Kalahkan Rawit, Pedasnya Cabai Gendot Dieng Ini Siap Bakar Lidahmu

Kalahkan Rawit, Pedasnya Cabai Gendot Dieng Ini Siap Bakar Lidahmu
Cabai gendot Dieng. (Kompas/Nazar Nurdin)

Kalau menurut kamu rasa pedas cabai rawit sudah mainstream, coba deh cicipi sensasi pedasnya cabai gendot dari dataran tinggi Dieng. Penampilannya boleh saja unyu, tapi dijamin memberi kepedasan yang dahsyat. 

Inibaru.id – Meskipun pergelaran Dieng Culture Festival sudah rampung, kamu masih boleh kok mengunjungi dataran tinggi di Wonosobo ini. Nah, salah satu buah tangan yang bisa kamu bawa pulang selain carica dan purwaceng dari sana adalah cabai gendot.

Cabai gendot ini berukuran mini dan gendut. Permukaan kulitnya agak meliuk dengan tekstur yang halus. Sementara rasanya disebut-sebut lebih pedas daripada cabai rawit. Dijamin bikin lidah dan mulutmu terbakar deh! O ya, penampilannya unik cabai ini juga membuatnya cocok menjadi tanaman hias.

Ketika mengunjungi kawasan Dieng Plateau di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, kamu bakal menemukan cabai gendot banyak ditanam. Walau gemas dengan bentuk cabai ini, kamu jangan asal petik ya. Kamu bisa kok membelinya secara eceran di warung ataupun toko oleh-oleh di Dieng.

Kalau diperhatikan, bentuk cabai gendot mirip dengan paprika. Bedanya, jika paprika nggak pedas, ada yang menyamakan rasa pedas cabai gendot dengan cabai habanero. FYI, cabai habanero berupakan cabai yang berasal dari pedalaman Amazon di Amerika Selatan dengan tingkat kepedasannya mencapai 350.000 skala Scoville. Jauh jika dibandingkan dengan cabai rawit yang hanya 100.000 skala Scoville. Wah, pedas banget kan?

Bagi sebagian orang, makan pedas memang bikin lebih nikmat. Tapi kalau lagi nggak pengin terlalu pedas, kamu bisa membuang biji-biji berwarna hitam dari cabai gendot. Menurut masyarakat sekitar, bagian inilah yang bikin pedas terasa sangat menusuk.

Cabai gendot biasa dijadikan oleh-oleh khas Dieng. (Kumparan/Dewi Rachmat Kusuma)
Cabai gendot biasa dijadikan oleh-oleh khas Dieng. (Kumparan/Dewi Rachmat Kusuma)

Ditanam di ketinggian sekitar 6.802 kaki, cabai gendot tumbuh dengan sangat subur di kawasan ini. Berhubung identik dengan wilayah ditanamnya yaitu Dieng, cabai gendot juga sering disebut dengan cabai Dieng. Bukan cuma dijual dalam bentuk segar, tersedia juga cabai gendot yang dijadikan manisan.

Di Dieng, cabai gendot juga dijual secara grosir. Harganya sekitar Rp 40 ribu per kilo. Hm, sepertinya bisa jadi alternatif saat harga cabai rawit dkk  masih ampun-ampunan ya?

Biar nggak menyesal, sekalian saja beli hasil tani lainnya, seperti aneka jenis kentang dan olahannya, carica, terong Belanda, dan jamur. Kalau sudah begini, kunjunganmu pasti bikin senang warga Dieng deh.

Gimana, tertarik nggak untuk mencicipi level pedas cabai gendot, Millens? (Siti Zumrokhatun/E07)