Di Balik Rasa Legit, Kue Apem Punya Sejuta Makna

Di Balik Rasa Legit, Kue Apem Punya Sejuta Makna
Kue apem yang sering disuguhkan saat ada tradisi di Jawa punya makna khusus. (Gerbera Snack Shop)

Kue lembut yang sering disuguhkan saat hajatan ini punya segudang makna. Berikut ulasannya.

Inibaru.id – Kue apem sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Saat hajatan, masyarakat Jawa sering menyajikan kue ini. Di balik rasanya yang manis, kue ini rupanya diyakini sebagai simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan manusia, Millens.

Konon, nama kue apem berasal dari bahasa Arab afuan atau afuwwun yang berarti ampunan. Karena agak sulit diucapkan, orang Jawa kemudian menyederhanakannya menjadi apem seperti yang ditulis Brilio.net (9/4/2015).

Kue apem dikaitkan dengan permohonan ampunan karena kue ini biasanya disajikan saat menjelang bulan puasa. Seperti yang diketahui, Ramadan identik dengan bulan ampunan.

Di beberapa daerah, kue apem itu dibuat untuk kemudian dibawa ke masjid atau musala. Di sana, masyarakat berdoa bersama untuk meminta ampunan. Setelah itu, kue ini kemudian dibagikan kepada para tetangga sebagai ungkapan rasa syukur atas berbagai rezeki.

Masyarakat Madura, khususnya yang ada di kota Sumenep adalah salah satu masyarakat yang memiliki tradisi apeman, Millens. Menjelang Ramadan, mereka membuat dan mengonsumsi kue apem bersama-sama sambil melakukan syukuran. Tradisi ini dilakukan untuk memperperat tali silaturahmi antarwarga.

Selain disajikan pada tradisi doa bersama sebelum Ramadan, sejumlah daerah menyuguhkan kue ini untuk memperingati bulan kedua dalam penanggalan Islam yakni Safar. Di Cirebon, masyarakat akan membuat kue apem bersama-sama, kemudian dibagikan ke tetangga secara gratis. Masyarakat Cirebon juga percaya, kue tradisional ini  bisa menjadi sarana tolak balak atau mencegah datangnya nasib buruk.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, tradisi kue apem ini dimulai sejak zaman Sunan Kalijaga. Salah satu muridnya, Ki Ageng Gribik atau Sunan Geseng yang saat itu baru saja pulang dari perjalanan ibadah haji bertemu dengan penduduk Desa Jatinom, Klaten, yang kelaparan.

Melihat hal tersebut, Sunan Geseng langsung membagikan kue apem kepada penduduk sambil mengucapkan kalimat dzikir Qowiyyu yang berarti Allah Maha Kuat. Sejak saat itu, masyarakat setempat melestarikan tradisi upacara Ya Qowiyyu saat bulan Safar agar tetap kuat dalam mengarungi kehidupan.

Hm, rupanya kue apem kaya akan makna ya, Millens. Kamu pernah memakan kue ini nggak? (IB09/E04)