Jarang Ditemukan, Bucu Jadi Pengganjal Perut yang Mengenyangkan

Jarang Ditemukan, Bucu Jadi Pengganjal Perut yang Mengenyangkan
Bucu yang dimakan bersama lodeh bongkrek dan tahu. (Wasdhi.blogspot)

Pada masa penjajahan, bucu menjadi bentuk pelarian masyarakat Batang, Jawa Tengah mengatasi rasa lapar. Kini, meski jarang dijumpai, makanan ini kadang masih dijual di pasar tradisional. Seperti apa rasanya?

Inibaru.idMillens, adakah nasi di rumahmu? Jika kamu masih bisa menyantap nasi hari ini, itu menjadi salah satu hal yang patut kamu syukuri. Seiring dengan diimpornya beras, bahan makanan ini mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia.

Harganya pun masih bisa dijangkau semua kalangan. Bayangkan seandainya kamu hidup di masa penjajahan, menyantap nasi adalah sebuah kemewahan.

Pada masa itu pula, masyarakat Kabupaten Batang, Jawa Tengah, memilih bucu sebagai pengganjal perut. Bucu terbuat dari singkong yang diparut, kemudian dikukus. Supaya makan makin lahap, sayur lodeh bongkrek (tempe gembus) dan sambal kacang jadi pelengkapnya. Rasanya? Hm, mirip nasi! He-he.

http://4.bp.blogspot.com/-6JBhPaDwzl0/UqExnx7PP9I/AAAAAAAAAOM/hcwCh7iPYv4/s1600/Image0413.jpg

Bucu menjadi panganan alternatif pada zaman penjajahan. (wasdhi.blogspot)

Kini, bucu nggak selaris dulu. Kendati nggak lagi memiliki banyak peminat seperti dulu, bucu bukannya nggak ada, lo. Kalau kamu penasaran mencicipi rasanya, makanan ini bisa kamu temukan di wilayah Kecamatan Bandar. Dengan harga Rp 500 per bungkus, makanan ini murah banget kan?

Penasaran? Selamat berburu ya, Millens. Semoga bisa menemukannya! (IB15/E03)