Perjuangan Seniman Kuntulan, Dulu Mengecoh Penjajah, Kini Melawan Punah

Perjuangan Seniman Kuntulan, Dulu Mengecoh Penjajah, Kini Melawan Punah
Kuntulan sudah ada sebelum kemerdekaan. (Desaku Pemalang)

Kuntulan muncul pada masa penjajahan. Berasal dari Jawa Timur, kesenian ini lahir untuk menjadi wadah berlatih seni bela diri. Sayang, di tengah arus modernisasi zaman, kuntulan kian ditinggalkan.

Inibaru.id – Kesenian merupakan salah satu media untuk menyampaikan ideologi hingga propaganda. Selain itu, kesenian ini menjadi alat pemberontakan. Nah, di Pemalang, Kuntulan menjadi salah satu kesenian yang digunakan untuk tujuan tersebut.

Kuntulan konon berasal dari Jawa Timur. Kesenian ini masuk ke Desa Donosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, pada 1942.

Pada masa penjajahan, Belanda melarang rakyat untuk berlatih bela diri. Ini tentu saja dilakukan agar orang-orang nggak menghimpun kekuatan. Supaya nggak menarik perhatian Belanda, para kiai mengajari santri mereka bela diri dan menggabungkannya dengan tari.

http://klareyan.desakupemalang.id/wp-content/uploads/2018/08/2018_0803_21130600.jpg

Sempat vakum selama 22 tahun, generasi muda Pemalang berusaha membangkitkan kesenian ini lagi. (Desaku Pemalang)

Sayang, hanya sedikit pemuda Desa Donosari yang berminat mempelajari kuntulan. Seorang sesepuh memutuskan mempelajari tarian ini dan menyebarkannya ke Desa Klareyan. Nggak disangka, pemuda di desa tersebut lebih antusias. Mereka akhirnya mempelajari dan mempopulerkan kuntulan di pelbagai acara hajatan.

Selain sebagai media untuk belajar bela diri, kuntulan juga menjadi media hiburan. Sekali tampil, terdapat sebanyak 30 penari. Ini belum ditambah jumlah penyanyinya, lo. Sayang, seiring berjalannya waktu, kuntulan semakin ditinggalkan. Kini, kesenian ini pun jarang muncul di Pemalang.

Sebagai generasi muda, kamu mungkin bisa berkontribusi melestarikan kesenian Pemalang dengan mempelajari kuntulan. Jangan biarkan budaya lokal mati di daerah sendiri ya! (IB15/E03)