Satai Kere, Kuliner Tradisional yang Tetap Eksis

Selain satai klatak, di Yogyakarta juga ada satu kuliner tradisional berbentuk satai. Namanya satai kere. Rasanya cenderung manis namun tetap gurih. Sudah coba?

Satai Kere, Kuliner Tradisional yang Tetap Eksis
Satai kere terdiri dari satai gajih dan satai daging. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Inibaru.id – Selain berkelana ke lokawisata, saat mengunjungi suatu kota biasanya saya senang singgah ke tempat-tempat yang menjadi ikon kota tersebut. Maka saat belum lama ini saya berkunjung ke Kota Yogyakarta belum lama ini, saya pun menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu ikon Kota Gudeg itu.

Bukan Tugu Pal Putih atau Malioboro, melainkan Pasar Beringharjo. Yap, pasar yang sudah ada sejak 1758 itu memang dikenal sebagai surga belanja di Yogyakarta.

Eits, tapi tujuan saya ke Pasar Beringharjo bukan untuk belanja batik atau aksesoris lainnya. Melainkan untuk berwisata kuliner. Benar saja, saat saya menyusuri Pasar Beringharjo aroma satai yang sedang dibakar terasa begitu menggoda.

Kandungan lemak dalam gajih membuat api berkobar. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Itulah satai kere, salah satu kuliner tradisional khas Yogyakarta. Letaknya berada di pintu sisi selatan Pasar Beringharjo. Tepat di pintu masuk pasar.

Kurang Sepakat Disebut Satai Kere

Pedagang satai kere yang saya hampiri bernama Suwarni. Dia sudah berjualan satai kere sejak berusia belasan tahun hingga kini usianya beranjak 66 tahun. Saya terlebih dulu memastikan, apakah benar yang sedang dibakarnya adalah satai kere.

“Iya, tapi sebutan satai kere itu lebih tepat untuk zaman dulu. Sekarang zamannya sudah maju. Pembelinya sudah semakin berkecukupan. Masa mau disebut kere terus?” kata Suwarni.

Alih-alih tersinggung, dia justru mengajak saya berbincang seputar satai kere sambil membuatkan pesanan saya. Menurut Suwarni, dia lebih sepakat kalau satai dagangannya disebut satai sapi. Oya, satai kere sebenarnya adalah satai gajih. Konon karena itulah santapan ini dinamakan satai kere. Namun sekarang ada juga satai daging sebagai varian baru.

Suwarni saat membakar satai di lapaknya. (Inibaru.id/ Mayang Istnaini)

Saya memesan keduanya. Saat satai gajih dibakar, kandungan lemak membuat api berkobar. Hm, saya seperti sedang menyaksikan live cooking ala chef ternama. Ha-ha!

Rasa satai kere begitu kuat di lidah saya. Bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula jawa, dan kemiri meresap ke dalam daging. Rasanya cenderung manis namun tetap gurih. Bikin ketagihan!

Tertarik juga menyicipi satai kere yang gurih dan legit? Kalau berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa singgah dan cobain ya! (Mayang Istnaini/E05)