai sum-sum kambingnya."

Menurutnya, Gule Sum-Sum paling diburu karena mereka memang hanya menyediakan sedikit stok tiap kali berjualan. Yap, benar saja, saat saya ke sana, menu gulai itu memang sudah habis.

Nah, tips buat Sobat Millens, kalau mau berkunjung ke sana sebaiknya pesan makanan sehari sebelumnya, ya. Biasanya para pelanggan Sate Mbak Tun melakukan hal ini agar nggak kehabisan.

Gule Kambing. (Inibaru.id/Verawati Meidiana)

Meski nggak sempat merasakan nikmatnya Gule Sum-Sum, kekecewaan saya cukup terbayar tuntas dengan rasa Gule Campur, Gongso Iga, dan Sate Kambing yang juara! Porsinya melimpah, bumbunya pas, dagingnya empuk, dan nggak berbau apak.

"Daging kambing yang kami masak berasal dari kambing muda, sehingga empuk dan enak," ungkap Lilik.

Sekadar informasi, Gongso Iga di warung Mbak Tun punya cita rasa yang cukup unik. Suapan pertama telah membuat saya melipat lidah. Rasa pedas, asin, manis terasa begitu sedap karena merupakan hasil perpaduan banyak rempah. Sajian ini terasa makin enak karena beberapa kali saya mencium aroma daun jeruk yang segar.

Sementara, menu Gule Campur punya isi yang lebih variatif. Ada potongan daging, jeroan, hingga tulang di dalamnya. Kuahnya spesial dengan rasa gurih yang berasal dari kelapa sangrai atau yang dikenal dengan serundeng. 

Selain gurih, pemakaian kelapa sangrai ini bikin aromanya lebih sedap dan kuahnya tetap bening jika dibandingkan degan gulai yang menggunakan santan. Makanan ini sangat cocok disantap dengan nasi panas.

Wah, pokoknya jangan lupa untuk mampir ke sana ya kalau kamu berada di Semarang ya, Millens. Top! (Verawati Meidiana/E03)