Kopi Kopen di Angkringan; Rasa Sekelas Coffee Shop, Harga Tetap Kucingan

Kopi Kopen di Angkringan; Rasa Sekelas Coffee Shop, Harga Tetap Kucingan
Kopi Kopen juga merambah pedagang angkringan. (Kurniawan Yudhi)

Sebagian besar orang mungkin berpikir, produk kopi murni nggak mungkin ada di angkringan. Namun, produsen kopi asal Semarang, Kopi Kopen, menampiknya. Di beberapa angkringan, produk kopi mereka tetap berterima; harga tetap kucingan, tapi dengan rasa sekelas coffee shop.

Inibaru.id - Angkringan, atau di Kota Semarang orang menyebutnya kucingan, selalu identik dengan kelas menengah ke bawah. Semua hal yang dijual di situ selalu nyaman di kantong, mulai dari nasi kepal, mi instan, camilan, gorengan, hingga aneka minumannya seperti teh dan kopi.

Nah, menyoal minuman di angkringan, tentu saja kamu nggak bisa berharap banyak pada secangkir kopi yang kamu pesan di tempat tersebut. Kalau bukan kopi bubuk pabrikan, paling-paling kamu bakal ditawari kopi sasetan.

Namun, hal tersebut nggak berlaku di dua angkringan ini. Mereka pede saja menggunakan produk Kopi Kopen Semarang untuk disajikan dalam kopi mereka. Hasilnya pun katanya nggak sia-sia. Hal tersebut sebagaimana dikatakan Arief Rachmanto, salah seorang pemilik angkringan.

Semula, memang hanya ada kopi-kopi sachet yang ada di daftar menu angkringannya. Namun, suatu ketika saudaranya merekomendasikan Kopi Kopen untuk dipakai di kedainya. Rupanya, dia dan pelanggannya cocok dengan perubahan ini.

“Enak banget," ujarnya saat dihubungi Inibaru.id via telepon. "Kebetulan di angkringan kami banyak peminum kopi. Mereka cocok!" 

Angringan Arief Rachmanto. (Arief Rachmanto)<br>
Angringan Arief Rachmanto. (Arief Rachmanto)

Arief menambahkan, semenjak ganti kopi murni, para pembeli di angkringannya biasanya bakal balik lagi untuk ngopi. Para pelanggannya juga jadi lebih sering datang ke angkringannya.

Kemudian, terkait harga jual, Arief mengaku nggak melakukan perubahan apa pun. Dengan mengganti kopi yang dipakai, dia mengaku nggak mengeluarkan biaya lebih besar karena kalau disandingkan dengan kopi sachetan, harganya nggak jauh berbeda.

"Nggak jauh berbeda. Bedanya, rasanya sekarang lebih mantap!" kelakarnya.

Untuk saat ini, Arief baru mencoba satu merek keluaran Kopen Semarang, yakni Kopi Tulen Tjap Londo. Jenama kopi yang dikemas klasik itu memiliki dua varian, yakni Kopi Pahit dan Kopi Kecut. Keduanya ada di kedai Arief. 

"Ada Pahit, ada Kecut. Pahit itu (kopi) Robusta, Kecut itu Arabica," terangnya.

Ditawari Langsung

Angkringan Kurniawan Yudhi atau yang lebih akrab dengan ">
Angkringan Kurniawan Yudhi atau yang lebih akrab dengan "Mas Ompong". (Kurniawan Yudhi)

Jika Arief mengetahui Kopen Semarang dari saudaranya, Kurniawan Yudhi mengetahui produsen kopi yang beralamat di Jalan Dewi Sartika Raya No 9A itu langsung dari pengelolanya, yakni Dody Widhisusanto. Yudhi mengatakan, suatu ketika Dody tengah makan di angkringan kepunyaannya. 

Laiknya kebanyakan angkringan di Semarang, Yudhi saat itu juga hanya menjual kopi sasetan. Pemilik angkringan "Mas Ompong" itu kemudian mengaku terlibat obrolan seru seputar kopi dengan Dody. Dody kemudian malah menawarinya Kopi Kopen.

"Iya, ditawari untuk mencoba Kopi Kopen," ungkap Yudhi. "Saya iyakan. Hasilnya di luar dugaan. Alhamdulillah laris manis."

Menurutnya, banyaknya pelanggan di tempatnya nggak lepas dari kualitas yang ditawarkan angkringan miliknya yang berlokasi di Jalan Cinde, Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, itu. Yudhi membeberkan, rasa kopi murni beda dengan kopi sachet.

Sajian Kopi Kopen bersanding dengan makanan khas angkringan di Angkringan Mas Ompong. (Kurniawan Yudhi)<br>
Sajian Kopi Kopen bersanding dengan makanan khas angkringan di Angkringan Mas Ompong. (Kurniawan Yudhi)

Nggak hanya meminum kopi, beberapa pelanggannya bahkan kemudian memesan Kopi Kopen bubuk yang kebetulan kemasannya dia pajang di kedai. Perubahan ini, lanjutnya, cukup berdampak positif pada omzet di angkringannya.

"Sewaktu masih pakai kopi sachet, butuh dua minggu untuk menambah stok. Setelah memakai kopi murni, dalam seminggu saja saya sudah harus beli lagi," kata dia, semringah.

Hingga kini Yudhi mengaku masih berkomunikasi intensif dengan Dody. Bahkan, beberapa kali Dody juga memberi masukan kepadanya, gimana agar angkringannya terus berkembang. Dia kemudian juga diminta untuk upgrade, misalnya memiliki grinder (alat penggiling) kopi. 

“Disarankan untuk menggiling sendiri agar bisa membuat berbagai varian kopi seperti vietnam drip, cold brew, dan nggak lupa kopi susu gula aren yang lagi ngetren," terang Yudhi.

Sementara, untuk produk yang dipakainya, dia mengaku pernah menjajal hampir semua produk Kopen Semarang, mulai Kopi Kang Wawa, Kopen, dan Tjap Londo. Namun, seperti Arief, untuk saat ini dia mengaku lebih banyak memakai Tjap Londo di angkringannya.

Dia bersyukur pertemuannya dengan Dody memberi pengaruh yang baik untuk perkembangan angkringan di tempatnya. Dia juga lega dengan tanggapan positif yang selalu diberikan para pelanggannya.

"Angkringan ki ngene, kopine ora kalah karo coffee shop (angkringan itu begini, kopinya nggak kalah dengan coffee shop),” pungkas Yudhi, menirukan komentar seorang pelanggannya.

 Pada akhirnya, seperti kata penulis kenamaan Tanah Air Pramoedya Ananta Toer, biarkan karya membela dirinya sendiri. Ya, kopi yang berkualitas akan membela dirinya sendiri di hadapan para penikmatnya, kok! Ha-ha. (Audrian F/E03)