Lambang Kemakmuran, Makna Filosofis Nasi Kuning

Masyarakat Indonesia sering menyertakan nasi kuning sebagai hidangan wajib dalam berbagai perayaan. Termasuk dalam perayaan ulang tahun, maupun perayaan tradisi di berbagai wilayah.

Lambang Kemakmuran, Makna Filosofis Nasi Kuning
Hidangan nasi kuning khas Indonesia. (cookpad.com)

Inibaru.id – Nasi kuning atau yang dikenal pula dengan nama nasi tumpeng, lazimnya disajikan dengan bentuk mengerucut atau menyerupai gunung. Merujuk pada koranyogya.com, warna kuning dengan bentuk gunung tersebut memiliki makna kemakmuran.

Makna tersebut membuat nasi kuning ini selalu nongol dalam acara syukuran maupun perayaan sedekah bumi. Sebab, acara tersebut merupakan wujud syukur yang ditunjukkan masyarakat atas berkat kemakmuran yang telah diterimanya. Selain itu, bentuk mengerucut juga menjadi simbol dari adanya harapan agar hubungan secara vertikal antara manusia dan Tuhan dapat terjaga baik. Dalam banget ya, Millens!

Variasi lauk dalam sajian nasi kuning. (divertone.com)

Oh iya, biasanya nasi kuning ini disajikan dengan berbagai macam pelengkap yang juga memiliki makna filosofis lo! Seperti ayam, ikan, telur rebus dan sayur urap. Nah, untuk ayam, biasanya yang dipilih adalah ayam jago yang kemudian dimasak utuh (ingkung). Ini merupakan simbol dari kekhusyukan dalam menyembah Tuhan dan mengendalikan diri.

Sayuran yang ikut disajikan juga nggak sembarangan, sobat Millens. Ada tujuh jenis sayuran yang masing-masing memiliki makna. Sayur pertama adalah kangkung yang berarti melindungi. Kemudian bayam yang menjadi simbol ketentraman. Lalu taoge (kecambah) yang berarti tumbuh. Kacang panjang yang dapat dimaknai sebagai harapan agar seseorang memiliki pemikiran ke depan.

Bawang merah yang melambangkan pertimbangan dari segala sesuatu. Cabe merah yang sering digunakan sebagai hiasan di ujung tumpeng yang berarti penerangan. Kluwih yang menjadi simbol harapan agar memiliki keunggulan dan bumbu urap yang bermakna menghidupi.

Nah, sekarang sudah paham kan? (IB23/E05)