Kisah Bandeng Presto Juwana, 'Berenang' dari Pati hingga Jadi Oleh-oleh Kota Semarang

Kisah Bandeng Presto Juwana, 'Berenang' dari Pati hingga Jadi Oleh-oleh Kota Semarang
Ilustrasi: Bandeng presto jadi oleh-oleh Kota Semarang, padahal asli Juwana, Pati. (Dok Facebook Bandeng Juwana Elrina via Kompas)

Bandeng presto sering dikira sebagai oleh-oleh Kota Semarang. Padahal, bandeng presto asli Juwana, Pati. Nah, seperti apa sih sejarah bandeng Juwana sampai bisa jadi ikon kuliner Kota Semarang?

Inibaru.id – Kalau bicara tentang oleh-oleh Kota Semarang, bandeng presto pasti jadi salah satu yang disebut. Tapi sebenarnya, bandeng presto asalnya dari Kecamatan Juwana, Pati, lo.

Kamu mungkin heran kenapa malah dikenal sebagai oleh-oleh khas Semarang kalau nyatanya dari Pati. Ini sama seperti wingko babat yang juga berasal dari daerah lain namun sering dikira asli Semarang. Sebabnya, orang dengan mudah mendapatkannya di pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran.

Tempat ini menjadi destinasi wajib bagi pelancong untuk mencari oleh-oleh. Selain banyak pilihan, tempat ini juga mudah dijangkau. Di sana, ada juga toko yang menjual bandeng presto. Banyaknya orang yang membeli oleh-oleh ini, membuat bandeng presto terkenal dan dianggap khas Semarang.

Meski begitu, kalau kamu cermat, sebenarnya di toko-toko penjual bandeng presto ini tertulis jelas “Bandeng Presto Khas Juwana”. Yap, sebenarnya toko-toko ini nggak menutup fakta kalau bandeng presto yang mereka jual memang secara sejarah asli Juwana, Millens.

Ikan bandeng memang banyak dibudidayakan di kecamatan ini karena letaknya yang dekat dengan laut. Di sini juga, warga mengolahnya menjadi berbagai bentuk termasuk bandeng presto.

Disebut bandeng presto karena teknik pengolahannya menggunakan panci presto. Uap berkekuatan tinggi yang dihasilkan mampu membuat daging sekaligus duri bandeng lunak. Karena nggak perlu repot menyingkirkan duri ketika makan, bandeng presto disukai banyak orang.

Tugu Bandeng Juwana di Pati. (RadarMuria.com)
Tugu Bandeng Juwana di Pati. (RadarMuria.com)

Orang pertama yang membuat bandeng presto adalah Hanna Budimulya. Pada 1977, perempuan asli Juwana ini mendapatkan hadiah panci presto. Dia kemudian terpikir untuk memasak ikan bandeng yang memang mudah ditemukan di sana dengan alat masak ini. Tujuannya, tentu saja agar duri dari ikan bandeng jadi lunak. 

Awalnya, bandeng presto hanya diproduksi dalam jumlah kecil. Nggak disangka, masyarakat Juwana menggemarinya. Produksinya pun jadi semakin banyak. Nah, kebetulan Hanna juga punya toko di Jalan Pandanaran, Kota Semarang. Dari sinilah kisah bandeng Juwana jadi oleh-oleh Kota Semarang dimulai.

Di Pati, bandeng presto tetap jadi salah satu industri andalan. Menurut Kepala Seksi Bina Mutu dan Usaha Perikanan DKP Kabupaten Pati, Sriwati, pada 2020 lalu saja ada 40 Usaha pengolahan Ikan (UPI) di Kecamatan Juwana saja. Sebagian besar ditemukan di Desa Dukuhalit dengan kapasitas produksi bandeng presto 10 kg sampai 30 kg per hari, 30 kg sampai 50 kg per hari, dan lebih dari 50 kg per hari.

Mengingat rasanya enak, wajar ya kalau bandeng presto digemari banyak orang. Kalau kamu, apakah sudah mencoba bandeng presto oleh-oleh khas Semarang dan bandeng presto asli Juwana juga, Millens? (Kum/IB09/E05)