Kue Keranjang, Legenda Raksasa Nian, dan Filofosi Kekeluargaan

Kue keranjang yang bentuknya sederhana itu selain memiliki cerita menarik tentang raksasa Nian, juga mengandung filosofi. Mau tahu?

Kue Keranjang, Legenda Raksasa Nian, dan Filofosi Kekeluargaan
Kue keranjang (Shutterstock/blog.reservasi.com

Inibaru.id -  Imlek tanpa kue keranjang ibarat orang membaca tanpa buku. Hmm, perbandingan yang memaksa, ya? Hehehe….

Tapi bagi orang Tionghoa, terutama penganut Tri Dharma (Tao, Buddha, Konghucu) kue keranjang adalah salah satu kue yang wajib ada sebagai sesajian untuk bersembahyang di Altar Abu Leluhur di rumah mereka. Namanya tradisi samseng atau sesaji tiga kurban.

Seperti ditulis nationalgeographic.co.id (8 Februari 2016), kue keranjang adalah kue khas yang selalu disajikan pada perayaan Imlek. Kue yang dalam bahasa mandarin disebut nian gao atau dalam dialek Hokkian disebut ti kwe dibuat dari cetakan kue berbentuk keranjang. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula yang menjadikan kue keranjang ini memiliki tekstur yang kenyal dan lengket.

Seperti sudah disebutkan, kue itu keranjang digunakan sebagai sesaji dalam upacara persembahan kepada leluhur, tepatnya pada tujuh hari menjelang dan pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Nah, kue sesajian ini biasanya nggak dimakan makan hingga hari Cap Go Meh atau malam ke-15 setelah sincia alias Tahun Baru Imlek.

Baca juga:
Penganan dan Bebuahan Orang Tiongkok saat Imlek
Kepincut Kesedapan Garang Asem Kudus

Dalam dialek Hokkian, ti kwe memiliki arti sebagai “kue manis” yang sering disusun tinggi bertingkat-tingkat dengan penyusunan dari bawah hingga atas semakin kecil. Itu memiliki arti sebagai peningkatan rezeki atau kemakmuran. Di negara asalnya, terdapat sebuah kebiasaan untuk menyantap kue keranjang ini terlebih dahulu saat Tahun Baru dengan harapan mendapatkan keberuntungan dalam pekerjaan .

Oya Millens, asal mula kue keranjang ini berhubungan dengan mitos yang lumayan serem, lo. Menurut legenda, pada zaman Tiongkok kuno, ada seekor raksasa bernama Nian yang tinggal di sebuah gua di gunung, dan akan keluar dari gua untuk berburu hewan ketika merasa lapar.

Pada musim dingin, hewan-hewan banyak yang berhibernasi dan membuat Nian ini turun ke desa-desa dan mencari korban untuk disantap ketika lapar. Banyak orang desa hidup dengan ketakutan kepada Nian selama beberapa dekade.

Akhirnya ada seorang warga desa yang bernama Gao memiliki akal cerdik dengan membuat beberapa kue sederhana dari campuran tepung ketan dan gula, kemudian diletakkan di depan pintu untuk diberikan kepada Nian.

Ketika Nian turun untuk mencari mangsa, Nian nggak lagi mencari manusia untuk dijadikan sebagai santapan namun menemukan kue-kue keranjang ini di depan pintu dan menyantapnya hingga kenyang dan kemudian pergi meninggalkan desa.

Warga desa pun senang terbebas jadi korban Nian. Nah, sejak saat itu, penduduk desa membuat kue keranjang pada setiap musim dingin untuk mencegah Nian memburu dan memakan manusia. Dan untuk mengingat jasa Gao, para penduduk desa menamakan kue ini sebagai "nian gao”.

Nah, selain legenda raksasa Nian, kue keranjang juga ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku alias Cau Kun Kong agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (Giok Hong Siang Te). Secara filosofis, kue keranjang yang terbuat dari tepung ketan dan memiliki sifat yang lengket memiliki arti persaudaran yang sangat erat dan menyatu. Rasa kue keranjang yang manis juga menggambarkan rasa suka cita, menikmati kerberkatan, kegembiraan, dan selalu memberikan yang terbaik dalam hidup.

Bentuk kue keranjang yang bulat dan nggak memiliki sudut juga mewakili makna yang mengagumkan. Bentuk bulat tersebut melambangkan sebuah pesan kekeluargaan tanpa melihat ada yang lebih penting selain keluarga dan akan selalu bersama tanpa batas waktu. Dalam hal ini juga membawa sebuah makna agar seenggak-enggaknya dalam setahun keluarga dapat berkumpul sehingga akan menciptakan kerukunan dalam hidup dan siap menghadapi hari-hari selanjutnya.

Baca juga:
Mengintip Sajian Tok Panjang pada Pasar Imlek Semawis 2018
Makanan Khas Imlek dan Maknanya

Tekstur dan daya tahan kue keranjang yang disantap pada saat Imlek ini memiliki arti filosofi. Tekstur kenyal merupakan simbol dari sebuah kegigihan, keuletan, daya juang, dan pantang menyerah dalam meraih tujuan hidup. Sedangkan untuk daya tahan kue keranjang yang begitu lama mempunyai arti hubungan yang abadi biarpun zaman telah berubah. Kesetiaan dan sikap tolong menolong penting banget untuk dapat mewujudkan pesan ini, sehingga walaupun waktu terus berjalan, rasa kekeluarga akan selalu terjalin dengan baik.

Proses pembuatan kue keranjang yang cukup lama, yakni 11-12 jam juga memiliki arti. Proses pembuatan itu mewakili rasa kesabaran, keteguhan hati serta cita-cita untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Hmm, walaupun bentuknya sederhana, kue keranjang memiliki filosofi yang sangat luar biasa, kan? Kamu yang nggak merayakan Imlek juga boleh kok menikmati kue itu. (EBC/SA)