Mencicipi Steik Mahal, Kebutuhan atau Semata Gengsi?

Mencicipi Steik Mahal, Kebutuhan atau Semata Gengsi?
Steik, salah satu menu bergengsi di restoran. (Inibaru.id/ Artika Sari)

Steik menjadi sajian bergengsi dengan harga yang bervariasi. Namun, apakah semua orang mengonsumsinya karena memang membutuhkannya, atau lantaran mempertahankan gengsi?

Inibaru.id – Andre Prasetya sedang bosan makan di warung-warung sekitar indekosnya. Untuk mengatasi kebosanan ini, dia memutuskan pergi ke sebuah restoran steik di Sampangan, Semarang. Bersama sang pacar, dia mengisi makan malamnya dengan sepiring tenderloin.

Untuk berwisata kuliner, Andre mengaku bersedia mengeluarkan bujet hingga Rp 50 ribuan. Baginya, bujet itu sudah maksimal untuk memenuhi kebutuhannya mengeksplorasi cita rasa makanan.

Saya lantas bertanya apakah dia bersedia mengeluarkan ratusan ribu demi sepiring steik di restoran. Menurut pemuda 24 tahun itu, dia akan mempertimbangkan harga tersebut setelah melihat tempatnya.

“Rp 150 ribu wajar kalau di restoran dan hotel bintang lima karena mereka (pihak manajemen) menjual tempat. Tapi kalau segitu untuk restoran dengan interior dan pemandangan yang biasa saja, menurut saya, ya, lebai,” kata Andre.

Alih-alih mencoba steik seharga ratusan ribu, dia akan memilih restoran yang yang lebih murah. Dengan Rp 60 ribu, Andre mengaku pernah mendapatkan steik dengan rasa yang enak dan tampilan yang menarik.

Andre boleh bicara sebagai konsumen, tapi Rena Efendi punya pendapat lain. Asisten Manajer Steak.co ini mengatakan, konsumen di restorannya kebanyakan merupakan penggemar steik. Mereka bersedia merogoh kantong lebih dalam bukan karena gengsi, tapi kebutuhan.

“Menurut saya itu karena mereka terbiasa mengonsumsi steik dengan kualitas yang baik. Jadi, ya, mereka makan karena kebutuhan,” ujar Rena.

Mengeluarkan banyak uang untuk makan memang boleh-boleh saja, namun sesuaikan juga dengan isi kantong. Daripada mementingkan gengsi dan menyesal, akan lebih bijak kalau mengonsumsi makanan sesuai dengan kemampuan.

Murah bukan berarti nggak bergizi, kok. Asal pintar mengolahnya, kamu bisa mendapatkan steik yang lezat dengan bujet bersahabat. Sepakat? (Artika Sari/E03)