Huh-Hah! Nikmati Sensasi Pedasnya Mangut Welut Bu Nasimah Semarang

<em>Huh-Hah!</em> Nikmati Sensasi Pedasnya Mangut Welut Bu Nasimah Semarang
Satu mangkuk mangut welut Bu Nasimah. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Weekend itu saya sengaja datang sangat pagi untuk pergi Warung Mangut Bu Nasimah yang berada di Jalan Menoreh Raya nomor 10B Semarang. Niat utama saya adalah untuk menikmati mangut welut yang kata seorang kawan pedasnya nggak ketulungan. Benar nggak ya?

Inibaru.id  – Mangut merupakan makanan khas dari Pesisir Utara Jawa yang berbahan dasar ikan. Jenis ikan yang sering digunakan adalah ikan pe. Berbeda dengan mangut kebanyakan, mangut di warung Bu Nasimah dibuat dengan bahan dasar welut atau belut.

Niat saya pun kesampaian. Satu porsi mangut welut terhidang di depan saya lengkap dengan nasi dan es teh. Secara penampakkan, kuah mangut ini berwarna hitam dengan kaldu cokelat kemerah-merahan berisi lima potong belut sepanjang jari telunjuk. Saya menyecap sedikit kaldu kentalnya. Pedas lombok langsung menyengat lidah saya.

Ketagihan, saya mendaratkan satu potong welut di atas nasi ditambah dengan kaldunya. Welut terasa empuk, rasa cabai rawitnya juga semakin kerasa. Pedasnya seperti saat kamu nyeplus lombok tanpa ditemani gorengan. Lidah saya yang nggak terbiasa dengan pedas seperti berteriak "huh-hah-huh-hah" dan membuat pelipis keringetan. Padahal menurut Sugiyati, anak ketujuh sekaligus anak terakhir Bu Nasimah pedasnya relatif lo, Millens.

Pedes-nya nggak ada levelnya. Pedes-nya sudah standar pedes. Ibaratnya standar SNI warung sini, nggak sampai pedes pol. Ada yang bilang kurang pedes, kita tambah sambal. Kita nggak ngitung cabainya berapa. Kita ukurannya kalau belutnya masak sekian, bumbunya sekian,” katanya.

Untuk mengurangi rasa pedas, baiknya menu mangut welut ini kamu makan bersama nasi. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Tenang saja Millens, jika kamu merasa makanan ini terlalu pedas, kamu bisa kok menambahkan kecap untuk mengurangi tingkat kepedasannya. Atau kamu juga bisa menetralkan rasa pedas dengan memakan kerupuk, kandungan minyak dalam kerupuk dipercaya mengurangi rasa pedas. Tersedia pula isi ulang teh dan air putih langsung di atas meja jika minuman kamu habis karena kepedesan.

Setelah saya perhatikan dengan saksama, rasa daging belut ternyata hampir sama dengan rasa ikan pe yang pernah saya makan. Kulit ikan pe setelah diasap pun sama-sama gelap pekat seperti belut, berdaging putih, dan menyisakan tulang yang khas. Masakan yang kaya akan protein ini juga nggak amis lo, mungkin karena teknik pengolahannya yang benar, ditambah bumbu yang kental. Mantap!

Kendala yang Sugiyati dan karyawannya hadapi dalam membuat mangut welut adalah terkait pasokan. “Kalau pasokannya yang susah belut, kadang langka. Ikan manyung kadang juga langka. Tinggal pintar-pintar mengantisipasi,” kata Sugiyati.

Satu porsi mangut welut bisa kamu dapat dengan harga Rp 25 ribu. Eits, itu belum termasuk nasi dan minuman ya. Menurut saya sesuai dengan rasa, pengolahan, dan citra legendarisnya, harga tersebut wajar. Jadi, kalau kamu kebetulan ke mari, wajib mencicipinya ya! (Isma Swastiningrum/E05)

Tags : #Semarang