Kue Lompong, Si Hitam Manis dari Purworejo

Biar warnanya hitam, tapi kue yang satu ini rasanya manis-legit, lo. Namanya kue lompong. Menjadi kue tradisional khas Purworejo, Jawa Tengah, kue ini unik karena dibungkus dengan kelaras alias daun pisang kering.

Kue Lompong, Si Hitam Manis dari Purworejo
Kue Lompong Purworejo (masakandapurku.com)

Inibaru.id –  Kue lompong, pernah memakannya? Lidah kamu yang tinggal di Purworejo, Jawa Tengah, boleh jadi sudah kerap merasakan kelezatannya.

Kue lompong adalah kue khas Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kue ini berbahan dasar batang daun talas atau lompong, tepung merang, tepung ketan, gula pasir dengan isian tumbukan kacang tanah. Memiliki rasa yang manis, kue lompong memiliki keunikan tersendiri.

Apa itu? Keunikan dari kue lompong adalah pembungkusnya yang menggunakan kelaras atau daun pisang yang sudah kering  Cara membungkusnya seperti tempe bungkus daun ala kampung dan diikat dengan tali. Karena dibungkus daun pisang kering inilah rasa kue lompong menjadi semakin khas. Aromanya juga harum dan unik.

Mengutip liputan6.com (15/12/2015), beberapa pembuat kue lompong pernah mencoba mengganti bahan pembungkus asli dengan plastik atau bahan-bahan lainnya, namun hasil yang didapat adalah kue menjadi lengket. Kelaras yang dipakai juga harus kering secara alamiah di pohon pisang alias daun yang sudah tua dan mengering dengan sendirinya. Jadi bukan kering karena dijemur, lo.

Selain itu, keunikan lain kue legendaris ini adalah warnanya yang hitam. Ya, yang kali pertama kali melihat kue lompong akan merasa aneh karena jarang-jarang ada kue berwarna hitam. Eits, tapi coba dulu, rasanya yang legit dan kenyal dijamin bikin kamu ketagihan. Menjadi keunikan tersendiri, warna hitam kue lompong ini berasal dari tanaman lompong atau lumbu atau talas yang dilumatkan dan dicampur ke dalam adonan kue lompong tersebut.

Baca juga:
Gurih Manis Legit Si Putu Tegal
Kelezatan dari Sepiring Nasi Gandul Khas Pati

Penasaran cara membuatnya? Pertama-tama, batang talas dikupas bersih lalu dipotong kecil-kecil. Bahan dasar itu direndam hingga terbebas dari getah. Setelah itu batang talas lalu direbus hingga menjadi bubur. Selanjutnya, bubur batang talas disaring untuk diambil sarinya hingga menghasilkan warna kehitaman. Biasanya, untuk mendapatkan warna hitam yang lebih pekat, adonan itu dicampur tepung merang atau bubuk batang padi yang dibakar.

Lalu bagaimana dengan isiannya? Nah, untuk isiannya yaitu berupa tumbukan kacang tanah sangrai yang dicampur dengan gula merah. Untuk menjaga agar rasa kue lompongnya tetap enak, banyak pembuat kue lompong yang masih menggunakan peralatan tradisional.

Mereka menghaluskan kacang tanah dengan lumpang dan alu saat menumbuknya, bukan dengan blender. Hal ini dilakukan supaya kacang yang dihaluskan masih memiliki tekstur. Berbeda halnya jika menggunakan blender,  meski lebih efisien, namun kacang tanah yang dihasilkan akan sangat halus.

Selain itu, untuk mengukusnya juga masih menggunakan luweng yaitu tungku api yang berbahan dasar kayu. Ini dimaksudkan agar hasil kukusannya lebih merata. Alhasil kue lompong matang benar dan terasa legit ketika digigit. Pemakaian luweng ini juga agar kue lompong nggak mudah basi.

Oya, perlu kamu tahu, kue lompong ini bisa tahan lama, lo. Meski tanpa bahan pengawet, kue ini bisa bertahan hingga semingguan lebih. Semakin lama, tekstur kuenya akan semakin keras. Nah, kalau mau memakannya, kamu harus memanaskan terlebih dahulu dengan cara dikukus lagi. Karena tahan lama itu pula, kue unik ini sering kali dijadikan sebagai oleh-oleh khas Purworejo. Bahkan, ada juga para  pembeli yang memburu kue lompong untuk oleh-oleh saat bepergian ke Singapura, Amerika Serikat, dan Jerman. Wuih, jauh juga ya.

Baca juga:
Bukan Kualitas Para Kroco dalam Semangkuk Kraca Pemalang
Kebumen juga Produsen Telur Asin

Nah, jika kamu ingin mencicipi kue lompong, banyak tempat di Purworejo yang menjualnya. Mulai dari toko-toko kue hingga pedagang kaki lima. Harganya juga terjangkau. Rata-rata kue lompong ini dijual dengan harga Rp 3 ribu per biji. Murah, bukan?

Jadi, siapa bilang kalau kuliner tradisional kalah nikmat dengan jajanan kekinian? (IB05/E02)